Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Arwah Amnesia


__ADS_3

Dari tampang Milen bicara, membuat Brian penasaran dan ingin membuktikan ucapan Milen.


Milen pun mulai beraksi, terus terang ia sama sekali tidak bisa memasak, hanya memasak ramen saja ia harus televisi.


Tidak butuh waktu lama, ramennya pun kini siap untuk disajikan. Milen membawa dua mangkok ke ruang tamunya, lalu menghias dengan potongan telur.


Setelah meletakkan di meja, Milen kembali mengambil dupa listrik lalu meletakkan di dekat ramen, agar Brian bisa memakan ramen tersebut.


"Silahkan dicicipi, Kak. Ramen buatan aku tidak akan mengecewakan," ucap Milen penuh percaya diri. Dari penampilan ramen nya membuat Brian sedikit yakin. Brian pun langsung meraih sendok dan garpu dan mulai menyicipi kuah ramen itu.


"Asin banget!" ketus Brian dalam hati. Ia tidak ingin mengatakannya, ia menunggu Milen mengatakan sendiri.


Dengan penuh percaya diri, Milen pun juga melakukan hal yang sama. Ia mulai mengambil sedikit kuah, lalu mencicipinya. Tiba-tiba wajah yang penuh percaya diri itu, langsung berubah kecut, Brian yang menyadari itu, sekuat hati untuk menahan tawanya.


"Sial, asin banget!" ucap Milen dalam hati, ingin rasanya ia membuangnya, namun Milen merasa malu. Ia juga tidak memiliki keberanian menatap Brian, Milen tahu Brian juga merasakan hal yang sama. Milen sangat merasa menyesal, sudah memuji diri secara berlebihan di depan Brian.


"Apa rasa ramen zaman sekarang juga sudah berubah," ucap Brian menyindir dengan halus, mendengar itu membuat Milen kaget sampai ia batuk tersedak.


"Kamu tidak kenapa-napa, Mil?" tanya Brian panik.


Milen pun langsung meneguk air putih, ia sungguh sangat merasa malu, kehormatannya kini sudah tercoreng. Sehingga ia tidak dapat mengatakan apa-apa. Apalagi melihat wajah Brian.


Milen pun langsung mengambil mangkuk Brian lalu membawanya ke dapur.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Brian kebingungan. Brian pun mengikuti Milen ke dapur.


"Kita makan yang lain saja," jawab Milen yang berusaha menutupi rasa malunya.


Tidak ingin membuat Milen semakin merasa malu, Brian pun hanya bisa menyetujui perkataan Milen.


Milen pun mengeluarkan ponselnya, dan langsung memesan makanan.


"Apa yang ingin, Kakak, makan? Aku akan memesan makanan online," tanya Milen lagi.

__ADS_1


Brian pun langsung melihat menu dari layar ponsel Milen, saat Brian mendekatkan wajahnya, Milen bisa melihat wajah Brian dengan jelas. Pipi Brian yang sedikit berisi, hidung mancung, alis yang rapi, bulu matanya lentik dan juga bibir yang indah sebagai pria.


"Sial!" batin Milen, ia seakan mengumpat diri sendiri yang terpana dengan seorang arwah suaminya sendiri.


"Aku ingin makan ayam goreng," jawab Brian, namun Milen masih terpana atas arwah Brian.


"Mil .."


Brian pun mendengus, ia tidak menyangka Milen masih punya waktu untuk melamun.


"Aku ingin makan ayam goreng," kata Brian lagi, dan Milen pun langsung menekan tombol untuk memesan.


Brian terus memperhatikan Milen, Brian tidak tahu apa yang sedang ada di dalam pikiran Milen. Milen yang langsung sadar atas tatapan Brian membuat ia jadi salah tingkah.


"Kenapa aku jadi salah tingkah begini sih," gumam Milen dalam hati. Ia pun langsung menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, Milen yang ingin mengalihkan tatapan Brian dengan cepat mengajak Brian ke ruang tamu.


Milen merasa ada yang aneh, ia langsung membalikkan badan, sehingga membuat Brian terkejut dan hampir jatuh. Milen ingin menangkap tubuh Brian tapi justru ia yang jatuh tersungkur.


