
"Hah. Serius tuh, gue ga salah dengerkan pak soto bin sotoy manggil nama itu. Itu beneran nama pria alim yang pernah kita temui di cafe tebing kan?" bisik Kean pada Misel.
"Diem lo. Gue juga syok nih, ternyata orang yang kita bully adalah eeeng.. iiiing... eeeugg ..." Misel memutar kepala dan meliuk mata sehingga Rey memukulnya.
"Diem napa. Pala lu menghalangi gua!"
Dan perdebatan Tiga teman Milen, yang gajelas itu membuat tamu lain menatap untuk mereka diam.
"Sssst ... heh kalian berisik!" seseorang menunjuk jari. Mereka pun terdiam menunduk.
Para klien dan tamu melirik ketika seorang pria berpakaian batik dan berjalan dengan gaya cool, gagah dengan satu tangan membawa bucket di satu tangannya. Farah dan Feni hanya mengatur nafas berat, pasalnya ia tak percaya sosok pria alim yang notabane teman kecil Milen terpisah yang membantu Ruqyah Milen.
Milen pun hanya tercengang tak berkata, mengapa ia baru tau jika ustad muda Alva memiliki bidang yang jauh darinya, bahkan ia masih malu akan kejadian dirinya pernah di sembunyikan.
"Ustad muda. Benar andai aku tak jatuh hati pada suamiku. Mungkin aku akan memilih pria rupawan yang seimbang dunia dan akhirat. Tapi memiliki suami seperti Diva saja aku sudah banyak makan hati. Apalagi bermimpi menjadi seseorang yang penting di hati ustad muda ini." lirih Milen.
Namun Milen menyadarkan perkataan nya itu. Ustad muda adalah pria sejuta kaum hawa yang menginginkan menjadi pendampingnya. Tapi tidak dengan Milen dengan segudang masalah berat tak kasat mata, yang kini sudah tertutup mata batin, entah apakah akan terbuka lagi. Satu sisi Ome terlihat kesal. Ia menatap dengan wajah serius untuk membuat siasat.
Tak jauh Diva yang hadir pun menyambut seluruh tamu setelah ustad muda memberikan wejangan kepada semua yang hadir dan terakhir memberikan ucapan selamat pada Milen. Seluruh tamu menepuk tangan akan meriahnya acara itu.
Hingga acara berakhir pun. Moment indah diabadikan oleh tiga teman Milen. Setelah selesai Milen juga pamit pada Diva.
Milen menghindar karena kala itu Diva ingin menghampiri. Tetapi Sea telah mendekat. Sehingga ia membelok arah langkah untuk ke toilet. Sementara Misel bersama Farah membicarakan hal penting. Feni tak jauh duduk di sofa menatap kamera hasil rekaman yang luar biasa ia abadikan.
"Eekh. Lo dan elo tau gak, Mas Harrypotter ga pake kacamata selera wajah gue banget. Tapi pas tadi ada Ustad muda ya ampuuun kalah cetar ciiin. Elo tau kegantengan paripurna itu sih level sepuluh. Asal lo tau ya. Dulu pas nyokap gue mo lahiran gue tag tuh biar muka dan gaya kekar body okenya kaya itu. Tapi ..." tutur Rey. Ia membuat wajah sedih.
"Nahas wajah lo mirip uwa di ragunan kan?"balas Kean.
__ADS_1
"Gitu amat sih. Gini gini juga gue di cetak asli bukan pake adonan tepung. Heukh kesel deh eeeiy!" lirih Rey.
"Elo udah tag. Sayangya pas lo lahir ketiban adonan semen, kagak pakem. Salah tempat nyokap lo lahirin elo Rey, lagi pula Diva si intel gagah itu terlalu keren kok." ketus Misel.
Perdebatan enggak banget membuat mereka bertiga tak saling mengalah. Tiba saja seseorang menepuk jentik jari menyadarkan ke wajah ke tiga pria jadi jadian itu, mencari Milen.
"Kalian liat Milen gak?" tanya Diva.
Terlihat Diva menatap ponsel. Ia menerima pesan dan terlihat penting dari raut wajahnya.
"Emang tadi Milen pergi kemana?" tanya Misel.
"Toilet lagi dia, cuma tadi dia liat pesan ampe muram gitu sih wajahnya." timpal Kean.
"Lah. Ke toilet napa nyarinya ke kita, emang kita ****** apa?" bisik Rey. Terdengar oleh Diva.
