
"Semoga kamu tak salah paham padaku Milen. Aku ga bermaksud melecehkan mu." lirih Alva merutug kesalahannya. Tapi ia masih terasa memegang bibirnya dan tak membasuh untuk berwudhu.
"Maafkan kesalahanku. Aku akan bertanggung jawab padamu Milen. Setelah kejadian ini, aku ga akan biarkan kamu sedih." lirih Alva.
Milen masih terdiam di tepi lampu merah. Ia menunggu taksi atau bus yang melintas. Rasanya bagai hancur, bagaimana jika ia benar telah menjadi seorang janda. Apakah perlakuan tadi akan terulang. Begitu malu dan rendah dirinya jika ia tak menyesali, Milen pun menutup mulut dan menyekanya berkali kali dengan tissue basah.
Hal itu membuat Diva sadar. Jika Melin tak ada hubungan dengan Alva Ia berfikir jika Milen masih menyimpan rahasia di masa lalu yang tak ia ketahui.
"Sayang. Berhenti, katakanlah apa hubunganmu dengan Dia. Mas ingin kamu akhiri, kita kembali ke masa kita bersama!"
Milen terdiam ketika menoleh. Ia melihat Diva masih dengan nafas tersengal sengal karena lari mengejarnya. Tapi Milen berusaha memberhentikan taksi, tapi nahas berkali kali taksi tak bisa berhenti karena ada penumpang.
Diva segera menarik paksa Milen untuk masuk kedalam mobil. Milen yang terseret paksa akhirnya ia masuk dan duduk diam membeku.
"Apa kita akan diam saja. Katakan padaku sayang?"
"Mas. Cukup, lakukanlah sesuai rencanamu bersama Sea. Bagaimanapun ia mengandung anakmu yang sehat!"
"Mas ga akan berhenti memintamu. Atau kamu benar mempunyai hubungan dengan pria munafik tadi?"
"Cukup Mas. Jangan menyalahkan orang lain, aku tak pernah ada hubungan dengan pria manapun. Jangan menambah dan memutar pembicaraan."
"Lalu mengapa kamu marah. Jadi benar pria tadi akan menggantikan mas?"
Milen hanya terdiam memicik kesal. Ia malas untuk berdebat, hingga ia mencoba membuka pintu mobil. Tapi Diva telah menguncinya.
"Tolong buka Mas!"
Cegreek.
Diva akhirnya mengalah tak ingin memaksa. Setelah Milen keluar ia berjalan dan menatap seseorang di depannya.
"Milen. Aku antar, maafkan aku yang lancang tadi." pinta Alva.
"Pergilah Alva. Jangan campuri urusanku. Aku akan baik baik saja. Kamu harus ingat, meski aku tak mempunyai keluarga. Aku akan baik baik saja."
Diva menatap kesal saat Milen dan Pria lancang munafik itu, tepat saling berhadapan dan saling menatap.
"Sayang. Ayo ikut mas. Mas akan antar kamu pulang." ucap Diva, tapi Milen menolak.
"Kalian berdua pulanglah. Aku ga ingin di antar oleh siapapun!"
"Tapi Milen. Aku harus bicara, ada hal penting yang harus kamu tau." pinta Alva menahan langkah Milen.
Milen pun tak menghiraukan, ia kembali melangkah dengan posisi memberi punggung pada dua pria itu.
"Mil. Kamu masih istriku." Diva kembali menahan lengan Milen. Mengabaikan Diva menatap dari belakang.
"Mas. Lepas, kita tak bisa seperti itu. Taukah kamu telah menceraikan aku di depan Sea. Secara agama kamu telah menalak aku ketiga kali. Pertama saat kamu bicara perjanjian pada Sea kamu membohongiku. Kedua kamu bicara saat pada Sea. Jika kita berakhir esok, kita tak bersatu lagi."
__ADS_1
"Lalu aku harus apa sayang. Mas harus bagaimana agar kamu bisa percaya pada Mas?"
"Pulanglah Mas. Kita sama sama berfikir menenangkan diri."
Tapi Diva tetap saja menarik dan menahan Milen. Ia memegang pucuk rambut dan saling menatap. Membuat Milen terkejut akan aksi Diva kala itu.
"Milen. Aku telah menarik perkataanku saat ini, jam ini, detik ini. Aku menyesal dan tak akan pernah menceraikan. Maafkan aku, maukah kamu kembali memulainya dari awal?"
Milen terdiam pias. Ia tak bisa menjawab saat Diva memintanya dengan harapan. Milen menatap Alva, ia pun berakhir memberi punggung dan meninggalkan lokasi itu.
"Mas. Bagaimana aku bisa percaya padamu lagi?"
"Beri Mas Kesempatan lagi. Mas mohon sayang."
"Pulanglah Mas. Jika kamu memaksa, esok aku akan tetap menandatangani tanpa mediasi. Aku akan pergi dari hidupmu!"
Diva tak bisa mengelak. Ia membiarkan Milen pergi dengan taksi. Alva dari jauh hanya bisa menatap Milen di dalam mobil. Lalu mengikuti taksi Milen akan tempat tinggalnya.
Diva pun tak kalah, ia mengikuti taksi Milen. Berharap esok saat di pengadilan ia bisa bersama pergi dengan Milen.
Milen yang telah menyandarkan diri. Ia mengambil album sang ibu. Ia menatap foto kecil bersama Alva dan sahabat lainnya. Lalu menatap foto pernikahannya bersama Diva.
"Nenek Kari. Jika nenek ada, apa yang Milen harus lakukan. Apakah Milen harus memberi kesempatan pada Diva, kenapa setelah tak melihat arwah kehidupan Milen begitu pelik ..?" tanya Milen menatap album keluarga.
