Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Bukti Azam


__ADS_3

Hingga dimana tujuan mereka sampai, di gedung resort berbintang. Dimana Reina menatap Azam, dan suaminya itu senyum mengangguk.


"Temui saja sayang, meski kenyataan pahit. Para orangtua punya problem sendiri, setidaknya rasa penasaran kamu tahu, mengapa ibumu menyembunyikan identitas ayahmu, bahkan bicara telah meninggal."


"Iya ... terimakasih."


Reina dan Azam berjalan pelan, hingga dimana sampailah tiba pada meja khusus berbentuk bangku huruf L warna hitam, dengan tiang tanaman hias.


"Reina.." lirih ibu paruh baya itu.


"Ibu .."


Bu Milen antusias ketus melirik Azam, namun ia urungkan untuk menghela nafas, biar bagaimanapun ia tidak ingin egois, dimana hidupnya saja tidak di atur, apalagi kali ini ia sudah bersalah pada putrinya itu yang berjuang hidup untuknya sendiri sejak ia di usir.


"Selamat ulang tahun Reina, maafkan ibu sayang!"


Milen meregangkan kedua tangannya, dimana sesak tangisan Reina jatuh begitu saja. Ia berlalu memeluk sang ibu dengan erat.


"Maaf ya bu, ma-maafin Reina udah buat hidup dan segala nama baik ibu sulit, semua karena Reina."


Kecupan kening bu Milen pada putrinya seolah yang terakhir, karena ia tak bersuara hanya ikut menetes air mata. Hingga dimana mereka saling menatap dan duduk, melupakan Azam yang mematung di samping pot hias di luar meja.


"Bukan salahmu nak, ibu yang minta maaf. Ibu akan berikan kejujuran dan ibu ga mau ada yang ditutupi, ibu minta maaf telah membuat kamu hampir putus asa. Apalagi banyak sekali ibu berbohong."


"Reina ngerti kok bu, Reina hanya ingin tetap dianggap anak saja, Reina sudah bersyukur. dan Reina janji, akan menjaga putri Reina seperti cangkang telur yang harus utuh tanpa lecet, retak apalagi pecah. Reina akan senantiasa menjaga anak Reina, agar ia tidak seperti Reina yang mempermalukan ibu."


"Bukan salah mu nak, ibu juga turut andil harusnya menguatkan kamu, dimana itu musibah. Dan .."

__ADS_1


Eheuum.


"Azam, kami melupakanmu. Duduklah nak!"


Azam hormat mencium tangan ibu mertuanya, dimana mereka bercerita banyak.


Tak lupa Azam, memesan minuman dan makanan untuk segera dihidangkan, tentunya tanpa ditanya. Azam tahu minuman favorite istrinya yakni jus mangga, dimana ia juga tahu minuman favorite ibu mertuanya dari Reina, jika minumannya adalah Jus Sirsak.


"Azam, ibu minta tolong. Titip Reina dan kedua cucu ibu, maaf selama ini ibu tidak merestui kalian. Tapi kali ini, setelah banyak ibu amati, adakalanya ibu yakini, kalau kalian berjodoh. Dimana kejadian masa lalu karena seseorang, selama ini ibu diam diam hanya bisa melihat jarak jauh dan orang suruhan melindungi Reina. Termasuk Diva."


"Apa bu .. Di -va?"


"Iya, Ren. Diva adalah anak dari sepupu ibu, dimana ibu meminta bantuan menolong mu, meski ia mencintaimu tapi ibu Kri, ibunya Diva melarang menikah masih saudara. Jadi setelah adanya Azam kembali, Diva meyakini jika kamu akan dijaga dan bahagia bersama Azam."


"Pantas dia pergi, begitu saja tanpa pamit. Rupanya ibu."


"Termasuk teman kamu yang di bank sayang, dia selalu memantau kamu dari jarak jauh, demi ibu memintanya dari wanita yang berniat jahat padamu."


