Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Roy & Azam


__ADS_3

Saat itu terkejut bukan main, ketika salah satu bocah yang melukis mobilnya, tak lama Reina mendekat dan mengecup layaknya seorang ibu.


"Pak, sepertinya itu anak anak bu Reina." ujar Heru.


"Tetaplah disini Heru, saya keluar sebentar."


Azam, penasaran dengan masa lalu Reina, entah kenapa Reina selalu menghindar, dari wanita yang pernah ia tiduri, hanya Reina yang berbeda, sehingga bayangan Azam pada Reina tidak pernah terputus, apalagi ketika tahu Reina bekerja sebagai petugas kebersihan, apakah hidupnya sulit, sehingga ia ingin membantunya lebih.


"Ren..." teriak Azam.


"Ayo bi, kita pergi." Reina berusaha menghindar.


"Reina, tunggu aku mohon jangan membohongi perasaanmu. Jangan lagi menghindar! ini di luar jam kerja, katakan siapa suami kamu, dan kedua anak anak itu apa dia anak anakmu?"


"Pak Azam, saya mohon pergi jangan pernah muncul dalam kehidupan saya lagi, lagi pula tidak pantas dilihat. Bukankah saya seorang office girl, bawahan bapak yang rendah." lirihnya, menutupi kuping kedua anak anaknya.


Reina pun berlari mencari taksi, setelah kedua anak anaknya dari minimarket bersama sang bibi janji bertemu, akan tetapi kali ini ia cepat pergi ketika melihat mobil Azam, dan benar saja mereka menghampiri.


"Bunda, mereka siapa?"


"Mereka, bukan siapa siapa nak! nanti Bima dan Kanya ikut bibi pulang duluan ya!" di anggukan kedua bocah itu.


Satu sisi, Azam menatap Reina yang menghindar. Tapi Azam tetap mengejar dan mencari motor besar sebagai sewa pinjaman. Heru sebagai asisten hanya bisa geleng geleng akan tingkah bosnya itu, ia pun mengerahkan dan menyalakan mesin mobil mengejar taksi yang dikendarai Reina dan mungkin dari arah belakang ada Azam.


Strith


"Ada apa pak?" tanya Reina.


Supir taksi pun memberitahu jika seseorang telah menyalip dengan sebuah motor. Reina pun menghempas tubuhnya bersandar ke kursi mobil, sambil memegang Kanya dan Bima dalam pelukannya.


Terlihat Roy, mengetuk kaca pintu taksi dan memberi beberapa lembar uang merah. Ia meminta supir taksi pergi dan menurunkan penumpangnya.


Perdebatan ditengah jalan, Reina pun berusaha menghindar dan menepis tangan Roy yang menempel. Tapi seseorang telah turun dari taksi dan melerai akan pertikaian mereka.


"Pak, tolong cepat antar bibi dan kedua anak anak saya ya! Bima, Kanya, bunda agak sedikit terlambat, teman kerja bunda ada masalah, kalian pulang sama bibi duluan ya! Bi Ros, titip anak anak ya." ujar Reina, meraih tas.


"Iy non. Ayo sayang, kalian sama bibi ya, bunda pasti cepat pulang." bujuk sang bibi, agar kedua anak anak Reina mengerti.


Reina menoleh, bukan main tadi di minimarket ia bertemu Azam, kali ini Roy menguntitnya dan menghentikan taksi yang ia tumpangi, semoga kedua anak anak Reina tidak panik, begitu melihat kejadian ini.


"Ada apa ini, Mas Rey kamu sedang apa, hentikan taksi aku, kamu nguntit aku lagi?"


"Reina, aku cuma mau bantu kamu, please. Ga usah lihat aku sudah berstatus, tapi pyur rasa bersalah aku sama ibu kamu, yang mana ia menitipkan kamu sama aku."


"Omoong kosong..." tak lama, Reina syok ketika melihat seorang wanita.


"El...," lirih Reina.

__ADS_1


Roy terkejut, akan tiba sang istri sudah ada di hadapannya." El, kamu sudah kembali?" tanya Roy.


"Hoh.. hahaha.., lirih tertawa jahat El. Rupanya kamu diam diam selalu mengabaikan aku istrimu, kamu bertemu diam diam dengan Reina lagi ya?"


"Istri, kalian sudah menikah?" syok Reina, entah kenapa keadaan semakin runyam saja.


"Reina, lama tidak berjumpa tapi dirimu menyedihkan sekali, menggoda suami orang. Kamu harus sadar Roy sekarang itu suamiku, apa ini namanya teman yang banyak membantumu?"


"El, ini tidak seperti yang kamu bayangkan."


"Cukup El, ayo pulang! aku kemari hanya amanat dari ibu Reina aja." Roy menjelaskan.


Roy menarik El, dan pergi begitu saja. Ada rasa bersalah dan sedih ketika ia harus meninggalkan Reina, karena kedatangan El secara tiba tiba.


'Cintai El, aku mohon Roy. Demi rasa cintamu yang dalam. Jangan lagi muncul dalam kehidupanku. Aku sudah cukup baik hidup tanpa pria.'


Reina pun beranjak dan berdiri, berjalan dengan pelan dan menatap jalan yang sedikit kabur. Ia menunggu taksi lewat hingga menepi di halte, namun sebuah tangan menyambutnya.


