Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Foto Album


__ADS_3

Keesokan harinya :


Milen pun membeli dupa listrik, dengan begitu, dupanya tidak akan pernah mati. Sebelum memasuki area pemakaman, Milen mencoba untuk menghidupkan dupa di luar pemakaman, dan benar saja, aksinya berhasil, Brian langsung hadir tepat dihadapan Milen.


Milen pun langsung tersenyum, ia sungguh sangat merasa bahagia. Mereka pun saling menatap, dan saling menyimpan senyum yang susah untuk diartikan, sebab Milen mencari cara agar arwah Brian ada dimana Milen berada, sehingga rasa rindu terobati.


Milen pun memasukkan dupa ke dalam mobil, lalu mengajak Brian untuk masuk.


Brian yang merasa bingung tidak langsung mengikuti Milen. Ia merasa takut jika meninggalkan pemakaman.


"Kakak, tidak usah takut. Aku tidak ada niat buruk, aku hanya ingin membantu, Kakak. Jika bukan sekarang, kapan lagi, Kakak, mencari kebenaran. Aku janji, aku akan membantu, Kakak, menemukan keluarga, Kakak," ucap Milen dengan lembut.


Milen sungguh tulus mengatakan itu. Ia benar-benar ingin membantu Brian ingat tentangnya. Milen juga penasaran dengan Brian kenapa ia tidak ingat dirinya.


Melihat ketulusan Milen membuat Brian luluh. Brian pun memberanikan diri untuk meninggalkan pemakaman dan kuburannya. Brian pun masuk menembus dan duduk tepat di samping Milen. Ucapan Milen ada benarnya, jika ia tidak pergi, maka ia tidak akan bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang selalu muncul di benaknya.

__ADS_1


Milen pun langsung melajukan mobilnya, sesekali ia selalu curi pandang dengan Brian Dari samping, Milen terlihat sungguh sangat cantik.


Brian pun menatap pemandangan kota, kota semasa ia hidup sungguh sangat berbeda dengan sekarang. Bangunan tinggi menjulang serta semua peralatan juga terlihat canggih.


Milen pun membuka atap mobilnya, sehingga Brian bisa lebih leluasa.


Melihat itu membuat Brian merasa pangling, ia bahkan terlihat norak.


"Aku tidak menyangka, mobil sekarang bisa buka atap seperti ini," ucap Brian polos, Milen hanya bisa tersenyum melihat tingkah Brian yang polos dan lucu.


Milen pun kembali memakai kaca hitamnya, buaian angin menghempas rambutnya, sehingga menambah ketampanannya.


Saat mereka tiba di depan pintu apartemen, Milen lupa, bahwa ia belum merapikan apartemennya. Milen pun berusaha menahan Brian, memintanya waktu untuk bisa merapikan apartemennya.


"Kakak, tunggu di sini dulu, aku harus merapikan sesuatu, Kakak, jangan kemana-mana, hanya 5 menit!" pinta Milen.

__ADS_1


Brian sungguh sangat merasa penasaran, apa yang Milen sembunyikan. Saat Milen menutup pintu, Brian pun langsung menerobos masuk dengan kekuatan yang ia punya, melihat Brian yang sudah berada di dalam, membuat Milen sangat terkejut.


"Astaga! Kamu, mengejutkanku," ketus Milen, sambil mengelus. Brian pun nyengir, melihat ekspresi Milen membuatnya merasa gemas. Penampilan Milen yang seakan tidak sepadan dengan ekspresinya ketika terkejut.


Brian pun mulai memperhatikan setiap sudut kamar Milen, penampilan Milen sungguh sangat menipu, Brian sangat merasa tercengang saat melihat baju, celana, sepatu serta bungkus cemilan yang berserak di dalam kamar begitu saja, benar benar manusia yang berantakan, cantik tapi hobi berantakan.


Milen pun langsung membidik, dengan cepat ia berlari untuk menyelamatkan ****** *****--nya. Brian yang sudah melihatnya hanya pura-pura diam, seolah ia tidak melihat.


"Silahkan duduk, Kak. Anggap rumah sendiri," ucap Milen. Terus terang Milen sangat merasa malu. Ia pun langsung memungut semua pakaian kotornya dan juga sampah bekas cemilannya.


"Sudah kubilang buang sampah di tempatnya!" ketus Milen mengumpat teman-temannya. Teman-teman Milen selalu datang berkunjung dan main game di sana, Milen sengaja membebaskan teman-temannya ketika mereka datang berkunjung. Itu lah yang di dengar Brian, yang arwah juga tahu jika manusia berbohong karena malu nya terbongkar.


Brian pun kembali berdiri, ia berjalan kecil sambil melihat isi apartemen Milen.


Saat ia melihat foto Milen sewaktu kecil, membuatnya tersenyum, Brian pun meraih foto Milen, dan ia langsung teringat saat pertama kali ia melihat Milen di pemakaman.

__ADS_1


Lalu, mata Brian pun langsung tertuju dengan foto Milen dan pria dengan tulisan dibawahnya bernama Diva. Dan anak kecil bernama Azan, yang kala itu arwah Brian merasa pening, ketika melihat tiga foto dengan nama lengkap dibawah.


TBC.


__ADS_2