
Permainan blody marry, seketika kembali membuat Brian menyalakan lilin putih, ia pegang erat kala Milen masuk ke dalam arwah yang menuju ingatan hari terakhir ia hidup.
Pertama adalah wanita yang salah satu matanya copot, ia ditarik oleh seorang pemuda yang memakai penutup serba hitam, lalu menarik tambang yang terlilit di leher wanita berbaju merah begitu saja.
"Aarrrgh." teriakan Melin, menengkuk lehernya. Sehingga Bryan terus saja berdoa ayat ayat suci, memohon agar tidak ada korban jiwa.
"Siapa kamu?" Batinku yang mulai semakin penasaran dengan mereka yang menampakkan wujudnya kepadaku. Apalagi wajahnya yang menyeramkan.
"Milen, apa sosok itu mirip leluhur kali ini?" bisik Brian.
"Leluhur? Kau jangan bicara macam macam. Mana ada leluhur hantu serem gitu. Pergi sana!"
__ADS_1
Kupandang mereka dengan tatapan tajam dan akhirnya mereka berpelukan ketakutan melihat aku yang sangat merah menatap mereka. Yah, mereka seseram apapun tidak akan pernah menang melawan kita sebagai mahkluk yang paling sempurna diciptakan oleh Sang Pencipta.
Dia yang ternyata menyerupai seorang putri raja saat itu dan sangat cantik dengan busana mewahnya dan kulit mulusnya terus menatapku. Lalu berubah begitu saja menyeramkan.
Sangat berat sekali mata ini dan akupun memejamkannya.
"Kring....kring..." suara dalam dunia berbeda, Melin kembali berdiri memperlihatkan wanita baju merah yang sedang di aniaya.
Sepasang mata ini yang terbuka dengan sendirinya dan aku berada di sebuah kamar dengan obor yang terpasang menyala di setiap sudut. Tembok yang terbuat dari batu bata mengelilingi ruangan itu. Kendi-kendi yang terbuat dari tanah liat menghiasi ruangan itu. Ruangan dengan ranjang yang terbuat dari kayu dan kain putih yang menghiasinya. Cermin yang menempel di tembok berbentuk oval dengan ukiran khas Mataram yanng mengelilinginya.
Seperti biasa Melin selalu di perintah mereka. Kali ini aku menolaknya dan tidak mau memenuhi apa yang mereka ingin lihatkan, tapi Melin kembali melihat adegan wanita itu dianiaya, di renggut paksa. Setelah itu dicekik, dan saat wanita itu memberontak. Pria itu menancapkan obor ke salah mata wanita berbaju merah hingga tewas.
__ADS_1
Arrrgh! ngilu rasanya, bagi raga Melin yang memperlihatkan adegan itu. Lalu ia melihat pria itu membawa jasad wanita yang telah mati ke dasar pohon besar, ia menggali hanya mengenakan plastik biasa. Namun sebuah sepeda nyaring dari arah berlawanan, membuat Geri yang pulang sekolah terkejut begitu saja.
Geri yang Milen lihat saat itu, ia menjadi korban kedua karena melihat aksi pria itu, mengubur wanita mati istilah saksi tidak disengaja. Geri terdiam dan berlari sekencang mungkin tapi pria itu meraih langkah kaki seribu, membuat Geri terhujam celurit pada satu kakinya sehingga terjatuh. Geri yang Milen lihat ia dibawa ke dasar sungai. Kepalanya ia celupkan karena takut kejahatan ia yang mengubur wanita terungkap.
"Aaaah! cukup, aku ga sanggup. Huhuhuu." tangis Melin.
Melin kembali menatap Brian, setelah lilin di tiup. Bryan merasa ketakutan Melin sangat dalam, apakah teman yang ia baru ceritakan adalah kekasih cinta pertamanya saat disekolah dulu.
"Lo ga apa apa, lo pasti kuat Melin."
Diam seribu basa, membuat ketakutan Melin benar benar tidak pernah terbayangkan. Cinta pertamanya tewas karena salah sasaran, lebih parahnya lagi dia ketakutan dan pria jahat itu tega membunuh Geri yang ia sayangi.
__ADS_1
'Maafin gue Geri, gue terlambat tahu. Tapi kenapa lo baru kasih pemandangan ini, kenapa Geri.' batin Melin memejamkan mata, ia berteriak sekuat kencangnya menatap langit langit gelap. Semetara Bryan hanya terdiam saja karena kebingungan melihat Melin.
TBC.