Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Reina anak Alva


__ADS_3

"Pah, tolong jujur sama Shi, siapa putri selingkuhan papa?" ujarnya, kala Alva telah tiba di rumah.


"Kau ini bicara apa sih, pergilah! Papa Lelah."


Terlihat juga asisten Heru, nampak tunduk, seolah menyapa dengan kode. Melewati Shi yang kala mengekor tuannya. Shi tidak mengerti, kenapa sang ayah tampak cuek pada putrinya.


"Aku mengikuti, ke rumah gubuk bertemu ibu paruh baya, katakan padaku. Siapa anak selingkuhan Mu papa, apa anak itu aku?"


Alva yang ke arah tangga, langkahnya terhenti dan menoleh ke arah Shi dengan tatapan tajam, menghampiri putrinya itu dengan wajah kekesalan.


"Kenapa, apa papaku benar selalu menanam benih kemanapun, lantas ibuku meninggal dan sakit hati?"


Plak.


"Lancang sekali kamu Shi." kelepasan Alva menampar putrinya.


Bahkan Alva terlihat terkejut, dimana menatap tangannya sendiri yang kelepasan menampar.


"Lakukan lagi Pah! Tampar aku lagi! atau aku saja yang ada disini, tahukah Papa, aku di berikan kartu hitam, shoping semauku setiap hari. Itu membuatku menderita, bahkan pria yang aku cintai pergi, bahkan papaku sendiri seperti tidak anggap aku putrinya. Why .. Apa yang salah dariku pah?" raut Shi terlihat menyedihkan.


"Kau itu anak .."


Tuan! Heru, mengontrol agar bosnya itu tidak berkata kata lepas lagi.


"Tuan, tenangkan lah!"


"Diam Heru, sudah saatnya Shi tahu diri. Dan kau ingin tahu kebenarannya Shi, baik papa akan bicara terus terang padamu!"

__ADS_1


"Oke. Apapun itu, Shi akan lapang pah." membuka telinga, seolah sombong angkuh nya kembali, dimana seluruh asisten berkumpul menatap keributan tuannya itu dengan putrinya.


"Wanita paruh baya yang kau lihat, dia istriku satu satunya. Aku berbohong jika ibumu telah meninggal, sejujurnya kau adalah putri pengganti dari kesedihanku. Aku mengadopsi mu Dua puluh tahun lalu, jadi pikirkan sendiri kenapa pria tidak suka padamu!"


Bragh.


"Apa ..?" syok.


Shi menjatuhkan ponselnya, dalam genggaman, ia tak percaya dan lemas. Ketika papanya pergi setelah mengatakan hal yang menyakitkan, ada beberapa pasang mata melihat Shi menangis, tapi bubar setelah Heru mungkin meminta pergi saat itu juga dengan kode.


Shi berlari kecil ke kamarnya, dengan berat dan menendang pintu kamarnya. Jongkok dengan rasa tak percaya, menatap ponsel masa kecilnya bersama sang papa, kini hancur berkeping keping.


'Ini pasti bohong kan. Hah." isak tangis Shi kala itu sudah luber menghiasi wajahnya memerah.


Sementara Di Ruangan Lain.


"Heru, bahkan perusahaan aku harus percayakan pada siapa, Shi yang aku harapkan dia tidak bisa memberikan keturunan, bagi penerus keluarga ini. Lalu jalan satu satunya, tolong temukan putri kandungku, apakah dia hidup dengan layak. Sementara putri yang ku asuh, kau tahu sendiri bukan?"


Alva terlihat menyedihkan, ia begitu rindu dan kembali membuka file dimana bayi mungil bersama Milen saat itu. Dirinya pernah mempunyai anak bersama Milen, saat ia pernah membiarkan kasus anak kandung Milen bersama Rian telah tiada tak ditemukan, ia pernah punya anak namun Milen pernah stress sehingga ia punya pelarian lain. Dan syok jika ia punya anak dari Milen, yang Milen sendiri menyembunyikan.


Heru terlihat samar menatap foto bayi itu hingga berusia balita, mirip seperti bocah yang tidak asing yang pernah ia lihat. Entahlah tapi Heru benar benar tidak ingin banyak berasumsi dan menerka nerka.


"Tuan, saya punya satu informasi. Dari intel kami, mereka mengatakan agent sering menghubungi ke nomor seseorang, meski tidak setiap hari tapi sering di jam tertentu, tapi biasanya nomor ini bisa kita gunakan, bisa saja putri kandung anda..."


"Maksud mu, Milen mantan istriku sering menghubungi ke nomor ini?"


"Ya Tuan. Hanya saja, sering menelepon. Akan tetapi begitu di angkat, hanya beberapa detik dan tak bersuara, lalu dimatikan." jelas Heru, menampakan sebuah layar tabletnya.

__ADS_1


"Ah, baiklah. Kerjamu memang bagus, tapi jika aku menaruh mu menjadi Ceo, siapa tangan kananku. Shi tidak bisa diandalkan, sementara waktu kosongkan saja posisi itu."


Heru mengangguk, hingga dimana ia pun pamit. Dimana setelah meninggalkan ruangan Tuannya, nampak dari lantai lain. Shi menarik koper dengan wajah sedihnya.


'Nona Shi, sebaiknya anda kembali ke kamar. Sudah malam, tidak baik rasanya anda pergi membawa koper!'


'Heh, kacung. Berisik loh, ga usah urusin hidup gue. Jadi baiknya, lo Minggir!'


Tatapan Shi, membuat Heru terdiam memberi jalan. Hal itu membuat Heru kembali melangkah, dimana kamarnya di belakang mansion tersebut. Menjadi kaki tangan tuan Alva, adalah tugas setianya menggantikan amanat mendiang sang ayah.


Sementara Di kamar, tuan Alva masih menatap file dari sebuah intel terkait nomor agent yang di selidiki, Alva memastikan rasa penasarannya. Ia mencoba menelepon nomor tersebut dengan gusar.


Tuut ..Tuut.


Sorry, please Enter the code 00141.


[ Mohon maaf, masukan kode 00141 di ikuti nomor tersebut, silahkan hubungi beberapa menit lagi! ]


'Kode Swiss, kenapa terlihat tidak asing?'


Alva terkejut, dimana kembali memencet dengan nomor tersebut, dimana suara ketiga kalinya, berhasil tersambung dan ia dengarkan dengan baik.


Hallo ...


Siapa ini .. ??!


TBC.

__ADS_1


__ADS_2