Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Milen Marah


__ADS_3

"Bu. Reina minta maaf. Apakah ibu masih marah dengan Reina?"


"Heum. Ini kalinya ibu mendapat telepon dari seorang pria, yang katanya telah menikah dengan putri ibu. Pertama kesalahan kamu hamil di luar nikah, sekarang kamu nikah karena di grebek. Mau taro dimana muka ibumu Reina."


"Bu, semua itu .."


Reina sesenggukan, dimana sang ibu benar benar kecewa. Bahkan mendapat maaf saja rasanya mustahil.


"Apa sesulit itu, ibu merestui pernikahan Reina. Reina harus bersujud di depan orang banyak pun mau, asal ibu mau memaafkan khilaf Reina."


Bu Milen yang tiba saja menoleh, melihat Jing di meja lain, ia segera meraih tas. Setelah melemparkan beberapa kertas map merah.


Prak.


"Apa ini bu?"


"Kamu lihat saja!"


Reina perlahan melihat Azam dan Jing mendekat, ia lalu membaca berkas bukti laporan pembakaran ruko terbesar milik keluarga, beberapa tahun lalu.


Reina bahkan gugup sadar, ia melihat Azam dengan memegang cubit bibirnya. Berharap ini adalah kebohongan.


"Azam. Ingat kata kata ibu ya! Kamu adalah perusak kehidupan anak perempuan. Azam kamu adalah perusak hubungan antara ibu dan anak. Lalu kini menikah, dan kamu punya seorang ibu yang benar benar tersangka harusnya dia itu buronan. Miris, apa kamu sebagai pria bisa bahagia, dengan memiliki ibu seperti iblis, membakar ruko usaha keluarga istrimu. Hidup mereka hancur berkeping. Apa kamu masih bisa menjadi Imam untuk Reina. Sementara ibumu bebas berkeliaran, sosialita tanpa hukuman. Hah?" jelas Milen.


Azam terdiam, ia juga melihat map merah dimana Rein memberikannya. Di sana ada beberapa fotocopy bukti bukti Jing menyiram drigen ke seluruh ruko. Dan meninggalkan jejak sesuai foto di depan ruko setelah hangus terbakar.


Jing awalnya sendiri masih mengelak, dimana ia gugup dan ketakutan ingin pergi jauh.

__ADS_1


"Bu, jelaskan semua ini bu!"


"Azam, itu pasti akal akalan si Milen saja. Dia bohong!"


"Cih. Maaf saja sulit, selain mempertanggung jawabannya Jing. Kamu masih bisa bebas, tapi sedikit lagi karma akan menimpamu. Sadarlah!" ucapan Milen bak sumpah.


Reina dan Azam merasa lemas, niat hati meminta restu. Alhasil mereka melihat perdebatan kedua ibunya. Dimana dengan bukti kongkrit, Reina syok kala ibu mertuanya, yang menyebabkan ayah tiri Reina marah besar kepadanya.


Ayah Yus, meminta bu Milen mengusir Reina, karena dampak sial Reina yang hamil di luar nikah, berdampak pada usahanya kebakaran. Maka Milen harus mengusir Reina, agar bala nya tidak berkelanjutan.


"Bu, apakah ayah yang asli masih ada?" lirih Reina celos begitu saja.


"Cih, untuk apa kamu tanya begitu ..?"


"Setidaknya Reina datang hanya meminta restu ibu, karena sebesar kesalahan Reina. Ibu mengusir Reina pun, tidak ada bekas anak untuk seorang ibu. Reina ingin meminta restu pada ayah."


"Kenapa harus Reina bu?" celos.


"Maaf, itulah permintaan maaf. Ayah Yus pasti akan luluh menerima kamu kembali."


"Tapi dia bukan ayah Reina. Reina hanya meminta restu pada ibu kandung yang melahirkan Reina."


"Dasar anak durhaka kamu Ren. Kamu pikir kamu bisa sekolah dihidupi oleh siapa?" kesal Milen pada putrinya itu.


Melihat keras kepala putrinya, Milen menarik tas dan pergi begitu saja. Bahkan Jing pun ikut pergi, setelah pamit pada Azam. Azam yang mengejar sang mama, meminta Azam berlaku semaunya dan tidak akan pernah hadir, ia akan tinggal di singapore menetap di sana.


"Mah, mama mau kemana?"

__ADS_1


"Azam, istrimu pasti akan bawa mama ke kantor polisikan. Lakukanlah semau mu hidup dimanapun, ingat transfer bulanan 30 juta, tiap bulan. Baktimu pada ibu!"


Melihat ibunya pergi, Azam merasa gila. Bahkan kata maaf pada bu Milen, jika salah saja sulit untuk ibunya utarakan. Azam pun kembali ke meja Reina, dimana Reina saat itu menangis disana.


"Ren. Aku minta maaf!"


"Aku harus bagaimana Azam, aku tidak bisa melaporkan ibumu. Ibu mertuaku sama seperti ibuku juga, aku akan berusaha keras untuk mendapat restu agar ibumu tidak benci denganku."


"Aku akan berjuang untuk memulihkan keadaan, kita pasti akan menjadi keluarga bahagia, dimana menyatukan dua keluarga tidak berselisih. Maafkan atas sikap ibuku Ren, sudah membuat kamu dan keluarga menderita."


Reina terdiam, dimana mereka memesan makan. Meski kala nafsu makan kala itu, menipis akibat pertentangan kedua ibu.


Azam dengan sabar, menyuapi dan menghibur Reina saat itu juga. Meski senyum Reina kala itu, tidak selebar senyum bahagia.


"Azam, aku tahu. Aku sepertinya ingat rumah bibi Ani, bibi Ani adalah kakak dari ibuku. Dia pasti tahu, sosok ayahku bukan?"


"Kamu tahu dia dimana tinggal?"


"Terakhir di kota M. Tapi aku lupa jalan menuju kesana, tapi sepertinya buku catatan tersimpan di gudang, siapa tahu berhasil ditemukan."


"Good."


Azam mengusap pipi Reina, dimana ia meminta Reina makan lebih dulu. Sebelum membuat kejutan untuk kedua anak anaknya.


Hingga tak lama, dering ponsel Azam berdering. Dimana raut wajah Reina berubah ketika Azam menampakan wajah rumit.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2