
Di Berbeda Tempat.
"Alva. Kamu jangan gila, menikahi wanita yang statusnya belum janda. Abie tau dia wanita baik. Tapi saat ini kamu telah mencoreng nama baik. Kamu lihat ada seseorang yang menyaksikan kamu tinggal semalam. Kamu membuat malu di depan umum?"
"Abie. Alva minta maaf, kali ini izinkan Alva membahagiakan Milen."
"Alva. Permintaanmu tak masuk akal, ummi ga mengijinkan. Kami menganggap dia sebagian keluarga. Jangan sampai kalian menikah. Ummi dan Abie menentangnya. Tolong pikirkan nak!"
"Alva ga habis pikir. Setelah Kakak tertua tak jadi meminang Milen. Alva harusnya malu, karena keluarga kita yang membuat Milen seperti ini. Keluarga mereka hancur dan Milen tak punya siapapun. Apa ini balasan dan perlakuan Abie serta Ummi. Tidak boleh jika Alva ingin membahagiakan Milen, Ummi lupa masalah Milen itu berbeda karena kita yang memulai ..?"
"Sejak kapan kamu bersikap buruk seperti ini Alva, jika Milen tahu kita penyebabnya dia pasti tidak akan mau menikah denganmu?" ujar Abie.
Abie dan Ummi tersungkur lemas. Ketika Alva pergi begitu saja. Adab pondoknya telah berubah ketika bertemu Milen si wanita berbeda itu kembali.
"Ummi. Hubungi Milen, sempatkan ia untuk datang ke paviliun private kita. Abie akan berbicara penting padanya!"
"Abie. Biar ummi temani, Abie jangan emosi. Ummi yakin, Milen tidak mungkin pisah dari suaminya karena ingin bersama dengan Alva. Ummi yakin rumor itu salah."
"Cepat hubungi Milen, Ummi. Alva harus menikahi wanita terhormat dan baik baik. Abie sudah menentukan tanggal untuk mereka menikah!"
Milen yang tiba saja memarkir. Ia tiba saja mendapat panggilan dari Ummi Abie. Lalu karena mendesak ia mengabaikan dan memberi pesan saja.
"Assalamualaikum. Ummi, maaf Milen tak bisa mengangkat telepon. Milen sedang sibuk di pengadilan." pesan suara Milen yang syok sudah lama keluarga itu baru hubungi dia sejak bertahun tahun kepergian kedua orangtuanya.
Milen pun dibawa oleh Hari ke ruangan mediasi. Ia meminta Milen menandatangani berkas hal lain. Hal itu membuat Milen untuk ragu.
"Jadi rujuk atau pisah bu Milen?"
"Ak-aku tidak tau. Apa aku sanggup, beri aku waktu lagi beberapa hari. Aku tidak sanggup untuk bertemu Diva. Hari tolong urus segalanya. Aku menunda sidang ini!"
Milen segera pergi ke malang. Ia meminta Mis yang tak jauh untuk bertukar mobil. Ia meminta Mis mengambil mobil dari bengkel. Sehingga ia segera melaju cepat.
"Hati hati bu Milen. Aku jadi khawatir, andai aku jadi Diva pria tampan penguasa. Aku pasti ga akan bikin kamu menangis setitik pun." celoteh Mis.
"Eheuuuum. Udah selesai, kembalilah ke alam anda mas!" titah Hari, mengusir teman Milen yang akan menukar mobil.
Mis yang menatap bebuyutannya ketika di komplek kost dahulu. Ia tak menggubris perkataan Hari, ia pun melaju untuk mengerjakan pekerjaannya yang akan launching esok lusa bersama Milen.
"Bye. Gue juga enek liat muka loh. Hari ceriwis." ketus Mis, beranjak pergi.
Milen pun masih di dalam mobil, Ia terhenti membeli segelas coffe. Saat itu pun Diva menghubunginya berkali kali.
[ Sayang. Kamu dimana? ] pesan.
Milen mereject untuk banyak memikirkan waktu. Terlebih ummi abid dan Abie meminta ia segera datang. Jika kedua orangtua baik itu memintanya, Milen pasti akan membatalkan urusannya. Karena jasa mereka pada keluarganya. Hal itu pun membuat Milen takut dan khawatir.
"Apa Alva berbicara untuk menikahiku. Aaakh apa yang harus aku katakan. Cafe puncak itu milik Alva, apa ada saksi saat Alva mengecup aku kala itu. Auuuuch, apa yang harus aku lakukan nanti."
