Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Pesan Misteri Reina


__ADS_3

"Jadi bisa di pastikan putri anda di temukan Tuan." ujar Heru, kala Alva duduk di kursi goyang kebesarannya.


"Kau tidak salah kan? Siapa dia, cepat beritahu aku Heru!"


"Anda pernah bertemu dengannya, hanya saja. Saya membutuhkan Tuan, untuk memancing! maaf Tuan. Saya harap Bu Milen memintanya datang, agar anda bisa tahu apa yang terjadi antara istri Tuan dan putri anda. Maaf jika saya lancang bergumam seperti ini!"


"Hah, rasanya mustahil sekali jika aku meminta Milen datang, terlebih kau tahu. Dia mengusirku."


"Saya punya ide Tuan, bukankah ulang tahun putri anda, 03 febuari, 1988."


"Benar, aku tidak tahu seperti apa kehidupannya."


Heru memberikan sebuah proposal, dimana ia bertugas membuatkan ulang tahun secara private di gedung Carlton, atas nama putrinya, dan memberikan sebuah undangan untuk bu Milen dari putrinya.


Bahkan biodata Reina. Dan sebuah foto yang amat Alva terkejut, dia adalah istri baru Azam. Dengan dua anak yang pernah ia lihat di rumah sakit, bahkan ia pernah memarahi dan mengancam Reina dengan tidak pantas.


"Astaga! Kau tidak sedang membodohiku kan?"


"Tuan, dari arsip agent menelepon, nomor ini tertuju pada Reina, kemungkinan dia putri anda Tuan. Dan maaf, hubungan putri anda dan bu Milen tidak baik, karena suatu hal."


"Hah, jadi putriku begitu dekat, tapi aku tidak sadar. Bagaimana bisa aku menjadi ayah yang bodoh, tidak merasakan ikatan batin pada putri sendiri, karena apa masalahnya?"


"Itu di luar kuasa saya Tuan, yang jelas putri anda pernah hamil di luar nikah, putri anda adalah cinta masa lalu Azam, yang digilai nona Shi, dan ada kemungkinan putri anda dijebak, oleh orang terdekat anda." jelasnya, membuat tatapan Alva gusar.


Menghela nafas, Alva meminta Heru untuk tidak melanjutkan bicara, bahkan dirinya enggan untuk berkomentar. Meminta dirinya sendiri untuk merenung atas perlakuan tidak baik pada putrinya sendiri, bahkan Heru melihat dari samping pintu. Jika Tuan nya itu sedang tidak baik baik saja, menangis pilu menatap foto lembaran yang ia berikan.


Heru sendiri sebenarnya bingung, ketika Azam memberi pesan email. Dimana amat kebetulan, dirinya sedang mencari beberapa kegiatan bu Milen, yang sering diam diam menelepon tapi tak di angkat, dan kebetulan data itu kongkrit.

__ADS_1


Sehingga sebuah informasi dirinya bisa kembali melihat kebahagiaan Tuannya, dan Azam kemungkinan kembali menjadi Ceo, terkait Alva dan Azam sedang tidak baik baik saja, karena persoalan bu Jing, sang besan.


Heru, sebenarnya lelah. Ia ingin hidup seperti yang lain, berkeluarga dan tentunya melepas dirinya menjadi tangan kanan Alva, apalagi dirinya ingin memperjuangkan cinta yang tidak mungkin mulus, jika ia masih bekerja sebagai tangan kanan seseorang berkuasa.


Mungkin, Heru akan kembali menjadi intel, dimana melihat tuannya sudah menemukan putrinya, tugasnya berakhir tak perlu merasa bersalah.


Heru berdiri, setelah melihat kamar Shi yang masih dipastikan, oleh sang bibi wanita itu ada di dalam, ia pergi namun terperangah menatap foto lembaran mendiang sang ayah, tugas Heru sebenarnya menggantikan posisi sang ayah, hingga wasiat menemukan putri Alva benar benar membawa kebaikan bagi semua.


'Ayah, Heru akan kembali ke bangka. Setiap hari bekerja seperti dulu, dan bisa mengunjungi nisan ayah.' lirihnya dan melangkah.


Sementara Di Beda Tempat.


Reina yang melihat video Azam, akan bekerja menyempatkan mengirimnya sebuah video rindu, membuat tatapan Reina senyum senyum sendiri, bahkan tak khayal Reina merasa ingin tertawa ketika Azam kembali bucin, dulu Reina lah yang bucin tak bisa jika sedetik saja, tidak melihat wajah Azam.


'Dasar pria gombal.' lirih Reina menatap layar ponselnya.


"Enggak, bunda ikut Bima aja ya bunda. Main basket."


"Main badminton. Eh, kak Bima gajebo deh. Bunda harusnya main sama perempuan dong."


"Hey, sayang bunda. Ada apa sih, kok ribut rebutan gini?"


"Bunda, kita kesepian. Ayah kapan pulangnya bunda?"


"Em .. Baru juga beberapa jam di tinggal, dua hari lagi ayah akan pulang, karena pekerjaan ayah disini. Kamu mau gak, kalau kita tinggal disini?"


"Serius bunda. Terus sekolah kita pindah dong?"

__ADS_1


"Eum. Sepertinya home schooling, tapi nanti kita scroll lihat lihat ya. Masalahnya, maafin Bunda, bunda udah di amanat Ayah, untuk tidak pergi pergi dari kota ini sayang. Karena Bunda benar benar enggak hafal, dan Tahukan, Ayah kasih smart pintar, kalau kita butuh sesuatu. Pasti datang! Tapi Kanya dan Bima enggak boleh keluar villa ini, tanpa bunda. Kalian mengerti kan?"


"Iya Bunda. Kami paham." serentak Kanya dan Bima memeluk.


Tlith.


Getar ponsel Reina, nada itu adalah sebuah pesan.


"Sebentar Bunda lihat dulu, siapa ya yang hubungi Bunda?"


"Ayo bunda lihat, siapa tahu ayah mau video call."


[ Nak, kamu benar di swiss. Hari ulang tahun mu, Ibu akan menyusul kamu. Beri tahu ibu, dimana lokasi kamu saat ini. Kita bertemu! ]


Deg.


Reina terdiam beberapa saat, bagaimana bisa ibunya tahu dirinya ada ... Apalagi nomor ponsel yang baru, nomor ini langsung.


'Apa ibu saat ini ada di sini?' batin Reina kebingungan.


"Bunda kenapa?" tanya Kanya, membuat Reina sadar dari lamunan tadi.


"Ah, enggak apa apa sayang. Ayo kita main, kita ke ruang belakang ya!" di anggukan Bima dan Kanya.


Sementara Reina, merasa kebingungan dengan apa yang baru saja ia lihat, tidak biasanya bunda Milen mengabari manis seperti ini, dan ingin menemui lebih dulu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2