Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Kisah Anak Milen


__ADS_3

Kembalinya pernikahan ketiga Milen kali ini, membuat hidup Milen baik baik saja. Di tambah benar kutukan itu benar benar nyata kehidupan Milen dan Alva Muda beranjak hingga dua puluh tahun kemudian, dimana tidak ada lagi bayangan hitam, arwah penasaran yang mengikuti Milen dan kehidupan Milen saat ini benar benar baik dan bahagia.


Hingga sampailah Milen berpisah pada kehidupan anak gadisnya bernama Reina, dimana Milen dan Alva Muda sudah tinggal di negeri tetangga, yakin negara Inggris. Apalagi kisah Reina putrinya bersama Diva terlihat tidak baik, ia hamil di luar nikah membuat Alva Muda kesal dan tinggal tidak satu negara demi sebuah nama keluarga tetap baik.


***


"Bima, Kanya! Ayo nak kita sudah terlambat." teriak Reina, yang kala itu di bantu sang bibi saja.


Reina amat kerepotan, ketika pekerjaannya sedikit kerepotan. Bahkan ia harus mengantar buah hatinya ke sekolah, karena masa tk pertama anak anaknya saat ini.


"Iy bun, Kanya udah Siap. Bang Bima tuh lama umpet tas Kanya." ujarnya sedikit cadel.


"Ayo nak! kita sekarang sudah hampir terlambat."


"Tapi Bunda janji kan, setelah pulang sekolah kita nge mall. Bima mau beli pensil warna dan kanvas bun." celotehnya fasih, hanya anak perempuannya saja sedikit cadel.


"Iy nak! Bi, nanti Reina jemput bibi ya, setelah Reina pulang kerja. Hari ini hanya interview semoga keburu."


"Iy Nyonya. Bibi Pasti akan siaga jaga Den Bima dan Si cantik Kanya di sekolah."


"Ah! Makasih ya bi."


Mereka pun berjalan menempuh jarak yang tidak jauh, hanya lima belas kilo saja dari rumah ke sekolah kedua anaknya. Beruntungnya lagi Reina, mempunyai bi Ros seperti ibunya sendiri ia perlakukan. Sehingga Reina pamit ketika memeluk kedua anaknya yang bersekolah tk saat ini.


Beberapa jam kemudian, aktifitas Reina pun selesai. Ia hampir bertabrakan dengan seseorang, dan meminta maaf menuju pulang karena Reina terburu buru, dan terlihat kedua anaknya bersama bibi Roh.


Selepas pria itu pergi, setengah jam berlalu. Reina turun dari anak tangga bersama kedua anaknya. Bibi pun memberikan sebuah surat. namun ia tak langsung membacanya. Ia menanyakan apa ada hal perkataan yang ingin disampaikan. Tapi bibi berkata tidak ada selain sepucuk surat.


"Bunda, ayo .. kita bermain. Bantu aku melukis!" ucap Bima, yang merajuk minta pulang.


"Oke..sayang." Reina pun melanjutkan menemani kedua anaknya melukis dan bermain boneka bersama setelah makan malam, kedua anaknya yang kembar itu sepasang seolah melengkapi hidup Reina dari keterpurukan selama ini, dimana ia tidak boleh tinggal serumah dengan bunda Milen yang sakit sakitan.


Reina melupakan sosok pria yang pertama kali membuatnya jatuh cinta, tapi kala ingat masa lalunya, dia bukanlah wanita baik karena terlalu bucin, sehingga ia menutup rapat seorang pria yang mendekatinya. Mana mungkin setiap pria mau menerima masa lalunya yang runyam bukan? apalagi sudah mempunyai anak di luar nikah.

__ADS_1


Menjelang esok yang libur Reina berharap akan pergi ke mall untuk belanja keperluan dan mengajak bibi Ros ikut. Untungnya besok hari libur Reina bisa santai bersama kedua krucil manja menggemaskan ini. Gumam Reina tersenyum, setelah sampai di tempat bermain bagi anak balita.


Reina pun meregangkan otot kaki tangannya. Setelah sang anak lebih dulu tidur. Ia tak membuka surel tawaran pekerjaan lain karena lupa, ia meletakkannya di sembarang meja rias sebuah laptopnya lalu ditutup. Sebelum ia membacanya dan ia kembali menarik selimut tidur di samping kedua anaknya itu.


"Good night, Raja dan Ratu mama." Reina mengecup kening kedua anaknya.


***


Keesokan harinya di mall GI.


Reina dan kedua anaknya serta bi Ros. Ia telah berbelanja kebutuhan dan menaruhnya di loker penitipan. Ia berencana mengajak anaknya bermain di time zone dan berkeliling main di dalam mall setelah makan.


