
Milen terbangun, ia tersadar seolah mimpi kedua kali itu hanya ilusi. Sehingga ia bergegas bertemu rekan kerjanya yang kembali ke pulau untuk penayangan film yang melibatkan dirinya, sebagai penulis naskah.
Milen sudah tidak tahan untuk pergi ke penang lagi. Namun pekerjaannya membuat dirinya tak bisa pergi dan selalu gagal. Sehingga dimana ia memutuskan untuk ikut ke pulaudi kota cina hanya menghilangkan suntug kontrak kerja sementara.
"Kita jadi ke pulau itu ya Mil?"
"Heuumph. Phonix island, pasti sangat indah. Kalian udah urus semuanya kan. Tugas kita pemotretan untuk bertemu big bos asli." senyum Milen.
Ciiieuh. Yang ga sabar, udah mau tebar pesona ya? Goda Fara. Tapi Milen hanya bersikeukueh untuk cepat selesai pekerjaan pembuatan film disana bersama artis hollywood. Karena ia tak sabar untuk rehat dan menemui kedua anaknya di penang.
'Sayang bunda. Rein dan Reina, gimana kamu saat ini. Sudah sebesar apa. Andai kamu seperti anak anak lainnya. Bunda pasti akan ajak kemanapun bunda pergi, dan bunda pasti akan menemukan ayah Diva kalian yang asli.' batin Milen bergumam.
Perjalanan telah sampai di bandara. Dalam waktu berpuluh jam ia kini sudah berada di phoenik island. Ia menatap gedung menjulang, kondisi cuaca yang dingin dengan udara yang jauh berbeda di kota padat.
Milen sempat berfikir apa Rein dan Reina bisa bertahan tinggal di kota seperti ini. Waah... ini super duper higclast banget. Milen lo tau gak ini di luar exspetasi. Lo tau kan, kita kerja sambil berlibur ini sih. Ungkap Fara. Dan Milen hanya menatap dinding dengan tulisan CTN.
"Wih, apaan tuh, nama obat alergi ya." sotoy Fara.
"Bukan Rah. Ini tuh Club The One Island. Kenapa kita harus ketemuan di sini sama big bos. Kok gue jadi curiga ya." Milen menatap Fara.
__ADS_1
Perusaahaan dalam SFILM. Milen dan Fara harus masuk kedalam Club terebut. Ia telah memiliki akses kartu dari perusahaan. Hanya dengan menyebut nama depan mereka saja ia bisa mudah masuk. Karena larangan untuk menyebut nama lengkap sebagai peraturan di sana.
"Miss M." silahkan masuk. Meja anda nomor 056. Kamar anda 156.
"Miss F." kamar anda 156.
"Haaah. Kok kita di pisah sih Mil?"
Milen yang menggeleng kepala. Ia berusaha untuk membawa koper kecil dan membersihkan diri.
"Kita tunggu sejam lagi. Di tempat lift ini ya!" pinta Milen. Sehingga Fara mengangguk.
Dan sesaat Milen duduk selama setengah jam kemudian, ia pun tertidur bermimpi lagi.
"Jangan lakukan itu sama gu- gue Alva!" Terpatah patah bicara.
"Terus lo mau buat Milen bahagia atau menderita?" tanya Alva Muda menatap dalam ruangan House.
Perbincangan mereka selama satu jam. Diva menatap wajah Alva yang sangat persis mirip dengan dirinya. Ia meminta Diva untuk bertanggung jawab, dan ia pula akan menghandle dan menjaga keluarga kecil mereka hingga waktunya tiba.
__ADS_1
"Lo ga bisa balik sama Milen. Lo lupa talak tiga, biarkan gue masuk dalam pernikahan kalian. Gue egois, tapi gue pastiin Milen akan bahagia sampai lo kembali belasan tahun lagi."
"Kena-pa ha-rus meru-bah. Wajahmu seperti ku?"
"Hahaaah. Karena Milen ga bisa lupain kamu, karena Luna begitu trauma dan terpukul. Dengan begitu gue juga lari dari orangtua angkat gue. Diva kita satu darah dari satu papa. Jangan egois tanda tangan. Lagi pula lo ga bisa se- Aragon dan berkuasa kaya dulu bukan?"
Diva tak bisa berkata. Ia pun mengakui kesalahan sehingga ia menyadari apa yang harus ia lakukan adalah yang terbaik, karena janji Alva Muda bisa membahagiakan Milen dari kutukan kesialan, lagi pula wajah dan kulitnya 80% cacat terbakar luka penuh permanent tak bisa hilang meski operasi sekalipun.
"Sayang. Tunggu Mas, hingga mas bisa menemui kamu kembali!" terang Diva yang pergi dengan kesal menatap Alva Muda yang merubah wajah seperti dirinya.
Tidaaaak. Mas jangan pergi !! Teriak Milen, lalu ia terbangun dari mimpi buruknya saat duduk di ruang pesawat.
"MILEN. LO KENAPA LAGI? MIMPI LAGI YA?!" TANYA FARA TERKEJUT MEMELUK MILEN.
"Gue mimpi buruk Far. Gue takut, gue liat seseorang yang merubah dirinya jelas kaya mas Diva, dan mereka terlibat perjanjian." jelas gugup Milen menjelaskan pada Fara.
Milen dan Fara saling menatap dengan sendu. Apalagi saat membuka mata, ternyata dirinya berada di pesawat bukan di island.
'Tunggu, jangan bilang mas Diva asli ada di kota ini, saat pertama gue sampe. Mimpi seperti nyata itu memperlihatkan pada gue, itu adalah Diva dan Alva Muda terlibat janji.' batin Milen.
__ADS_1
TBC.