
"Karena itu kamar keramat kami, tidak bisa musnah selain dibakar dan jasad mereka diungkap!" ujar sosok itu tertawa menyeramkan.
Dalam hitungan detik mata Melin kembali terbuka dan kali ini ia tidak berada dalam permainan mereka.
Angin semilir ini Melin rasakan, bau dedaunan dan kulitku yang aku cubit sendiri sudah aku rasakan juga.
"Ah, aku kembali dalam duniaku sendiri. Kalian sangat menyebalkanku."
Aku melemparkan tubuhku keranjang empukku ini. "Rasanya capek sekali, badanku remuk. Ah..."
Aku kembali berdiri menatap mereka yang selalu tertawa dengan berisik.
"Diam!" pinta Melin pada sosok yang tertawa.
Brian terdiam melihat Melin, dan akhirnya paham dengan mereka.
"Baiklah kalian diam! Berisik sekali."
Suara sosok besar di belakang empat karyawan hotel itu, tiba-tiba mengejutkan Melin, yang sangat serius memperingatkan kepada penjagaku.
"Gimana, lo udah tahu?" tanya Brian.
__ADS_1
"Dia menempati kamar itu yang diyakini itu rumahnya, kamar itu ada lubang. Ada seratus orang manusia dikubur hidup hidup! jadi bongkar dan bakar! aku rasa kalian butuh tim sar dan polisi."
"Hey, itu sama aja mematikan pencaharian kami." ujar salah satu karyawan hotel.
"Pilihannya adalah itu, mau mati tidak bisa bekerja. Atau mati menjadi tumbal mereka selanjutnya!" cetus Melin.
Aku segera menuruni tangga dengan sangat cepat. Kembali lagi pandanganku tertuju sosok nenek nenek dengan suru di mulutnya yang terus dikunyahnya. Dia adalah salah satu korban mayat yang dibuang hidup hidup ke dalam lorong, salah satu kamar hotel.
Bayangan hitam itu terus menggelengkan kepalanya di terasku, ketika aku melihat sosok nenek itu, yang secara mengejutkan menampakkan dirinya.
"Aku sudah capek, jangan memperlihatkan lagi wujud kalian! Sangat menyebalkan." teriak Melin, membuat Brian pucat pasi.
"Kamu, nenek tua menyebalkan. Pergilah! Aku tidak bisa fokus karena kamu."
Nenek itu dengan lirikan tajamnya akhirnya pergi dan menghilang. Namun, aku merasakan sesuatu yang sangat berat berada di leherku.
Aku terus memegang leherku yang secara tiba-tiba menjadi kaku dan menegang.
"Melin, dia ganggu lo ya?" tanya Brian.
"Dia minta tulangnya ditemukan dan dikubur secara layak! hanya pilihannya itu pamanmu Brian! apa dia mau membuat hotel ini gempar dengan berita asli nantinya."
__ADS_1
"Ah, iya gue paham."
Dia wanita berbaju putih itu tidak memperlihatkan senyuman menyeramkan lagi. Dia seperti berlari menghilang dari hadapan Melin.
Brian, terheran dengan ini semua. Apa yang terjadi dengan mereka. Ah, aku tidak akan mencari tahu. Paling tidak hidupku akan tenang dalam sehari tidak bertemu mereka.
Tapi tiba tiba Melin, dan Brian merasakan sesuatu yang sangat berat. Semua buluku kembali berdiri dan perasaan sangat tidak enak.
Baru aku menyadari, bau tanah kuburan datang menusuk hidungku. Iya tanah yang masih basah dan segar bercampur bau bunga kematian yang biasa mereka taburkan saat terakhir memakamkan seseorang.
"Bau apa ini tidak enak banget ya, busuk. Apa ada bangkai tikus ya?" Brian melihat semua kolong kursi dan mencari asal bau itu.
"Iya, bau apa ini ya sangat menyengat." Melin yang mengambil senter ikut mencari dengan melihat semua ruangan.
"Aku akan coba melihat di belakang."
Melin menghentikan langkahnya. Hatiku kali ini bergetar sangat luar biasa. Ketika mata batinku melihat sesosok tinggi dengan kain kafan berdiri di hadapanku terdiam sangat menyeramkan.
Yah kain kafan penuh dengan tanah yang berbau busuk seperti bangkai mampir ke dalam salah satu ruangan hotel.
"Wujud, apa itu?" gugup Brian menepuk bahu Melin, kala sosok itu berada di depan Melin.
__ADS_1
Tbc.