
Keajaiban kehidupan membuat Reina hampir putus asa, sebab history ibu Milen yang mempunyai hal aneh, itu membuat Reina harus patuh pada ayah sambung bernama Yus, bahkan ketika saat ini ia membuat kesalahan yang membuat hidup Reina harus berjalan di kaki sendiri, dan ia dipertemukan pada pria yang ia cintai pertama kalinya.
Pergulatan semalam, membuat diri Reina terasa linu, remuk dan pagi dini hari, Reina terasa membuka jendela tepi balkon kamar utama, sedikit tirai menjulang ia buka. Bahkan kini Reina merasa angin pagi ini, membuat ia terasa plong, ketika satu kehidupan dirinya telah kembali.
Seer.
Sebuah tangan kokoh membuat diri Reina takjub, ketika Azam sudah berada dalam pelukan dibelakang tubuhnya. Dimana Azam mengecup berkali kali kening hingga jenjang leher yang mungkin para pria sah menyukai, bahkan kedua tangannya sudah melingkar erat di pinggang tipisnya yang kecil dan berisi.
"Azam, kamu sudah bangun?"
"Kamu kenapa bangun sedini pagi ini?" tanya balik Azam.
"Entahlah, aku terbangun. Mau tidur lagi sebentar lagi adzan subuh kan? Pepatah mengatakan, jika sudah bangun pagi. Pantang untuk tidur lagi, bukankah itu sebabnya aku tidak bisa tidur lagi?"
"True. Akan aku temani, sebab esok malam, aku harus bekerja. Oh! Andai orang kaya, aku tidak perlu bersusah payah bukan sayang?"
"No! Orang kaya pun sibuk dengan banyak bisnis, apa ada kehidupan ranjang saja sudah cukup, membuat istri dan anak anakmu tetap hidup?" Reina menoleh menatap Azam, saling berhadapan dengan wajah bangun tidurnya, penuh senyuman kebahagiaan.
Semakin erat, mereka menghirup udara, dimana langkah Reina sedikit perih, ia tidak pandai dalam urusan ranjang, namun sebagai istri ia takut jika kehidupannya monoton, akan mengundang pria berfantasi mencari kepuasan di luar.
"Azam, jika aku menua. Mengerut tidak cantik, dan tidak sehot muda saat ini. Apa kamu akan mencari yang muda, lebih cantik dariku dan lebih.."
"Ssst .. Aku berdoa, agar aku tidak pernah melukaimu. Aku berusaha menjaga, semua yang aku punya adalah suatu anugerah, jika aku ditakdirkan menyusahkan mu, menyakitimu. Aku berharap tuhan mencabut ku Ren, dan aku ingin memberikan yang terbaik, ada dan tiada aku tidak ingin kamu kesulitan kelak nantinya."
Reina memeluk erat Azam, entah kenapa saat ia bicara seperti ini, membuat Reina takut. Jika suaminya dan dirinya, akan lebih dulu Azam yang lebih dulu pergi.
'Ah! Racauan gila ini, kita akhiri Azam. Aku tidak mau memikirkan ucapan menakutkan itu.' gerutu Reina, membuat Azam senyum.
"Kalau begitu, pikirkan dan selalu tanamkan kepercayaan, dan berfikir suamimu ini tidak akan pernah menyakitimu. Pepatah juga mengatakan, aura pikiran buruk akan berefek pada kenyataan, karena ada hal energi berbenturan, jadi pikirkanlah bahagia dan masa depan kita ke depannya sayang!"
Heum.
Reina mengangguk, dimana dekapan hangat mereka, seolah bergeser kaki mirip dansa, membuat beberapa detik dua hati menyatu, untuk saling berjanji menata kehidupan lebih baik.
Tak sadar, semakin lama dagu Reina terangkat, bahkan Azam tak tanggung tanggung menaikan sebelah kaki sang istri, hingga erat berdiri kokoh Azam, ketika kaki sebelah Reina lagi sudah imbang mengerat di pinggang Azam, menjambak halus rambut Azam, ketika sebuah indra pengecap saling bertautan, sebuah tirai pun tertutup otomatis, ketika Azam membawa Reina masuk.
__ADS_1
Cup.
