
Milen melihat bayangan hitam itu kembali pergi tak terlihat, namun bukan tanpa alasan kali ini Milen tak mau bayangan itu menyangka dirinya masih melihat hal hal ganjil, namun mata batin terbuka atau tidak, tetap saja orang terdekat selalu pergi dengan cara tragis, entah harus bagaimana melumpuhkan hidup Milen bak orang normal, sama seperti orang lain yang bahagia menjalani hidup.
'Mengapa semuanya seperti ini tuhan, aku tidak ingin balasan pada orang yang aku sayangi. Meski ia telah menyakiti batinku. Aku harus apa tuhan kenapa aku selalu begini.' batin Milen.
"Lalu kondisi Sea bagaimana dokter. Dan bayinya bagaimana?"
Dokter hening. Meletakkan kacamata dan meminta untuk bersabar dan tabah.
"Mohon maaf. Nona Sea dan Bayinya kami tidak bisa selamatkan. Kami mohon maaf yang sebesar besarnya. Bu Milen yang tabah!"
Milen terdiam kaku. Tubuhnya lemas berangsur angsur bagai tanpa tulang. Sehingga ia menatap Kembali manik manik langit dan wajah dokter samar, ketika bayangan hitam ada di atas kepalanya.
'Jangan menghindar Milen, aku telah membalaskan dendam kamu. Kembali lah seperti dulu, kami orang terpilih yang tidak boleh percaya pada manusia yang munafik.' bayangan hitam itu tertawa lebar dan pergi.
BRAAGH.
"Bu. Milen bangun, sadar Bu!" titah dokter.
Beberapa jam kemudian. Milen terbangun, ia menatap seseorang dengan bayangan dengan kaos putih saat dirinya pingsan.
"Mas. Apa itu kamu?" tanya Milen.
"Kamu sudah siuman Mil. Istirahatlah, semua nya sudah saya selesaikan. Ada Rei, Kea dan Mis teman baik kamu membantu pemakaman Sea. Juga untuk suamimu, ia kini di rujuk di penang. Ada baiknya ia di rawat di sana dekat dengan keluarga!"
Milen bersandar. Lalu menatap jelas jika pria disampingnya adalah Alva. Tak menunggu Lama ia meminta Alva untuk pergi dan menjauh. Karena tak layak jika mereka berada di ruang rumah sakit berdua saja.
"Pergilah Alva. Aku tak bisa, bagaimanapun kita bukan muhrim. Apa jadinya jika kamu dekat dan membantu saya. Saya tidak ingin Ummi dan Abie kamu salah paham!"
"Aku sudah menjelaskan. Apapun itu, kita saat ini hanya kontrak kerja. Sudah seharusnya sebagai atasan aku membantu."
"Tetap saja orangtua kamu berbeda padaku."
"Istirahatlah. Untuk kali ini aku wajib membantu kamu segera pulih!" ujar Alva.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Milen berada dalam pemakaman. Sea kini telah berada di tanah dengan taburan bunga. Meski ia sangat sakit, tapi ia tak bisa melihat semuanya berubah dalam satu malam.
__ADS_1
"Mah. Apa mas Diva baik baik saja?" tanya Milen pada Mama Mertua.
"Kamu tenang ya. Papa telah mengurus dibantu Alva. Dia juga yang memberi keterangan jika kejadian itu murni kecelakaan. Sea ingin mencelakai kamu, tapi Diva menghadang sehingga semuanya menjadi seperti itu."
"Apa. Kenapa Alva lagi?"
"Ya. Berterimakasih lah, kamu bersabar menunggu Diva sembuh. Kita tak pernah tahu rencana tuhan. Kesabaranmu membuat Tuhan melindungi mu sayang. Jangan pikirkan semua pasti baik baik saja!"
Milen saat di rumah sakit. Ia jelas menatap suaminya sedang koma. Dengan wajah yang semakin pucat. Lalu dengan sadar ia meminta untuk menunggunya. Dan ia bersedia menunggu Diva hingga sembuh dalam keadaan apapun.
"Milen akan selalu menunggu kesembuhan Diva Mah." lirihnya.
"Ya. Milen sayang, meski ia sembuh dengan cacat pun. Ia harus mempertanggung jawabkan untuk menerima di jeruji besi. Bersabarlah!"
"Itu gak mungkin mah. Milen akan menyerahkan diri, Milen tak sanggup jika Diva yang lemah sudah di tetapkan tersangka. Itu tidak adil!"
"Milen. Itu tidak akan terjadi, kamera dashboard dan cctv kejadian sudah kuat untuk bukti sayang. Mama paham tapi bersabarlah!" ujar mama May.
