Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Mengikuti Reina


__ADS_3

Esok harinya, Reina seperti biasa ia bekerja tanpa melihat Azam, karena yang ia dengar ia sedang tugas menjadi pilot. Di kantor ini hanya dua sampai tiga kali dalam seminggu, dalam hitungan jam di perusahaan property.


Sangat leluasa ia mengerjakan pekerjaannya, hingga tak terasa sudah malam ia akan pulang. Baru saja ia keluar dalam sebuah halte, menuju perumahannya, melewati fly over khusus pejalan kaki, Reina kembali terkejut akan seseorang memanggilnya.


Saat berjalan menuju ruangan, seseorang memanggilnya dengan gaya setelan pengantar makanan delivery.


"Reina..." teriaknya.


Hah!


Ia menatap Roy, dengan pakaian hitam dan topi kuning, dengan membawa box pizza. Ada rasa syok, kenapa Roy, bisa segila ini ke kantornya mengejarnya, seolah mencari perhatian.


"Mas Roy lagi, astaga ku mohon mas pergi! Ini masih dekat kantor loh!"


"Ya, siapa bilang bukan kantor. Reina aku minta maaf soal kemarin aku datang ke kantor dan menunggumu hingga malam, aku datang untuk...,"


Reina melepas tangan Roy yang menempel dan berusaha lari, kabur dari Roy sebelum Roy, menjelaskan dan bicara soal kedua anak anaknya. Entah apa yang dipikiran ibunya, sehingga ia mempercayakan Roy untuk menjaganya, meski ditendang dari keluarga. Tapi Reina hanya ingin hidup tenang, dengan kedua anak anaknya dan hidup dengan stabil bahagia. Setelah pindah rumah pun, kenapa Reina selalu saja di bayang bayang ketakutan hidup pria, sudah tiga kali pindahan masih saja bertemu.


Roy, mengejar Reina, ia belum selesai bicara tapi sudah ditinggal lari.


Roy mengejarnya, hingga ia menepi ke sebuah dinding ruangan yang berleter L dan berbalik dengan cepat agar menjauh dari Roy.


Reina berusaha agar sampai di ujung sudut ruangan, menyambung ruangannya, karena hanya khusus staff dan oranglain tak bisa masuk.


Ia berlari dan berbelok arah, ketika tangannya hampir di raih oleh Roy. Tubuhnya terpental tubuh seseorang, yang ikut menyangganya dengan sempurna. Reina cukup terkejut dan merangkul tepat di balik celah jenjang leher kokoh yang berdiri tegap. Mereka saling terkejud dan menatap satu sama lain.


Haaaah!!


Aaaakh ...!


Reina menatap sempurna ketika tubuhnya memeluk Azam, saat berbelok arah yang berlawanan. Karena ia tak tau jika Azam juga akan melewatinya. Sontak Azam ikut terkejut akan pelukan spontan dan menatap tajam ketika ada pria yang mengejar Reina, meski itu bukan urusannya, tapi kali ini Azam menatap tajam, karena pria itu lagi berani menganggu karyawannya seolah mengintil.


Sehingga Reina yang ingin bangun, Azam membalas pelukan dan merangkul punggung indah Reina.

__ADS_1


"Eh, apa yang kamu lakukan. Lepas!" bisik Reina.


Azam pun, berbisik lembut pada Reina, ia menatap mata indah yang panik, debaran jantung yang menempel dan jelas kencang terasa.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu jauh jauh."


Azama melirik Reina dan menatap ke arah Roy. Reina pun terdiam dan menjawab dengan terbata tak percaya.


'Aku harus jawab apa, jika aku melepas pelukan sama saja aku memihak Roy. Jika aku tidak melepas sama saja aku memihak pria masa lalu, roh iblis yang ku benci ini dan Roy akan mengira aku di pihaknya, kenapa aku jadi simalakama. Tidak memihak keduanya tapi ...' batin Reina.


Reina menutup mata tak percaya, ia bagai ada di dua gunung di dataran rendah yang harus memilih salah satunya, tapi kembali pada mantan ayah dari anak anaknya itu, Reina tak sanggup jika harus tersakiti untuk kedua kalinya. Bahkan kembali pada Roy yang mengejarnya karena bisnis keluarga, Reina tak suka karena menganggap Roy sebagai kakak penolong usaha ayahnya yang tidak jadi bangkrut, karena ulah keluarga Azam untuk pergi sejauh mungkin dari kehidupan Azam.


