Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Pergi Liburan


__ADS_3

"Kamu ada masalah Zam?"


Azam pun duduk, ia terdiam begitu saja. Dimana Azam menyambut tangan Reina, dan mengelus pipi Reina saling memandang.


"Aku harus bekerja, jika aku menafkahi kamu dengan sederhana. Aku minta maaf ya Ren! Aku akan giat lagi untuk membahagiakanmu dan kedua anak anak kita."


"Azam, kamu bicara apa sih. Kamu ada masalah apa?"


"Doakan masa kontrak ku menjadi pilot, karena ada masanya. Jika ada perpanjangan, aku masih bisa membuat mu bahagia dengan mengajakmu keliling dunia, dari itu aku ingin kita membuka usaha, untuk berjaga jaga."


"Aku paham Azam, kamu harus memenuhi ibumu, dan hutang ibumu pada ayahnya Shi kan?"


"Kamu ga keberatan Ren, untuk beberapa belasan bulan, aku harus membayar semua tagihan secara cicil, ketimbang aku kembali pada Shi, rasanya bagai duri mawar, yang hanya bisa dilihat betapa menyakitkan."


Azam dan Reina setelah makan bersama, Azam mengajak Reina mencari koper. Dimana ruko tak jauh, ada pusat tas dan fashion lainnya.


Reina turun dari mobil, Azam menggapai tangan Reina dan berjalan bersama, tatapan Azam memang membuat Reina teduh, tapi menikah tanpa impian dan restu, rasanya sama seperti dirinya menjalani kehidupan, dengan makan tanpa sebuah rasa yang enak. Tinggal di rumah yang cukup nyaman, tapi hatinya merasa gundah.


'Sampai kapan, orangtuaku lengkap bisa bersatu dan kompak seperti teman teman lainnya. Azam, aku memberimu kesempatan. Semata aku tidak ingin melihat kedua anak anakku hidup seperti diriku, yang tidak lengkap dimana ayah dan dimana ibuku.' deru batin Reina masih tersenyum menatap Azam dengan dalam.


"Azam, kamu membeli koper banyak sekali. Tidak perlu sampai 3 kan? Di rumah aku masih ada kok, meski ga besar."


"Bibi Ros dan pak Sup kita belikan juga."


"Memangnya kita mau pindah?"


"Ren, malam ini aku ingin ajak kedua anak anak kita, meski seminggu aku pulang bekerja. Rasanya tak sanggup jika aku jauh darimu. Anak anak sudah cuti, aku juga sedang mencari guru terbaik. Home School, besok siang aku harus bekerja. Aku ingin kamu dan anak anak menginap, di villa kantor. Biasanya aku sendiri disana, tapi aku bahagia bisa mengajakmu."


"Villa, kamu punya Villa?"


"Sebenarnya aset kantor, rumah dinas di saat aku istirahat. Pilot berbeda dengan pramugari sayang. Mereka biasanya akan berada di hotel khusus, tapi pilot istimewa." lirik Azam.


"Ih, sombong. Aku baru dengar, kalau pilot punya istimewa dari perusahaan." gerutu Reina.


Azam pun bergegas membawa koper barunya, dimana ia letakkan dalam bagasi. Reina rasanya lupa, dirinya pernah menjadi pramugari, apalagi pilot dan pramugari satu pekerjaan, biasanya sulit untuk mempunyai kisah asmara terbuka. Maka dulu tak banyak yang tahu, jika dulu Azam dan Reina punya status hubungan jauh tanpa diketahui rekan lainnya, hingga party berujung penuh kesialan hidupnya berubah 80 derajat.


"Udah siap, kita jemput anak anak di sekolah."


"Iya, makasih ya Azam. Kamu udah buat kedua anak anak happy."

__ADS_1


"Itu sudah berlalu, aku gak mau kamu sedih. Percaya padaku, aku akan terus berusaha membuat bahagia kamu dan kedua anak anak kita!"


Beberapa jam kemudian, sampailah mereka di school internasional. Kedua anak anak sudah keluar di dampingi miss nya. Azam melambai tangan, dimana Reina berteriak manis memanggil Kanya dan Bima.


Terlihat kedua anak anak telah datang, berjalan dengan gaya gentle yang mempunyai wibawa mirip sekali dengan Azam, Reina benar benar menatap Bima bak pinang dibelah dua dengan sosok ayahnya.


"Hore .. Ayah sama bunda udah dateng." riang Kanya dan Bima, bergantian memeluk.


"Bunda, Ayah. Mmm .. Sekarang boleh kami tahu surprise nya?"