"Hahaha," suara tawa Brian pecah, Milen sungguh sangat merasa lucu, melihat kebahagiaan yang tersirat di wajah Brian, Milen pun berpura-pura merasa sakit, lalu pura-pura jalan seperti orang pincang.


"Hem, lain kali, Kakak, jangan berjalan di belakangku," ucap Milen.


"Aku suka mengikuti langkah kaki kamu," saut Brian lagi.


Milen pun menatap dengan serius, andai Brian adalah manusia mungkin Milen sudah bahagia, ketika mereka masih bisa bersatu meski Brian hilang ingatan.


"Mulai sekarang, Kakak, harus berjalan di sampingku, aku ingin selalu melihat, Kakak, apa, Kakak, mengerti?" ucap Milen tegas, dan Brian hanya mengangguk. Milen bersikap seolah ia jauh lebih dewasa dibandingkan Brian.


Tidak lama setelah itu, ayam goreng pesanan mereka pun datang.


Milen langsung menghidangkan ayam goreng di meja. Mereka memilih makan di depan tv, Milen juga memutar saluran kesukaan Milen dulu, sehingga Brian terlihat seperti manusia yang sangat bahagia dan tidak memiliki beban.


Senggang beberapa waktu, Brian pun sadar, bahwa Milen kini sedang memperhatikannya. Tatapan mata Milen yang penuh dengan ketenangan, membuat Brian terpana.

__ADS_1


"Mil," panggil Brian dengan lembut.


Seketika Milen langsung sadar, saat ia tidak bisa menyentuh Brian, dengan cepat Brian pun langsung menyisihkan badannya ke belakang telinganya.


"Maaf, terkadang aku berharap bisa menyentuh, Kamu," kata Milen. Brian bisa mengerti perasaan Milen, karena bagaimanapun ia juga ingin bisa menyentuh Milen.


"Tidak apa-apa, memang takdirku sudah seperti ini," jawab Brian.


"Jangan sedih, aku janji, aku akan membantu, Kakak," Kata Milen penuh harapan.


Brian pun langsung tersenyum, andai ia juga manusia, mungkin ia juga sudah luluh dengan Milen.


Hingga selesai mereka makan, nampak sekali ini membuat gila bagi Milen, sebab ia harus makan bersama dengan cara tersambung kemenyan agar arwah bisa ikut makan.


"Apa, kamu, mengantuk?"


"Hem, aku juga bisa mengantuk, sama seperti kamu," Jawab Brian sambil mengucek-ucek kedua matanya.


"Tidurlah di kamarku," kata Milen lagi, dan Brian pun langsung menolak dengan menggeleng.


"Kenapa? Aku bisa tidur di sofa, jadi, Kakak, bisa tidur di kamarku," ucap Milen lagi, dan Brian masih tetap menggeleng.


"Kamu membawa aku ke sini saja sudah lebih dari cukup, biar aku tidur di sofa saja, ini tempat kamu, dan aku tidak berhak akan itu. Ingat, Milen, aku hanya seorang arwah, di manapun aku bisa tidur, jadi kamu tidak usah khawatir," tutur Brian dengan lembut.


Milen bisa mengerti maksud Brian. Ia pun langsung mengambil bantal dan selimut dari kamarnya, lalu menyusunnya dengan rapi di sofa. Tidak lupa Milen menghidupkan dupa listrik di sebelah Brian, agar Brian bisa memakai semuanya.


"Aku harap, Kakak, mimpi indah," ucap Milen sambil memandang Brian dengan serius.


Brian tidak ingin lama-lama memandang Milen, jika tidak, ia tidak akan bisa mengendalikan diri atas senyuman Milen yang mematikan, entah kenapa perasan di dekat Milen merasa bahagia entah itu apa.


Brian pun langsung membaringkan tubuhnya, serta menarik selimut, setelah Brian sudah dalam posisi nyaman, dengan berat hati Milen pun meninggalkan Brian sendiri di ruang tamunya.


'Andai kamu ingat kehidupan pertamamu mas Brian! Aku tidak perlu terlihat asing.' batin Milen, yang menatap arwah Brian tidur.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2