Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Pembunuhan Keluarga


__ADS_3

Suara itu berasal dari kaca yang berdenting. Melin segera bergegas menuju ranjangku dan melihat jendela yang sedikit terbuka tirainya.


"Ting. ting, ting...." Suara itu kembali menggangguku. Aku melompat dari ranjang, dan menutup tirai jendelaku dengan cepat.


"Ting, ting, ting..."


"Hah, jangan pernah menggangguku! Aku tidak mau. Pergilah!" batin Melin berteriak, sementara Brian di sofa luar seolah tak mendengar ketakutan Ku saat ini yang ada di dalam.


Kakak! tolong kami, kami datang meminta bantuan kakak! ungkapkan kematian tragis kami!" kakak kami tahu, kakak mendengarnya!


Suara mereka sudah memekakkan telingaku hingga batinku berteriak, "Diaammmmm....."


Sambil menahan nafasku yang terengah-engah, aku semakin mendengar suara dentingan itu dengan sangat kencang.


"Ting, ting, ting...."

__ADS_1


Suara yang semula aku kira berasal di kaca jendela kamarku, ternyata saat kupalingkan pandanganku, suara itu berasal dari cermin rias yang terletak di tengah kamarku.


"Tolong......" wajah wanita dengan memakai baju merah bercampur air hujan dengan cairan kental merah segar yang menutupi seluruh wajahnya.


Teriakan itu membuatku semakin menunduk dan terjatuh di lantai. Melin menatap wanita berbaju merah, tiga anak anak itu di tarik oleh seseorang dan dibunuh sangat kejam. Wanita itu juga terus saja di hujam dengan benda pipih satu meter, menembus perutnya keatas jantung. Sementara anak anak kecil itu di tarik dan dilemparkan batu yang amat besar berkali kali.


"Aaargggh!" teriak Melin.


Hal itu membuat Brian dari luar kaget, ia membuka pintu kamarnya dan melihat Melin sedang ketakutan yang tak biasa, bahkan bukan tanpa alasan Melin menangis tiba saja memeluk reflek Brian.


"Lo ga apa apa kan?"


"Melin, sabar ya! gue yakin lo pasti kuat, hal yang ga biasa orang lihat, tapi lo bisa lihat. Gue ambil minum dulu ya!"


Beberapa saat Brian mengambil minum, lalu memberikan pada Melin. Setelah di rasa Melin tenang, hal itu membuat Brian mau bertanya lagi.

__ADS_1


"Melin, lo kenapa? lo dapat sesuatu, lihat sesuatu lagi?" panik Brian terbangun.


Melin yang refleks tadi memeluk Brian ia meminta maaf, sehingga Brian kebingungan. Melin berbicara ia melihat semuanya, ia melihat dan tak tega melihat semua yang nampak.


"Gue lihat semuanya Brian! tiga anak dan istri polisi yang di minta pak Diva. Gue tahu sekarang ada dimana. Yang bunuh orang terdekat, pelaku berpura berpura gila di rumah sakit jiwa saat ini." jelas Melin yang masih mode menangis.


Astaga!!


"Jadi mereka bukan hilang, tapi pelaku nya suaminya yang di rumah sakit jiwa, demi biar ga dihukum. Biar gue hubungi pak Diva, kerjaan kita hanya kasih informasi, biar pihak mereka yang usut buat bukti kebenarannya."


Melin pun mengangguk, sehingga Brian beberapa saat bertanya apa ada janggal dengan tanda penghuni pada saat pembantaian. Melin sedikit memejamkan mata, guna melihat terawang letak yang ia lihat, seperti mimpi namun nyata.


Taruna, dekat sekolah taruna ada pabrik gentong tanah liat, rumahnya berpagar coklat kusam. Ada bel berbentuk kucing, dengan tanda merah di pintu Kiri, dibawah situ ada kotak yang mungkin benda barang bukti dia kubur setelah di bakar gosong.


Deg.

__ADS_1


Melin berbicara, hal itu membuat Brian menyampaikan lagi perkataan Melin ke pak Diva sang intel yang meminta bantuan Melin dan Brian bekerja untuknya.


Tbc.


__ADS_2