"Cium dulu dong!"


Muaach.


Reina menatap Azam, yang menggendong kedua anak anaknya. Dimana beberapa dari kedua orangtua murid lain, terlihat melihat kedua anak anaknya dengan tatapan intens.


"Kanya dan Bima masuk dulu ke dalam mobil sama Ayah ya! Bunda mau ketemu miss sebentar!"


"Oke. Bunda."


Reina mendekat ke miss, yang mungkin dia adalah wali kelas kedua anak anaknya. Dimana Reina berterimakasih, ketika kedua anak anaknya dibimbing di sekolah taman kanak kanak internasional, sekaligus memberikan bingkisan kecil untuk miss, di saat liburan sekolah tiba.


Sekembalinya Reina, terlihat anak anak sekelas Kanya, melambai senyum pada Kanya dan Bima. Apalagi terlihat ibu ibu menyapa Azam, membuat Reina mengerutkan alis.


"Bunda kenapa?" tanya Kanya.


"Bunda pasti cemburu ya, pas Ayah Azam disapa sama bundanya Mia, Mia kan ayahnya pergi bunda. Kasihan ya." oceh Bima, membuat Reina panas hatinya terbakar.


Gleuuk.


Azam bahkan melihat wajah merah kesal Reina, hingga Azam berkedip mata dan tos pada kedua anak anaknya dibelakang.


"Haish, melihat Kalian sangat serasi sekali untuk membuat bunda kesal ya." lirih Reina, di gelak tawa kedua anak anaknya yang kompak pada Reina.


Sampai di rumah, Reina meminta bibi Ros bersiap, dimana pak Sup dan bibi untuk ikut juga. Meski mereka menolak, tetap saja Reina tidak ingin ketinggalan dimana rumah dinas Azam, banyak kamar.


"Aduh, bibi ga pernah naik pesawat jauh non. Nanti repotin, mual mual lagi."


"Iy non. Nanti istri bapak udah tua disangka hamil lagi, kami di rumah aja non!"

__ADS_1


"Bi ayo dong. Please!"


"Maaf non Reina, bibi rencana mau ke kampung juga izin. Bentrok sama acara data capil di kampung, bidan dulu yang bantu melahirkan bibi. Dia rencana mau kasih tahu, keadaan anak bibi sekarang tinggal, ini kabar yang kami tunggu non. Maaf." sendu sedih bibi Ros.


"Ya udah, semoga anak bibi cepat ketemu. Ajak tinggal juga sama kita ya disini, biar rame!"


Reina dan Azam memberikan satu amplop coklat tebal, masing masing. Meminta sang bibi di lain waktu, ikut ke swiss sambil liburan. Hingga dimana Reina dan Azam bersiap, mereka pamit.


"Pak sup! Ini kunci mobil Reina Pak Sup bawa aja, Reina dan Azam serta anak anak sudah pesan taksi."


"Ya ampun non, makasih banyak ya non."


"Ketimbang naik bus, baik baik. Hati hati bawa tas, Reina juga udah transfer uang belanja bulanan dan uang hak bibi sama pak Sup. Kalau ada yang kurang, kabarin Reina ya bi." di anggukan mereka.


Beberapa Jam Kemudian.


Taksi pun jalan, dimana Reina menuju bandara internasional soekarno hatta. Dalam perjalanan lancar, kedua anak anak Reina menggandeng masing masing, Kanya yang digandeng Azam, dan Bima digandeng oleh Reina.


"Bunda, ini namanya bandara ya?"


"Iya sayang."


"Terus kita pas naik pesawat langsung sampai di tempat kerja ayah ya Bun."


"Kita transit di SIN. Singapore Bandara Changi."


"Oh gitu, Bima jadi ga sabar deh." senyumnya.


Tak lama Azam yang datang menggandeng Kanya, ia segera menghampiri Reina.


"Sayang, ayo kita ke terminal 3 ultimate. Dua puluh lima menit lagi, kita akan segera take off."


Yeay.


Bima dan Kanya, antusias ketika liburan kali ini, mendampingi sang Ayah bekerja.


"Oh, Kanya ga sabar deh Bun. Pengen lihat Ayah pakai baju pilot. Boleh enggak Kanya dampingi Ayah?" bisik nya.


"Boleh sayang. Ayo!"

__ADS_1


Mereka pun berjalan bersama, menuju tempat yang harus ia tuju, sambil memerhatikan dan tak sedikit, setiap pramugara dan pramugari, hormat lebih tahu pada suaminya yang berjalan disapa, karena Azam dikenali pilot Air Lines.


TBC.


__ADS_2