"Bi, Reina titip Bima dulu ya, Reina ke toilet sebentar."


"Ia nyonya. Saya akan jaga den Bima dan Neng Kanya, disini."


"Sayang, kalian jangan nakal. Nurut sama bibi Ros ya! Bunda cuma sebentar aja."


"Iy bunda. Kami jadi anak baik kok." serentak membuat Reina menggemaskan.


Reina panik pun membawa Kanya putri kecilnya sekaligus mengganti diaper. Sementara Bima berada di taman mall dekat dengan loby utama bersama bibi Ros menunggu. Awalnya Bima dan bi Ros melihat air mancur yang begitu saja mengalir ke atas. Sehingga menjadi menarik perhatian anak itu. Bima sendiri tipikal anak yang genius, di usia 4 tahun ia pandai melukis.


Tak lama, tiba saja bibi Ros berteriak dan berlari mengejar Bima yang tiba saja berlari kencang. Ia menyusuri sebuah mobil putih mewah. Anak itu berdiri dan melukis di depan mobil itu dengan gambar wajah sang bunda yang memeluknya dengan puluhan menit saja. Bi Ros mengejar kehilangan jejak karena ia sudah cukup renta, sambil berteriak.


"Den, Bima.. kamu dimana den." teriak bibi.


Bima asik saja melukis Air mancur. Bagaimana tidak anak seusia Bima sudah lihai dan mempunyai bakat dalam menggambar. Hanya saja ia tak mengerti melukis gambarnya jika disembarang tempat.


Bima pandai mengukir itu dengan cat warna yang baru saja di belikan sang Bunda tadi. Sementara tuan Kenan dari arah lain yang ingin masuk ke dalam mobilnya, ia cukup terkejut menatap bocah kecil itu tiba saja mengingatkan dirinya ketika ia kecil. Ia memperhatikan dan tersenyum melihat aksi bocah itu ketika menerima sebuah panggilan untuk pertemuan.


"Anak itu melukis di mobil kita tuan, biar saya hentikan!" ucap Heru pada atasannya Azam.


"Biar saja, kita lihat ia menggambar apa. Dan beri tanggung jawab pada orangtuanya dengan semestinya karena lalai." titah Azam gusar, sehingga asisten Heru pun menurut.

__ADS_1


Azam sendiri merasa kagum akan bocah itu, mengeluarkan cat air sama seperti kebiasannya dulu. Hanya saja, ia yang sibuk akan bisnis dan tumpukan pekerjaan membuat ia tak punya waktu melukis akan hobinya itu. Apalagi keadaan rumah tangganya amat runyam di ambang perceraian.


"Den, Bima .. Kamu dimana nak?" teriak bibi.


Bibi Ros yang mencari berkeliling pun, dibantu security mall. Akhirnya menemukan keberadaan Bima.


"Den Bima, jangan bikin hati cenat cenut. Ya ampun, panik deh.., Bima kamu menggambar dengan cat itu di mobil mahal.?" bibi Ros terkejut. Karena mobil mewah itu telah di ukir dengan cat air yang tak akan hilang, terlihat jelas goresan baret pada mobil mewah putih itu.


"Astaga den! kamu gambar Bunda di mobil orang nak. Bibi harus buat apa den."


"Apa Bima salah bi, apa Bima salah bukan melukis di mobil bunda?"


Terdiam bibi Ros! Jelas bi Ros tahu mobil itu mahal, ia pernah melihat tuan besar pergi dengan mobil itu juga, hanya berbeda warna.


"Bagus gak?" gemoy Bima, menatap bibi.


Semua mata hanyut, termasuk pemilik mobil itu menghampiri.


"Anda ibunya.. Atau ..?" tegur Azam, membuat bocah itu menunduk, dan memegang erat tangan bi Ros.


"Maafkan den Bima. Tuan, dia anak majikan saya."


"Ayo panggilkan Ibunya sekarang!"


"Tuan ganteng, kita sesama pria. Biarkan aku yang bertanggung jawab! Aku mohon jangan lihatin Bunda. Bima salah, Bima pikir ini mobil Bunda karena sama putihnya."


Gleuuuk! Fasih anak itu membuat Azam melirik asistennya.


"Tolong berikan kartu nama ini pada ibunya!" bisik Azam pada asistennya.


Entah angin apa, Azam menatap gambar lukisan itu seperti familiar.


"Baiklah, apa tanggung jawabmu nak?"

__ADS_1


"Bima minta maaf!" ucap bocah itu menunduk, membuat Azam saat itu gemas dan ingat sesuatu karena matanya mirip seseorang.


Tbc.


__ADS_2