
Setelah keadaan sedikit tenang, Melin menoleh ke arah Bryan dan menceritakan apa yang ia lihat baru saja, membuat dirinya sakit dan amat sedih mendalam.
"Gue ga sangka, kalau Geri yang selama ini hilang. Dia mati karena pulang sekolah, melihat wanita baju merah dibunuh, di aniaya, di rendahkan mahkotanya. Tapi Geri pulang lewat jalan yang salah, dia bunuh Geri, temen gue, dia di celupin ke sungai. Dan mayatnya terapung, pria itu mengubur dua jasad bersamaan di bawah pohon itu." unjuk Melin.
"Gue ikut prihatin, gue yakin keluarga mereka setelah tahu yang sebenarnya. Dia pasti tenang, setelah kebenaran terungkap." senyum Brian.
"Tapi gue ga bisa lihat jelas, pelakunya! gue harus gimana?"
"Kita hubungi pak Diva! dia satu satunya anggota yang percaya kelebihan lo Melin. Setelah itu kita ke rumah temen lo Geri! dengan begitu, kasih petunjuk sama orangtua Geri, kalau kenyataannya memang anaknya sudah tidak ada." jelas Brian, membuat Melin mengangguk.
***
Seminggu Kemudian.
Berita kabar lewat iklan, dan juga koran memperlihatkan kejadian dua tahun silam.
__ADS_1
Tragedi wanita bisu yang Melin lihat dalam raganya saat berpetualang, dan sosok teman Melin dahulu dibangku biru. Membuat berita tersebar luas. Dengan ciri ciri tatto di bagian pinggang dan bekas jahitan seolah operasi, dan ciri ciri pria itu berjubah. Membuat berita panas kembali bising dengan ketakutan rasa was was tidak tenang. Sehingga gempar banyak warga menutup pintu dan sepi di daerah tersebut.
"Sudah, tanpa kalian kami tidak akan menemukan jasad itu! Dua hari lalu, tes dna benar cocok. Keluarga mereka histeris dan berterimakasih. Karena jasad anak anak mereka kini dimakamkan dengan layak. Melin, setelah ini kamu dan Brian jangan berjauhan. Bisa saja pelaku mengintai kalian, kami meminta anggota berjaga di rumah kalian, dan kemanapun kalian pergi. Bawa ini, ini akan tersambung pada anggota yang tak jauh dari langkah kalian!" jelas Diva.
"Pak, apa harus seperti itu ya. Kita bukan buronan loh."
"Tapi keselamatan kalian, kali ini pasti terguncang. Pelaku pasti was was, bersembunyi dan mencari kalian."
"Pak, bukannya nama kami di samarkan?" tanya Brian.
Brian dan Melin pun mengangguk, lalu mereka pulang ke rumah Geri mampir. Tanpa melihat seseorang mengintai langkah rumah Geri yang sedang di wawancarai oleh berita.
Brian yang sudah sejam, melihat aksi kedekatan Melin dan ibu Geri, yang saling memeluk menenangkan, kenyataan pahit putra semata wayangnya. Yang dikira akan kembali, tapi kembali dengan tulang belulang saja. Milik tas korban bahkan diperlihatkan, hingga satu surat bu Sur, memberikan pada Melin.
Itu adalah surat ungkapan isi hatinya pada Melin saat dibangku sekolah. Brian yang melihat secarik kertas itu, ada rasa panas tergugah begitu saja. Tapi tatapan Melin senyum ke arah pintu kamar Geri yang terbuka, di sana Melin melihat arwah Geri senyum padanya, pakaiannya sudah tidak lagi basah kuyup dengan lumuran darah, pucat pasi arwah begitu saja hilang seketika, kala Brian menepuk bahu Melin.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang?!"
"Iya, kita pulang." sengguk Melin, menghapus air mata.
Dua puluh menit berlalu, Melin yang sedang dibonceng oleh Brian dengan sepeda. Ia berhenti kala seorang pria membawa celurit menghadangnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Melin, lalu menoleh ke depan.
"Bapak itu ngapain ya, apa kita dalam bahaya?"
Seketika pria itu mengejar arah Melin dan Brian, belum mereka melarikan diri balik arah. Satu pria lain lagi menghadang dengan sebuah panah.
"Bapak bapak mau apa, kenapa halang kami pulang?" tanya Melin, membuat Brian membusungkan langkah, seolah melindungi Melin.
Tbc.
__ADS_1