
Arg ..
Teriak arwah Brian, dimana ia melihat jelas Melin dan Diva berada di tempat ramai, jadi ini mengapa ia mengikuti Melin, karena dirinya pernah hidup bersama dan menikah, menjalani kehidupan tak biasa.
"Melin kenapa kamu tidak katakan, aku adalah arwah suamimu. Lalu kamu sudah menikah dengan Diva?" Brian mencoba menghilang ingin ke makam nya, namun tetap saja kembali ke rumah tua tersebut.
Sehingga arwah Brian kembali memekik telinga, dan kembali ingatan mirip layar transparan dengan begitu jelasnya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02:00. Tubuh Melin saat itu pun semakin hangat, dan ia juga menggigil kedinginan. Suara rintihannya membuat Brian terbangun dari tidurnya.
"Melin." kata Brian. Brian pun memutuskan untuk langsung menghampiri Melin ke kamarnya. Melin sengaja mengunci pintu kamarnya, namun ia lupa, Brian punya ilmu kekuatan menghilang.
Brian pun langsung tercengang saat melihat sekujur tubuh Melin menggigil. Rasa panik dan khawatirnya semakin menjadi, ditambah wajah Melin yang pucat membuat ia menangis.
"Melin, bangun," ucap Brian, namun Melin tetap tidak menggubris. Brian pun berusaha untuk menyentuh Melin namun tidak berhasil.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Brian kebingungan. Ia tahu Melin sedang kesakitan. Keadaan seperti ini benar-benar membuat ia sangat sedih.
"Aku mohon Dewa bantu aku," pinta Brian dengan tangis. Brian sungguh sangat merasa khawatir, hingga keajaiban pun terjadi, Brian bisa menyentuh Melin.
"Mel, apa ini? Apa aku bisa menyentuh, Melin?" tanya Brian tidak percaya. Perlahan Brian pun mencoba menyentuh Melin lagi dan ternyata bisa. Brian sungguh sangat merasa bahagia dan kembali membuatnya menangis. Brian pun langsung mengambil kain dan air hangat untuk mengompres demam Melin.
Brian menjaga Melin sepanjang malam, hingga membuatnya tertidur tepat di samping Melin.
Entah ada angin apa, sehingga alam membuat Brian merasa bahagia. Dan itu amat membuat Brian terkejut bukan main. Seorang arwah bisa menyentuh yang bernyawa.
Keesokan paginya, saat Melin membuka mata, Melin menyadari ada sesuatu yang melekat di dahinya. Melin pun meraihnya lalu melepaskannya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Melin kebingungan, Melin pun langsung menoleh dan melihat Brian yang masih tidur.
"Brian .. !" ucap Melin tidak percaya. Selain Brian, tidak ada orang selain dirinya. Melin pun mencoba untuk menyentuh Brian, namun tidak bisa. Melin kembali merasa sedih, Brian yang langsung tersentak langsung bangun dan melihat Melin yang kini sedang memandangi dirinya.
"Melin, apa kamu sudah baikan?" tanya Brian.
__ADS_1
"Hem, apa Kamu yang sudah mengobati ku?"
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Brian. Lalu Melin mengambil handuk kecil yang tadi melekat di dahinya.
"Lalu, siapa yang melakukan ini?" tanya Melin lagi, dan Brian pun langsung ingat bahwa ia bisa menyentuh Melin. Dengan semangat Brian langsung beranjak berdiri.
"Tadi malam aku bisa menyentuh kamu, Mel, sungguh!" kata Brian semangat. Melin pun percaya hingga ia merasa terharu.
"Coba lakukan sekarang. Apa, Kamu masih bisa menyentuhku," saut Melin, lalu menyodorkan tangannya.
Perlahan Brian pun mencoba untuk menyentuh Melin lagi, Brian sungguh sangat merasa gugup hingga membuat bisa gemetar.
Perasaan kecewa pun langsung menyentuh mereka, sebab Brian kini sudah tidak bisa menyentuh Melin lagi. Brian sungguh sangat merasa sedih hingga ia menangis.
"Kenapa Dewa, kenapa Dewa melakukan ini," kata Brian kecewa.
"Tidak apa-apa. Kamu, jangan menangis, aku percaya Kamu bisa menyentuhku, itu saja sudah lebih dari cukup," saut Melin.
Brian yang menembus pintu, membuat Melin menarik gagang pintu mengejar Brian.
"Brian, Brian tunggu ...!"
Hingga pagi itu, pukul 04.30 dini hari, Melin berlari mengejar Brian. Namun tanpa melihat kanan dan kiri, membuat Melin menutup mata akan cahaya silau!!
Sriiith ...
Braaaagh ...
Brian terperosok kaget, kala Melin tertabrak mobil truk. Brian begitu bodoh, tidak tahu jika Melin akan mengejarnya.
'Melin, ayo bangun Melin!' teriakan Brian kala itu menembus bagai asap.
"Kita nabrak wanita pak." salah satu teman supir.
__ADS_1
Tak lama beberapa warga datang, menyaksikan dan supir menenangkan ia tak sengaja dan akan bertanggung jawab. Salah satu tetangga yang mengenal Melin, menjadi saksi dan menghubungi Diva.
"Bawa ke rumah sakit, yang mau ikut boleh. Saya akan bertanggung jawab." ucap supir paruh baya itu yang agak panik.
Supir yang menabrak Melin, langsung membopong Melin menuju rumah sakit. Brian pun ikut serta mendampingi. Meski tak terlihat, hingga sampailah sebuah cahaya membuat Brian menoleh silau itu.
'Melin, kamu kenapa disana? lalu di depanku ini?'
'Brian, kita kembali bersama. Jasadku akan kritis, selagi aku bisa sepertimu. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi.' Melin bergema di alam bawah sadarnya.
Dengan tanpa alasan, Brian berdiri dan benar ia bisa menyentuh Melin.
'Aku sekarang ingat, kehidupan kita pernah bersama. Dan masa kritis, ikutlah denganku Melin!' ujar Brian, yang menarik tangan Melin menuju silau cahaya besar yang semakin mereka tuju semakin mengecil.
"Aku tidak tahu, dan akhirnya kamu bisa ingat aku. Aku sudah jadi milik Diva, intel yang menolong kita, setidaknya di saat kritis aku bisa ikut denganmu Brian. Sisanya kita bisa bersama hanya tangan Tuhan yang bekerja, maaf jika aku tidak bisa lama, tapi aku akan menemani kamu ke jalan yang benar, cahaya sebenarnya kamu tinggal!" lirih Melin, membuat mata Brian tak percaya.
"Setelah aku ingat semua, kamu ingin aku pergi sendiri?" protes Brian.
"Aku merasa aku belum benar benar mati sepertimu, aku hanya kritis Brian. Maaf!" lirih Melin penuh air mata.
***
Sementara di ruang berbeda, Diva dan kedua orangtuanya masih menatap ranjang rumah sakit. Terlihat Melin, kritis dengan banyak selang infus.
"Yang sabar ya Diva, Melin pasti selamat." ucap mama.
"Kalau enggak gimana mah? Diva cuma punya Melin, andai Diva enggak sibuk kerja terus." serak tangis Diva, takut kehilangan Melin.
Dan tak lama sang dokter mencopot selang infus, dokter membuka alat medis maskernya, lalu mendekat ke arah Diva dan ibunya.
"Bagaimana dokter? Keadaan Milen bagaimana, katakan pada saya dok!"
TBC.
__ADS_1