"Bu, boleh Reina tanya sesuatu?"


"Soal apa nak, semuanya akan ibu jujur hari ini, dan ini kado untuk kamu sayang. Selama ulang tahun ke 28. Doa terbaik dan kebahagian ibu harapkan untukmu, menyertaimu Tuhan melindungimu. Entah tahun berikutnya ibu sepertinya tidak bisa memberikan kamu kado."


"Bu jangan bicara menakutkan."


"Ibu hanya rindu dan melupakan masa kita sayang, salah ibu yang Tidak menunggu hari bahagia itu harusnya berproses seperti saat ini, yang ibu tahu ayahmu pun masih sendiri dan tidak mau menikah lagi, padahal ibu memintanya menikah saja, apalagi dia sukses kan."


"Kenapa ibu melarang kita bersatu, aku dan Azam. Dan kedua, kenapa ibu bilang ayah sudah meninggal, dan ibu bilang pada Ayah, jika Reina sudah meninggal?"

__ADS_1


Deg.


Terdiam Milen, ia senyum dan minum jus kesukaan dan saling menatap, dimana Azam memegang bahu Reina, untuk tetap tenang dan legowo tidak memaksa.


"Jika ibu tidak siap, biar saya ajak Reina bicara bu." ujar Azam.


"Tidak perlu Azam, ibu serahkan putri ibu padamu, jaga dia dan jangan pernah sakiti Reina dan kedua anak anak manis. Ibu akan katakan semuanya."


Reina dengan senyum, mencoba tenang.


Hanya saja, ibu minta maaf. Jika di akhir ibu harus mengusir kamu, karena takut usaha ayahmu kembali bangkrut, dimana ibu Jing membuat peringatan membakar usaha milik keluarga, sehingga ibu haramkan kalian bersatu, dimana Jing juga sahabat ayahmu yang mencintai, itulah kenyataannya, yang mana ibu harus melepas kamu karena ayah tirimu, ibu minta maaf nak!! Lagi pula ibu pernah kehilangan anak satu satunya bernama Azam, dan depresi ibu bertahun tahun membuat ayah mu selingkuh dan menikah diam diam melahirkan kamu Reina, serta Rain bersamaan berbeda ibu. Dimana ibu dendam hanya ingin memisahkan kalian meski ibu dari jauh tetap memantau kamu.


Deg.


Azan dan Reina terkejut, dimana kenyataan mereka yang selama ini tidak adil, harus mengetahui kenyataan dan kebenarannya.


"Jing itu hanya cinta kekayaan saja, itulah mengapa ibu melarang kalian bersatu karena history, lalu Rain bukan kakak kandung kamu, dan Jing adalah ibu kandung aslinya, sementara kamu Azam, ibu merasa melihat tanda lahir di tangan kamu, sebab putra ibu yang hilang sama seperti itu." kembali Rini menceritakan.


"Apa .. Azam bukan anak bu Jing, dan tanda lahir mirip seperti ..?" diam terpaku Reina dan Azam.


"Sudahlah, ibu merestui kalian. Soal Azam hanya mirip, ibu merestui kalian. Ibu hanya berbicara seperti itu saja karena masa lalu ibu yang berbeda. Bahagia lah kalian semua."


"Apa ibu bahagia dengan pernikahan ibu saat ini, bersama Ayah Diva?" tanya Reina.


"Sebenarnya ti .." terdiam Milen


Dimana Milen ingin menjawab, tidak jadi karena kedatangan seseorang dengan di iringi berbagai bodyguard dan dua anak anak.

__ADS_1


"Azam anak kandung kamu Milen, saya mencoba melakukan berbagai tes dna dan bukti yang ada!" sentak suara pria itu, membuat semua yang duduk berdiri, apalagi wajah Milen berlinang dan mengembang menatap Azam yang ada di sampingnya.


TBC.


__ADS_2