"Kenapa kamu diam sayang?" bisik Azam semakin erat.


"Kau, jangan lagi ganggu wanitaku! kau tahu siapa aku kan?"


Roy pernah melihat samar pria di depannya, keluarga pemilik proyek terbesar dan konon ia adalah seorang pilot disegani karena ketampanan, dan kekayaan unlimited.


"Reina kita bicara lain waktu, aku tidak percaya kau dan dia sok ganteng ini, punya hubungan denganmu." ujar Roy, pergi mengendarai motor besarnya.


"Aku tidak berhutang padamu kan! kita profesional, dan aku harus pulang, permisi."


"Aku antar ya Reina."


"Rumahku bukan disini, jadi tetaplah menjadi bos dan atasan Tuan Azam. Kita tidak pernah mengenal, lagi pula aku hanya bertahan menjadi office girl, agar aku tidak memberi denda lima juta, pada perusahaan merugikan di kantor anda."


Gleuuk!


Azam tak bisa menjawab, entah soal Reina, ia seperti pria hilang akal tidak bisa marah.


Heru kali ini menelan saliva, baru kali ini bosnya ditolak mentah. Sadar jika Azam di permalukan ditolak mentah, lalu menatap dua jari agar Heru bungkam.


Pasalnya Azam, adalah pria yang sering bergonta ganti pasangan, bahkan pernikahannya saja diambang perceraian karena Azam selalu chating online, double date dengan para seleb hits, dikalangan selebgram yang kerja sama, tapi Azam diuntungkan sehingga ia menerima, siapa lagi yang bisa menolak bersama wanita cantik. Dan wanita cantik pun tidak menolak, karena merasa di untungkan bisa berfoto, apalagi masuk berita dengan pria bernama Azam.

__ADS_1


Azam pun hanya bisa melihat Reina pergi, dengan sebuah ojek online dan berlalu begitu saja. Sambil memikirkan cara untuk bisa dimaafkan oleh masa lalunya dengan wanita itu. Ia juga penasaran bagaimana kehidupan Reina saat ini, sampai sampai ia menjadi office girl dikantornya.


"Heru, kau bilang rumah Reina di daerah sini?"


"Benar bos! sesuai dokumen kantor, tapi jika ia bicara rumahnya jauh dari sini. Bisa saja dia sedang menghindar."


"Begitukah, apakah dia begitu membenciku?" ujar Azam, berputar dan jalan ke kiri dan kanan sambil bergerutu, sementara Heru mengikuti langkah kaki sang bos yang tampak lusuh.


"Kau tahu kan, aku tampan. Tidak sedikit wanita, pramugari, selebriti dekat denganku, sehingga aku selalu jaga image dingin, dan cool?" tanya Azam.


"Benar bos! tapi hanya gadis bernama Reina, jatuh harga diri anda bos, bahkan seperti memohon meminta diperhatikan untuk dekat dengan ...."


"Kau bilang apa?" tajam Azam.


"Ah, bos rapat penting. Dan nyonya Shi sudah hubungi berkali kali. Apa.." belum sempat Heru bicara sudah di potong menuju mobil.


"Tolong cepat proses perceraianku dengannya! ayo kita berangkat sekarang!" teriak Azam, sudah masuk ke dalam mobil, membuat Heru hanya menggeleng kepala.


'Huuft! sadarkan aku Tuhan.' gerutu batin Heru, menghela nafas.


Akan tetapi saat itu, Azam meminta berhenti ditengah jalan, setelah mobil berjalan selama puluhan menit.


Stop!! teriak Azam.


"Stop! Heru, kau lihat dua anak itu. Bukankah salah satunya, anak laki laki yang pernah melukis mobilku kan?"


"Benar bos."


"Cepat ikuti dia! aku merasa tertarik pada dua bocah itu."


"Tapi dia masuk ke kedai merah bos. Apa kita menunggunya?" Heru menoleh, dan tahu arti tatapan tajam Azam.


"Baik bos. Kita akan mengikutinya dari sini." Heru pun kembali fokus, dibanding salah kerja ia akan di potong bonus gajinya selama setahun, namun mereka terkejut saat yang diperhatikan memeluk seorang wanita. Yang membuat Azam ingin turun.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2