Hangatnya pelukan sah, membuat Azam merasa menjadi pria yang tidak lagi menahan hasrat, hal itu membuat Reina senyum bertanya sebelum adegan dimulai.
"Kenapa kamu jadi ingin terus?"
"Kamu tanya..?"
Hahaha, tiba saja Reina ingat sebuah acara talk show, dengan kata nada aneh, bertanya.
"Kenapa tertawa?" bingung Azam, padahal ia bertanya, tapi Reina sudah terbahak bahak.
"Tidak apa apa, aku terkejut saja, apakah kita akan melakukannya lagi?"
"Dasar wanita bar bar, bisa bisanya suami ingin. Kamu selalu menunda, membuat hasrat pria padam, segudang pertanyaan yang sudah pasti, aku tidak akan menahan lagi, jika menahan sudah pasti aku akan mempunyai penyakit kencing batu, atau sejenisnya."
"Benarkah .. Bukankah itu karena menahan pepsi? Juga jarang minum."
Telisik Reina, membuat Azam benar benar gila. Reina gadis cerewet bar bar itu mulai kembali pada sikapnya yang tak pernah berubah, pantas dulu Azam sering berganti pasangan dan mempermainkan diam diam Reina yang tidak tahu, jika Azam dahulu playboy kelas kakap, tapi tetap saja hanya Reina yang ada dihatinya menancap dalam dan hampir gila mencari keberadaannya karena putus tanpa sebuah kata.
Hup.
Eum, Reina mulai menggeser sebuah eratan tangan yang mulai menyatu, entah itu apa.
"Jangan lagi bahas yang aneh, jadi nikmati saja!" bisik Azam, sehingga mereka menyatukan keindahan, kebutuhan cinta biologis semestinya.
Pagi terik mulai memancar, bisa bisanya mereka tertidur kembali, ini pertama kalinya Reina kembali tidur, sejak pagi buta itu. Membuat Reina pening, ketika remuk di seluruh tubuhnya, polosan hanya dengan sebuah penutup selimut saja.
Tok. Tok.
"Bunda .. Bunda .."
"Ayah .. Ayah .."
Reina tersadar, mengedipkan kedua mata akan suara tidak asing itu.
__ADS_1
"Bunda .. Ayah, buka dong pintunya! Kenapa di kunci?" teriaknya.
Hal itu membuat Reina menoleh ke arah pintu, ketika suara gedor pintu terdengar makin keras, dan refleks Azam kali itu membuka mata karena kaget tentunya.
"I-iya sayang. Tunggu sebentar." teriak gugup Reina duduk, menutupi selimut tubuh setengahnya, atau nyawanya belum terkumpul semua.
"Astaga, aku melupakan anak anak. Maaf sayang, ayo lekas pakai bajumu. Aku segera mandi." kecup Azam, bangkit melempar selimut ke sembarang, hingga polosan itu menuju kamar mandi dengan terburu buru.
Haish.
'Dasar pria, yang membuat ulah, aku sampai teledor melupakan kedua anak anakku. Jika saja pintu tidak terkunci, akan apa nasib selanjutnya anak anak melihat kedua orangtuanya polos an.' gerutu Reina, kilat kedua tangannya bagai malaikat, merapihkan tempat tidur, membawa selimut ke ranjang cucian dan memakai piyama, membuntal rambut alakadarnya.
Cekleg.
"Maafkan bunda sayang, bunda akan siapin sarapan ya. Ayo ikut bunda ke dapur!"
Senyuman Reina, membuat Kanya dan Bima mengekor sambil berbisik bisik. Ketika itu ia mencuci muka di wastafel, dan menutupi masker untuk membuat sarapan.
Prak.
Mencuci potong sayuran, sementara Kedua anak anak mengoles selai pada roti.
"Bunda, Bima boleh tanya?"
"Eum, tanya apa sayang?"
"Kenapa bunda kunci pintu kamarnya, terus kenapa lama sih buka pintunya. Kan Bima dan adik jadi menunggu lama." raut sedihnya, membuat Reina gagal fokus menjawab.
Gleuk.
Eum .. Itu.
Terdiam Reina, memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab.
TBC.
__ADS_1