Milen pun kembali berada dalam kamar. Di temani mama May. Ia begitu hancur dan terpukul saat ia hanya bisa melewati hari hari dengan kesedihan.
Hari berlalu dari waktu hingga sudah enam bulan lebih tak terasa. Ia hanya bisa menatap video call keadaan suaminya Diva.
CEGLEK.
"Hai. Mil, gimana sudah selama ini. Kamu udah sehat, sini. Aku seneng ye bisa bahagia cerah lagi." ucap Rei, menyambar kala Milen kembali bekerja.
"Iya. Thanks ya. Kalian baik banget, dari awal hingga aku terpuruk. Kalian selalu bantu dan ada. Maaf membuat kerjaan menumpuk!" senyum Milen.
"Brebes beres ... Itu mah ga masalah!"
"Owh. Ya udah, aku mau keruangan Tuan Ha. Apa dia ada?"
Semua melirik menatap Milen. Bahkan Mis lupa memberitahu. Jika Tuan Ha alias Alva sudah tidak beroperasi di sini.
"Ga mungkin. Dia ke penang, kok bisa di tugaskan?"
"Bisalah. Kan sekalian mau honeymoon katanya."
__ADS_1
Owh.
Milen hanya tersenyum. Ia bersyukur karena selama ini Alva sudah tak mendekatinya lagi. Sehingga hari di mulai, ia menyapa kedua anak anaknya. Lalu menatap video call untuk tersambung pada mama mertua sekedar melihat keadaan Diva juga.
"Aneh. Udah sejam kok ga bisa di hubungi sih?" pikir Milen.
Milen kembali memencet tombol. Ia menatap benar tidak salah, tapi apalah daya. Ia hanya menggerutu karena satu hari saja ia tak bisa, jika tak bisa menghubungi Diva setelah menghubungi kedua anak anaknya.
"Ini adalah kesepakatan. Saya akan berusaha membahagiakan Milen. Dan semuanya akan baik baik saja. Saya berjanji setelah Diva pulih dan keluar dari jeruji besi selama lima belas tahun. Saya akan mengungkapkan yang sebenarnya!"
Tuan Ste dan Mama May terdiam. Bagaimana bisa Alva muda mengambil ahli dan berpura pura menjadi Diva selama itu. Lalu dirinya sesak saat kedua anak Milen memanggilnya ayah.
"Ayah. Kamu adalah terbaik dan sempurna."
Melihat Rein dan Reina yang berlari memeluk sang ayah. Ia langsung tersenyum lebar.
"You're seriously not crazy are you?"
"Pikirkanlah. Saya serius pah. Sudah berapa kesakitan Milen yang ia alami. Lagi pula, aku juga anak papa yang terbuang bukan. Kenapa papa tidak mengakui."
Stev dan May hanya melemas. Setelah banyak berbicara panjang. Ia akhirnya menyetujui untuk merahasiakan pada Milen. Sehingga ia menandatangani agar semuanya tertutup rapat.
Dan Diva yang sebenarnya masih dalam keadaan koma dan dalam ruangan intensif di house private.
Hingga akhirnya Alva pergi ke kamar kedua anak Milen. Ia memang tak bisa tinggal di kota padat karena sebuah pigmen kulit yang tak baik jika berlama lama panas. Hal itu yang membuatnya terpisah jarak pada sang ibu.
"Sayang. Ayah akan kembali dan membawa Bunda lagi. Setelah pekerjaan bunda selesai. Rein dan Reina janji jadi anak baik. Oke!"
"Eum. Love You Ayah."
Beberapa tahun lalu, Umi Abid menikah dengan Stev dalam keadaan hamil, lalu dinikahi Ustad Abi. Tidak ada yang tahu, jika Alva adalah kakak dari Diva yang terbuang. Kisah kelam itu, kembali menarik Stev yang terdiam kaku, lagi pula memang salahnya dan Milen menderita karena Diva khianat, hanya bisa menutup rahasia sampai mati.
Terlebih mama May, seolah tak kuat ketika disadarkan masa lalu suaminya yang ditutup rapat selama puluhan tahun. Lagi pula, ia adalah istri terakhir tuan Stev, namun tak sangka dirinya begitu terpuruk akan suasana hidup orang berlebihan uang, banyak misteri yang ditutupi demi pamor dan asetnya bertahan.
"Percayalah takdir Milen hanya bisa di putus oleh aku pah! Dia wanita berbeda yang mana tali merah jodoh kami harus bersatu, maka dari itu setiap pria yang meminangnya akan berkahir tragis." jelas Alva membuat kedua orangtua Diva terdiam.
TBC.
__ADS_1