Milen masih memikirkan apa pilihan tepat adalah kembali pada Diva. Atau ia tetap berpisah dan membuka hati kembali berteman pada Alva adalah pilihan terbaik. Menenangkan dirinya dan belajar di pondok adalah hal terbaik.
__ADS_1
"Aku butuh seseorang yang bisa mendengar ceritaku. Jika ummi abid bisa membuat aku nyaman seperti ibu. Mungkin aku ga kesepian bukan. Aku harus mengelak jika kejadian Alva itu tidak sengaja." batin Milen, ia pun menyetir
Sementara Diva, di suatu tempat :
"Kau bodoh. Kenapa semua batal, apa alasan Milen memikirkan kembali. Lalu sidang ini di tunda sampai kapan?" teriak Diva.
Tak lama Sea datang dan masuk keruangan mediasi.
"Mas. Apa kamu ga sabar untuk membuang Milen. Kamu ga sabar membuat Milen jatuh talak ketiga. Hahaha aku jadi ga sabar, sepertinya Milen masih menginginkan kamu mas."
'Hentikan bualan mu Sea. Aku yang memintanya untuk mempertahankan. Bukan Milen.' batin Diva menatap Sea.
Diva memberikan kode pada pengacaranya. Ia meminta untuk di pertemukan pada Milen. Sebelum sidang kembali di lanjutkan. Alhasil pengacara Diva yang bernama Teo mengikuti langkah Ebo orang kepercayaan Diva.
Beberapa jam kemudian. Milen telah sampai di tempat yang ummi dan Abie abid perintah. Lalu Milen mengucapkan salam dan segera menapaki langkah taman, setelah melewati gerbang.
"Ikhwan. Sudah ditunggu Abbie dan Ummi di tempat ruang buku!"
"Terimakasih saudari." balas Milen.
Milen segera mengetuk pintu. Tak lupa mengucapkan salam, hingga ia masuk dan menatap punggung Abbie Abid di kursi kebesaran.
Tak lama Ummi pun menghampiri dan meletakkan beberapa gelas teh.
"Assalamualaikum Ummi. Abie, ini Milen telah sampai meski tadi Milen begitu harus membatalkan sidang karena ummi."
Milen terdiam tak mengerti maksud perkataan Ummi. Lalu ketika ia duduk, ia terdiam ketika Abie Abid memberikan amplop coklat.
"Buka itu Milen!"
"Apa ini ya, Abie. Ummi. Milen ga mengerti maksud semua ini?"
"Buka saja Milen." titah Ummi.
Milen segera meraih amplop coklat. Ia begitu bergetar ketika menatap foto dirinya dengan Alva. Begitu jelas kejadian kemarin yang masih segar, terlihat Diva ditengah. Tak lama membuka lembaran foto lain, yaitu foto Diva memukul Alva dengan beberapa tinju dan tikaman.
Milen jelas melihat semua itu, Alva pun memukul kembali, hanya saja yang terlihat saat ini hanya ada foto Diva yang memukul Alva. Seolah celah perkataan dan sikap ummi dan Abie abid menghakimi dan menyalahkannya.
"Jadi bagaimana. Apa kamu bisa menyimpulkan Milen?"
"Eeeuuuh. Maaf jika saya lancang, tapi semua ini dan foto serta berita ini semua hanya salah paham. Tidak semua benar, bahkan saya tidak mempunyai hubungan apapun pada Alva."
"Jangan mengelak Milen. Apa kamu menyukai Alva, apa kamu sering menghubungi Alva. Hingga kamu membuat skandal, taukah skandal ini bisa merusak reputasi pondok kami. Kamu begitu rendah sekali Milen, kami tidak merestui kamu dengan putra kami, karena kelainan kamu yang akan menyebabkan putra kami kelak cepat mati." ucapan Ummi abid membuat Milen sakit selain itu merasa bersalah.
Milen telah salah menilai, selama ini di pikirannya adalah mereka orangtua yang terhormat. Tapi menatap ia yang telah salah menerka dan memfitnah. Lebih jauh buruk dari sikap Diva yang tidak munafik menyakitinya.
"Apa yang Abie dan Ummi inginkan. Milen akan menurutinya, dan satu hal Milen minta maaf semuanya. Akan melakukan apa saja, tapi Milen tidak pernah menghubungi Alva sejak Milen pergi dari bangku abu abu. Milen bahkan baru pertama kali bertemu Alva saat kemarin."