"Hapus air matamu,"


Reina kaget kala mendongak, menatap pria yang memberinya sapu tangan. lalu ia diam dan tersenyum kecil.


"Azam, kenapa kamu lagi, tidak seharusnya anda dekat dengan wanita seperti saya, maaf saya harus pergi."


Azam terdiam, Jika wanita dihadapan itu begitu acuh. Ia sedikit bingung akan sikap karyawan yang begitu saja pergi. Saat ia berusaha mengejar langkah Reina, sebuah ponselnya berdering.


"Mencemarkan nama baik, apa soal party itu, jadi karena itu dia terbuang." gumam Azam, masih mengikuti Reina, yang masuk mendapatkan taksi.


Azam pun mengepal, ia sudah lama menghindar dari saingan bisnis kedua orangtuanya. Kini ia harus berhadapan kembali dengan wanita yang notabane musuh orangtuanya itu.


"Bagaimana bisa, semua terjadi dengan sekejap aku berusaha meminta maaf. Tapi sepertinya akan berbalik!"


Reina pun bersyukur, ketika Azam tadi menerima panggilan, ia bisa cepat cepat pergi dari kedua pria yang membuatnya risih. Ingin hidup tenang saja, seolah Reina di kejar dosa, dosa yang membuat hidupnya tidak pernah tenang. Hingga sampailah Reina di rumah, ia berlalu memeluk kedua anak anaknya yang masih menunggunya di ruang televisi, mereka sudah berganti pakaian tidur menunggunya.


"Bunda..." serentak Bima dan Kanya, memeluk.


"Ayo sayang! kita ke kamar. Maafin Bunda telat ya." kecupnya.


***


Hari pun di lewati Reina dengan tenang. Di akhir pekan, Reina yang telah membuat sarapan ditemani bibi Ros. Ia pun menyuapi


makanan dengan lahap.


"Aaaak.. masuk goa salju."


Sluuph... Bima menyantap satu sendok sang bunda berikan.

__ADS_1


Sluurph... Kanya pun ikut serta tak mau kalah. Mereka sarapan dengan tersenyum dan penuh tawa bahagia dan bercanda ria.


"Bun, Bima boleh tanya gak? temen bunda waktu itu kejar bunda, di supermarket. Apa itu namanya ayah ya bun?"


Deuugh!


"Bukan nak, itu bos bunda. Ayo makan lagi sayang!" mengalihkan perhatian.


Namun tak lama, sebuah bel berbunyi di rumah Reina.


"Ada siapa ya bi, kok sepagi ini sudah ada tamu?"


"Biar bibi lihat yang Non!"


Tak apa bi, biar Reina saja yang lihat. Reina pun langsung bergegas ke arah pintu. Namun ia sedikit takut jika Roy, kembali datang dan mencoba berulah. Lalu benar saja ketika ia buka. Sosok Roy benar datang dengan sebuah bucket bunga cantik.


"Roy, kenapa kesini lagi. Sudah cukup kemarin sore banyak orang menatap, aku adalah wanita perusak."


"Tunggu, Reina aku mohon jangan tutup pintunya. Aku sedang proses perceraian. Aku akan selalu melindungimu detik ini. Tak perduli akan kedua anakmu adalah anakku juga."


"Roy! cukup pergi sekarang juga!" tegas dan amarah mencuat.


Reina menutup pintu, tapi Roy mencoba untuk menahannya. Baginya ia tidak ingin kehilangan Reina lagi, terlalu dalam perasaan Roy pada Reina, wanita pujaan yang membuatnya mabuk cinta dan semakin dalam, meski hubungan mereka ditentang karena Reina ke dapati hamil di luar nikah, sehingga ia di jodohkan wanita bernama El.


"Aaakh.. pergi Roy!"


Eheuuuum, berdeheum dari arah lain.


Seseorang datang dengan baju berleher tinggi, lengan panjang setelan putih abu itu tiba saja sudah ada di depan rumah Reina. Roy begitu syok akan pria asing yang tiba saja datang.


"Siapa kamu?" tanya Roy.


"Harusnya saya, anda siapa sudah ada di rumah istri saya, pergi sekarang juga atau..!"


Roy menatap Reina, dengan wajah berbeda. Ia tak begitu percaya, akan pembicaraan pria asing yang datang tiba saja.


Sementara Reina, menggeleng kepala karena kedatangan Azam, sang bos sudah mengetahui alamat rumahnya.


'Astaga, kalian benar benar mengganggu.' menutup mata sesaat, berharap kedua anak anaknya tidak keluar rumah.


"Ren, katakan aku adalah suami mu kan? Ah! Dan kau ingat ya! lihat wajahku, jangan lagi ganggu istriku! kau dengar dengan kuping mu baik baik. Reina milikku, dan kedua anak anaknya juga, darah dagingku." bisik Azam, membuat Roy membuang bucket bunga dan pergi dengan sinis.


Deugh!


'Dari mana Azam tahu, ini gawat kalau dia sudah tahu?' batin Reina gerutu, bukan ini yang Reina harapkan setelah sekian lama bersembunyi.


"Ren, kenapa bengong?" tanya Azam, seolah ingin menguliti rahasia Reina.

__ADS_1


TBC


__ADS_2