"Gue dah coba cari. Tapi kata orang disana ga ada, Gue kira Milen sama lo pade. Mending kalian cari wanita gue. Klo ga ketemu berkas kalian gue tolak, inget rahasia kalau lo kerja sama gue untu kirim laporan kegiatan Milen. Jagain dia sampe gue selesai urusan!" jelas Diva, datang bagai ancaman.
"Eeiy. Mas Casanova yang naik level beneran. Teganya ngancem kita deh." lirih Kean. Mereka pun langsung berpencar mencari keberadaan Milen.
Namun seorang wanita berlari melangkah memeluk punggung Diva, yang sedang sibuk menerima ponsel. Hal itu membuat mata pria melambai sakit karena wanita bernama Sea itu benar benar membuat mereka ingin meninju.
"Coba klo dia cowo. Udah gue bogem demi Milen tau gak." ketus Misel.
"Emang lo berani Mis?" tanya Rey.
"Tergantung kondisi juga sih. Udah deh, yuk kita cari Milen. Liat Feni sama Farah di sono. Kali aja Milen ada nyelip di sampingnya!"
"Yes. Jadi Milen beruntung kenapa juga sih dia ga terima pisah aja. Dari pada dia sakit hati terus. Ada ome artis hollywood, ada ustad muda beuh jauh dari kelakuan Diva pastinya. Iye gak?" Lirik Rey
__ADS_1
"Gak semudah itu juga kali cacing cawuu." balas Misel yang meraup wajah Rey.
"Cieee. Tangan lo bau cumi nyuuks. Parah lo mah Mis." Rey berlari menjauh dari Misel. Sementara Misel hanya terkekeh tawa kala itu.
Diva terkesiap dan diam memegang erat tangan itu, tapi ia tertegun ketika di hadapannya, Diva melihat Milen yang menatapnya dengan wajah sendu. Namun ia sadar dipeluk oleh Sea dari balik punggung.
'Maafin Mas Milen. Mas harus menyakitimu terang terangan.' batin Diva menatap Milen.
"Seperti inikah caramu mencintaiku Mas. Jelas terlihat kamu tidak bahagia bersama Sea. Tapi mengapa kamu tak jujur padaku. Apa kamu tidak percaya jika aku menerima darah dagingmu bersama Sea. Tinggalkan dia Mas, apa karena aku tak bisa memberikanmu keturunan lagi setelah masa itu. Kamu sengaja memintaku untuk meninggalkan kisah kita?" benak Milen membalikan punggung. Ia mengusap air mata yang tiba saja jatuh. Lalu ia kembali masuk ke toilet wanita. Ia jongkok dan menangis tersedu sedu tak tahan.
Sementara Farah dan Feni mengejar Milen kala itu. Ia berusaha menenangkan hati teman baiknya itu, meski ia menyukai Diva kali ini, tapi akan mantan suami dari Milen yang rumit. Tapi melihat apa yang terjadi ia sangat ilfill dan tak bisa membayangkan jadi Milen.
Tuuk! Tuuk.
"Mil. Milen .." teriak Farah.
"Buka pintunya Mil Ada kita disamping kamu, kamu ga sendirian kok." tambah Feni.
Milen menatap bilih pintu. Ia mengambil tissue dan menyudahi aksi tangisnya. Ketika membuka pintu. Milen langsung memeluk Farah yang ia kenal sangat baik.
"Huhuuuuu. Farah, lo tau gak obat penghilang rasa sakit. Obat amnesia, gue butuh itu saat ini! Andai gue pergi tidak pernah sadar lagi setelah dari koma dua tahun lalu." Pinta Milen membuat Farah terkejut saling menatap pada Feni.
"Udah Mil. Please gue ngerti apa yang lo rasain. Kita pulang ya!"
"Iya Mil. Tenangin diri kamu, kita break ke cafe tebing ya. Itukan tempat paling nyaman untuk saat ini." tutur Feni.
Tak lama seorang pemuda membuat mereka terdiam melangkah. Saat Milen ingin masuk kedalam mobil. Seseorang menyangga dan memberhentikan langkah mereka.
"Assalamualaikum. Ukhti, boleh saya meminta izin bicara dengan Milen sebentar?" Milen, Farah dan Feni menatap pemuda itu.
__ADS_1
Milen pun menatap pria surgawi, yang seolah datang tidak seharusnya kala kedua anak anaknya tadi melihat pentas, dan apalagi jika Diva serta mama Mertua yang ikut hadir melihatnya kini, di berbeda tempat.
TBC.