"Hah.. Kamu jangan sok polos, kami tidak bisa di bohongi. Cintamu harus di hilangkan, jangan pernah tumbuh cinta pada Alva sama seperti dahulu. Beginilah caramu memperlakukan kami yang baik. Kami sudah anggap kamu bagian keluarga. Tapi kamu malah membuat skandal dan mendekati putra kami?"
__ADS_1
Milen tak terasa meneteskan air mata. Hal yang benar ia putuskan adalah memang kembali pada Diva. Ia akan kembali meski dirinya akan selalu sepi seperti sendirian, mengingat Diva telah membagi hati dan dirinya selalu bukan jadi yang nomor satu.
"Kenapa diam Milen?" tanya Abie.
"Ya. Milen akan pergi, lagi pula Milen sedang menjual kediaman Milen di dekat sini. Milen tidak akan pernah muncul dimanapun Alva berada. Sekalipun ia akan menikah dan menjadi terkenal, Milen akan menghindar di manapun Alva muda, sesuai keinginan Abie dan ummi. Milen janji akan memutuskan pertemanan apapun dan akan asing jika berpapasan pada Alva tanpa sengaja."
"Baiklah. Abie dan Ummi akan memegang janjimu."
Milen meneteskan air mata kembali. Ia pamit dan mengambil tasnya, tanpa meminum teh yang di suguhkan oleh ummi.
"Abie. Apa kita tidak terlalu keras, mengingat Milen sedang konflik dalam persidangannya. Ia pasti semakin sedih Abie?" tanya Ummi, setelah Milen pergi tak terlihat.
"Biarkan saja. Abie lakukan untuk kebaikan Alva. Alva tidak boleh terperdaya oleh cinta. Dia harus menikahi gadis pilihan abah Zah.
Cucu semata wayang. Agar pondok kita semakin terkenal, dan semakin kuat. Belum lagi Alva harus bersiar kemanapun ia melangkah Ummi. Bagaimana bisa istrinya seperti Milen yang aneh itu, dua kali pria menikahi hampir mati yang satu mati, satu persatu di dekatnya terus mati. Jujur Abie terlalu memanjakan dia merintis cafe Puncak. Abie akan hancurkan cafe itu agar Alva tidak mengingat kenangan dengan Milen."
"Tapi Abie."
Ummi pun tak bisa berkata saat Abie abid menatap tajam.
Milen menyetir dengan emosi. Ia lalu menangis tersedu sedu. Saat itu pun ia membelok, tak lama mobil Alva tiba saja melewati untuk menuju paviliun private milik Abie.
"Apa Abie di dalam?" tanya Apva. Yang tidak tahu, jika Milen baru saja menemui orangtuanya.
"Iya. Tuan, tadi sedang bicara dengan seorang ukhti dengan mobil kuning. Tapi sekarang telah pergi baru saja beberapa saat." ucap bibi.
'Apa tadi Milen kemari, atau mobil dijalan tadi ..?' Alva beranjak.
Alva mencerna, apa yang di lakukannya pada Milen. Hingga ia berbalik ingin mengejar tapi langkahnya di hentikan.
"Alva. Hentikan tingkahmu. Abie ingin bicara, jika tidak. Abie akan hancurkan cafe puncak sekarang juga!" celotehnya, membuat Alva mematung.
***
Menjelang malam. Milen terdiam di pantai. Ia menatap langit dan redupan hidupnya bagaikan kehilangan nyawa. Nafasnya tak beraturan, sungguh ia kecewa akan takdir.
"Apa takdirku bisa berubah. Sesakit inikah rasanya jika aku di lecehkan. Atau aku harus bertahan menerima takdir?"
Milen merenung duduk di bawah pintu mobil. Ia mencoret coret pasir. Ia mencoba melakukan yang terbaik untuk kedua anak anaknya.
"Sea. Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa ia bisa mengendalikan perusahaan Diva?" benak Milen.
Ia segera memesan tiket ke bali. Ia ingin melihat cafe Lusa. Cafe yang didirikan atas dua kepemilikan saat itu. Sehingga setelah kerja acara selesai ia akan menyempatkan diri untuk mengeceknya.
"Sea. Apa semua ini kamu lakukan sengaja. Atau memang kamu merencanakan untuk membalas karena Brian menyukaiku. Taukah kamu Brian adalah cinta pertamaku sebelum mengenalmu. Mengapa kamu lakukan hal licik ini?"
Tak lama seseorang berdiri di hadapan Milen. Kala Milen menatap usahanya dulu dirintis dengan Sea, tapi ia menusuknya dan merebut Diva di saat kondisinya sedang guncang dan tidak normal alias depresi berat.
TBC.
__ADS_1