Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Kembali Dipertemukan


__ADS_3

"Kita pulang ya sayang! Bima dari mana saja? Bunda hampir tidak berdaya, kamu hilang nak?" sembab Reina masih memeluk Bima.


"Bunda menangis seharian ini ya! maafin Bima bun! Bima tadi salah ikutin orang, bajunya sama kaya Bunda. Terus ada Oma bawa Bima, ke tempat ini. Bima ga apa apa kok bun. Bunda jangan nangis lagi! kan Bima udah disini." senyum polosnya, tanpa tahu saat itu Reina hampir gila mencari keberadaan anaknya.


Azam menatap ibu paruh baya itu, kelu dan pasi menyadarkan Reina untuk menoleh siapa ibu paruh baya itu. Azam masih mengenali bagaimana paras itu, dan ia cukup intens menatap tajam ke arah Azam. Bahkan Reina sendiri lupa pada sosok yang berdiri saja disana!


"Rein, ... lihatlah!"


Reina yang mendongak, menoleh kala Azam sudah menciumi tangan ibu paruh baya itu. Reina sendiri sontak syok! ia berdiri tapi masih memegangi erat tangan Bima tidak terlepas. Reina sendiri maju dan benar benar rindu, lima tahun lalu ia bagai hidup tanpa arah, sebuah kata 'Kamu bukan putri kami. Reina kami tidak punya anak yang memalukan seperti kamu, kamu bukan lagi anak ibu dan ayahmu,' masih jelas kata kata itu terngiang di kuping, Reina yang bersedih tanpa langkah kebingungan harus kemana.


"I-Ibu ... " lirihnya bergetar, sesekali mengusap air mata yang hampir jatuh, ingin rasanya Reina memeluk. Tapi saat itu ibu paruh baya itu meminta Reina stop di tempatnya, seolah bagai pedang yang menusuk kembali, Bima sendiri masih dalam pelukan dengan telapak tangan Reina yang memegang untuk menutupi, berusaha tidak mengerti apa yang orang dewasa bicarakan.


"Jadi dia anakmu! jaga baik baik! Jangan sampai diculik seseorang, jauhi juga parasit jika kamu ingin tenang Reina!"


Reina sendiri bahkan tak di izinkan mencium tangan ibunya, ibunya berhasil membuat luka lama Reina benar benar menjadi anak durhaka yang membuat malu, bahkan melewatinya tanpa kata kata lagi setelah mengembalikan Bima. Entah bagaimana bisa Bima dengan ibunya, yang saat ini Reina belum siap menanyakan banyak hal pada Bima kala itu.


"Ibu, apa tidak jelaskan semuanya. Aku rindu padamu bu." Reina berharap, pada ibu Milen yang sudah setengah tua itu.


Huhuhu! Tangisan pecah, membanjiri tidak perduli orang orang melihatnya. Azam yang mengejar ibu Milen, membuat Reina bungkam seribu basa.


"Bunda .. Oma itu baik loh, dia jagain Bima dari orang yang mau jahatin Bima. Tadi Bima dibawa sama orang, mata Bima ditutup gini bun! tapi Oma tadi teriak dan lepasin Bima gitu aja, Bima di ajak sama oma tadi muter muter cariin Bunda. Maafin Bima ga hafal alamat rumah! Bima kasih nomor bunda, katanya Oma mau anterin Bima ketemu Bunda."


Deg.

__ADS_1


Jadi benar anaknya itu hampir di culik, tapi kenapa bisa ibunya berada disekitar sekolah anak Reina. Reina senyum, ia yakin sebenarnya ibunya mencarinya, diam diam mengawasi kehidupannya sama hal seperti Reina yang ingin memeluk, tapi tak sanggup.


"Bima lain kali hati hati ya! mulai sekarang, Bunda akan masuk kalau di dalam pria semua gimana?" tawa pecah Reina agar Bima tidak ikut merasakan sedih.


"Ga boleh dong Bunda! Malu tau. Kan Bima dah gede, nanti Bima gigit tangan orang itu lebih keras. Tunggu sampai Bima dewasa ya bunda! Bunda jangan nangis, nanti Bima lawan orang yang bikin Bunda nangis."