***
"Lalu aku harus membiarkanmu melukainya lagi. Aku akan merebut Milen darimu Diva Mahendra." unjuk Alva yang tahu siapa Alva.
"Syiet. Kau coba mendekati istriku, kau akan habis Alva!"
"Bagaimana aku bisa percaya. Jika Melin akan memberikanmu kesempatan. Taukah kamu, jika kamu telah bercerai menalak tiga kali. Artinya kamu tidak akan pernah bisa kembali pada Milen. Jika tidak, aku akan maju untuk menikahinya lebih dulu agar dia bisa menikah kembali denganmu. Tapi kau ingat Diva, saat Milen menerima pinanganku. Aku tidak akan melepasnya, karena aku akan membahagiakannya."
"Omong kosong. Jangan bicara bualan, karena aku tak akan pernah menceraikan Milen."
"Lalu bagaimana dengan istri siri mu. Apa Milen harus berbagi, kesulitan dirinya yang mempunyai mata batin sudah sulit, setelah menutup demi bahagia denganmu, kamu campak. Hahaha dasar egois.?"
Diva melepas kesal kerah Alva. Perkataannya memang ada benarnya. Tapi ia di buat bingung, apa yang harus ia lakukan dengan Sea. Terlebih ia sangat menyayangi Milen. Tapi kendali perusahaan dan segala hal di bawah kendali Sea dan ia takut reputasi hancur begitu saja.
Diva pergi masuk kedalam mobil. Sementara Alva kembali masuk kedalam mobilnya. Tiba saja ia jatuh tersungkur sebelum memegang gagang mobil.
Milen di balik jendela menatap Alva. Ia segera turun dan berlalu menolong.
Di tepi bawah, ia mencari bantuan security untuk meminta tolong. Tapi nahas ia tak menemukan. Yang ia temukan adalah seorang pejalan anak muda yang lewat. Milen pun meminta bantuan padanya.
"Maaf bu. Saya harus bawa bapak ini kemana ya?"
Milen terdiam bingung. Ia tak mungkin membawanya ke dalam paviliun yang ia tinggal. Lalu ia mau tidak mau ia bicara dengan terpaksa.
"Tolong bawa tunangan saya ke dalam Mas. Maaf merepotkan!"
__ADS_1
Setelah beberapa saat. Milen bingung apa yang harus ia lakukan. Bagaimana pun Alva terluka karena Diva status masih suaminya. Milen akhirnya memberikan obat dan es batu untuk Alva. Ia mengobati Alva muda dengan perlahan dan hati hati. Lalu menyelimutinya dengan selimut tebal.
"Alva. Kenapa kamu selalu ikut campur. Aku baik baik saja. Tidakkah terlalu bahaya jika kamu selalu ikut campur pada masalah orang lain." lirih Milen.
Milen segera menutup pintu. Ia menyibukkan diri di paviliun nya dan mengerjakan berkas laptop naskahnya. Hingga akhirnya ia tertidur.
Menjelang pagi.
Dan Esok Harinya :
Terik matahari telah terbuka di bawah pelupuk matanya. Seseorang telah membuka tirai hingga cahaya masuk kedalam ruangannya. Lalu ia mengungkap keadaan mata untuk membuka.
Terlihat samar hingga jelas. Jika seorang pria dengan kaos putih ketat dan celana hitam bahan berdiri dengan jalan tertatih tatih.
"Astaga. Alva kamu sedang apa di sini?"
"Kamu sudah bangun Mil. Aku berterimakasih kamu telah merawat dan mengobati lukaku."
Milen terdiam, ia lupa jika Alva dibawa kedalam paviliunnya oleh dirinya dengan bantuan orang lain.
"Aaakh. Ya, jika aku memintamu untuk istirahat. Tunggulah di sini, karena aku akan bersiap ke pengadilan. Aku akan kembali ke sini mungkin tiga hari."
"Baiklah. Mas akan merawat kamar indahmu ini dengan senang hati."
"Haaah. Mas, maksud kamu Alva?"
"Hahaha. Aku bercanda, tapi semalam jika tidak samar ada yang bilang. Kalau mas ini adalah tunangannya. Benarkan?"
"Huuuaah. Itu semalam karena aku panik, jadi itu salah paham." oceh Milen nada marah.
Milen segera kembali merapihkan dan menutup laptopnya. Tak lama Alva berbisik pada Milen.
"Semoga pengadilan berjalan dengan lancar. Masa idah mu akan aku tunggu."
Milen menatap Alva. Mereka saling memandang dan membalas dengan senyuman menyempit.
"Apa yang kamu rencanakan lagi Alva. Bukankah kamu telah menghitbah wanita negeri tetangga?"
"Kamu akan tau dengan sendirinya. Baiklah aku akan pergi, aku sudah menyiapkan sarapan. Aku pamit. Assalamualaikum."
Walaikumsalam. Milen pun membalas, dengan erat ia menutup matanya. Lalu bergegas menatap jendela ketika Alva telah pergi dengan mobilnya.
"Maafkan aku Alva. Kamu tidak bisa mendekatiku, aku tidak pantas menjadi menantu anak dari kelurga yang terhormat sepertimu. Aku tidak pantas kamu pinang sekalipun aku berpisah dengan Diva."
Milen pun menghubungi seseorang. Ia meminta paviliunnya untuk di jual cepat. Hal itu ia ingin menjauh dari Alva muda.
"Masalahku adalah. Sea dan Diva, aku ga bisa egois karena masalahku. Aku tidak harus menyakiti kedua anak anakku jika aku berpisah." lirih Milen, yang akan beranjak ke pengadilan.
TBC.
__ADS_1