"Sayang bunda .." memeluk.


"Bunda udah dong peluknya! Bima kan seorang pria. Malu bunda .. bunda ayo cari paman Azam. Bima suka sama paman Azam soalnya."


Deg.


Sebegitu kah ikatan batin. Bima baru mengenal Azam, sudah akrab membuat Reina lupa dirinya sudah lama menemani selama empat tahun. Bahkan kali ini mata Reina menoleh melihat sekitar, karena tidak mendapatkan keberadaan Azam. Reina pun meminta Bima ikut masuk, dan menjadi imamnya di mesjid itu.


"Bunda tungguin paman Azam! paman itu juga sedang ibadah, paman doa apa ya bunda? kok lama ... banget?" menunjuk kaca.


Reina menengok pun, ia terdiam ketika Azam salah satunya ada disana. Bahkan ia tak bisa menjawab perkataan Bima saat ini. Reina hanya ingin hidup dengan kedua anak anaknya dengan damai, tapi mengingat dirinya tidak boleh egois. Apa Reina sanggup memberi luang untuk Azam kembali hadir, demi kedua anak anaknya. Bahkan seantusias itu Bima, menatap Azam dengan wajah yang berbinar tak pernah ia lihat sebelumnya, wajah Bima saat ini.


"Bima boleh bunda tanya?"


"Boleh dong Bunda."


"Bima kenapa dekat sama paman Azam? sejak kapan, setahu bunda. Bima itu ga mudah loh deket sama orang asing?"

__ADS_1


"Hehehe. Bunda aneh deh! Bunda .. Bunda .. Bima pengen rasain kalau paman Azam itu papah Bima. Kayak papah papah temen Bima di sekolah bunda. Mereka jemput dan liatin papahnya ke kita! seru kan?"


Deg.


Hati ibu mana yang tak ngenes, Reina egois selama ini, kedua anak anaknya biasa saja di depannya, meski menjadi ibu tunggal sekalipun tetap saja kedua anak anaknya perlu sosok ayah, tapi jika mereka dewasa tahu mereka lahir sebelum pernikahan terjadi. Apakah Bima dan Kanya akan membencinya, sama hal seperti saat ini. Rasanya tidak sanggup jika kelak, kedua anak anaknya menyalahkan dirinya kenapa mereka bisa tidak punya ayah!


'Ya Rabb! sungguh berat, baru saja aku bertemu ibu dengan sikapnya yang masih acuh seperti dulu. Kini ketakutan ku adalah kehilangan kedua anak anakku, ia akan sama membenciku seperti kedua orangtuaku, kenapa mereka bisa lahir tanpa seorang ayah?' batin Reina penuh dengan ketakutan mendalam.


Eheum.


"Maaf paman lama, Bima sudah selesai shalatnya?" mensejajarkan posisinya pada anak itu.


"Udah dong paman! ayo paman anterin kita pulang! Bima capek nih." senyumnya, Azam seolah melihat dirinya kecil di balik senyuman itu, sudah pasti tidak bisa mengelak kala itu ia darah dagingnya.


"Ayo boy!"


Azam merentangkan satu tangannya, Bima pun merangkul tangan kiri Azam, meski satu tangannya lagi yang kanan, berada di tangan sang Bunda. Mereka jalan dengan posisi bergandengan tangan, si kecil itu pun berada di tengah. Berjalan dengan bahagia, senyum menoleh ke arah kiri kanan, yang sudah pasti saat itu ke arah Reina dan Azam. Bahkan Azam pun amat senang, jika jembatan dirinya sudah di respon.


Sehingga Reina sendiri hanya malu, masih dengan Azam yang menatapnya dalam. Seolah gandengan ini adalah sebuah keluarga sebenarnya.


'Aku tidak tahu, kenapa takdir ini begitu pahit. Kenapa harus melahirkan di luar pernikahan. Jika kedua anak anak dewasa tahu, bagaimana dirinya lahir.' batin Reina masih menatap langit yang gelap penuh bintang.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2