
"Kok bisa, Azam sebut nomor kamu istrinya?" tanya Diva.
"Aku enggak tahu Diva, aku enggak mungkin datang! jika ibu Jing tahu, dia pasti ga akan kasih ampun buat aku. Aku dah berjanji buat lupain, apapun tentang dia." ujar Reina, kembali menata kue.
Diva yang melihat wajah Reina, terlihat begitu rapuh dan cemas. Menandakan ia masih mempunyai hati pada Azam.
"Ren, apa kamu masih cinta sama dia?" tanya Diva.
"Div, bahkan aku sendiri tidak tahu. Dan tidak ingin berhubungan lagi dengannya."
"Ta-..."
Tak lama, bus kedua anak anak Reina tiba. Hal itu membuat, percakapan pun terhenti. Reina pun kembali memeluk setelah Kanya, dan Bima berhamburan kedalam pelukan bundanya.
"Bunda. Bima rindu banget."
"Iya bunda. Kanya juga kangen banget .. padahal kita berpisah cuma beberapa jam, tapi rasanya kaya setahun .. dua tahun .. bertahun tahun." manja Kanya.
"Realy. Oh, anak bunda yang manis. Makasih sayang, ayo kita masuk ya!"
Diva pun turun menyapa, bahkan kali ini mencoba mendekati Bima dan Kanya. Meskipun terlihat nampak oleh Reina, jika kedua anak anaknya terlihat asing tak terlalu excited jika betemu Diva.
"Bun, kok paman Azam. Enggak datang main ke rumah ini lagi ya bun?" tanya Bima.
"Iya lho bunda, kan paman Azam janji mau bawain mainan terbaru, boneka terbaru dari korea, kayak drakor gitu bun."
"Jadi, om Azam janji mau bawa mainan terbaru?"
__ADS_1
"Iya bunda." serentak kedua anak itu.
"Gini ya sayang! kita enggak boleh mengharapkan kedatangan seseorang dari janjinya, sekarang waktunya Bima dan Kanya mandi, terus kita makan siang bareng. Tuh, om Diva dan bibi sam pak Sup dibelakang, udah laper. Nunggu kalian."
"Eum. Oke bunda." serentak Bima dan Kanya, ke atas tangga.
Reina sendiri sebenarnya kepikiran soal Azam, tapi karena ada Diva. Ia tidak mau membuat hatinya kecewa, bagaimanapun hubungan dengan Azam dan Diva sama sama terhalang restu, yang membuat Reina enggan mengulang kesedihan, apalagi menjalin kasih. Reina hanya fokus, bahagia dan membesarkan kedua anak anaknya saja dengan damai, itulah keinginan Reina saat ini.
***
Berbeda Tempat.
Shi yang menatap Azam, di ranjang rumah sakit. Keberadaannya di ketahui oleh Jing, yang menyebabkan pilu mendalam.
"Shi, kok bisa Azam kecelakaan? untung kamu cepat hubungi tante."
Jing yang menatap putra satu satunya terbaring rumah sakit, membuat dirinya tidak tahan dan ia segera menemui dokter. Hingga berpapasan dokter yang akan memeriksa, dibarengi seorang Heru saat itu juga.
"Heru, kamu kenapa bisa Azam tidak di jemput?"
"Maaf nyonya! tapi pak Azam, memang jadwal ingin pulang sendiri. Saya sedang meeting mewakili tuan Azam, yang tidak ingin hadir dalam rapat dewan direksi." jelasnya. Membuat Jing gusar.
"Ibu .., apa ibu wali pasien? silahkan ke ruang saya sebentar! saya akan menjelaskan perihal luka dalam pak Azam!"
Beberapa saat, dokter memberikan rekaman medis padanya, Jing melihat jelas jika retak di kepala, dan seorang Azam kali ini mengalami gegar otak ringan, yang menyebabkan memorinya hilang sebagian. Dan hal itu memicu keributan, jika Jing ingin membayar berapapun biaya, asalkan anaknya sehat pulih kembali. Bahkan kaki dan lengan yang retak, segera bisa kembali berjalan.
'Mana bisa dibiarkan, jika putraku cacat nanti, kelak bagaimana ia bisa memegang perusahaan. Bagaimana media nanti, jika tahu Azam akan cacat dan bahkan otak geniusnya mencari pundi, akan hilang begitu saja.' batin Jing, ia berlalu kembali ke ruangan Azam yang kini di rawat.
__ADS_1
Bahkan Jing, kali ini ke ruang administrasi. Ia pun berpapasan dengan pria paruh baya, yakni ia adalah Tuan Alva, ia melihat tajam dan membuat Jing beringsut kali ini juga.
"Nyonya Jing, kau tahu sudah men debit setengah miliar, dalam satu hari, apakah kau bisa mengembalikan kekurangannya?"
"Pak Alva, saya mohon! putra saya Azam sedang sakit kecelakaan. Saya hanya meminta waktu, sampai Azam sembuh. Dia pasti akan membuat bisnis kembali naik pesat. Saya mohon!"
"Dalam satu minggu, saya tidak ingin dengar permohonan waktu. Hari masih bergulir waktu, semakin hari gaji karyawan dan keuntungan bahkan minim, sebelum saya pegang, lebih buruk saat perusahaan di pegang Azam. Dan total anda men debit dengan kartu sebesar dua setengah miliar, apa anda sadar Nyonya?" ujarnya kejam.
Alva pria paruh baya itu melihat kertas yang dipegang Jing. Ia merampas kasar, lalu membacanya dengan teliti. Hal itu membuat Jing memejamkan mata, dan terlihat ketakutan.
"Azam dia amnesia. Bahkan anda akan kehilangan kartu black anda, tidak bisa anda gunakan lagi! Nyonya Jing, putra anda sudah menceraikan putri saya Shi, jadi kini selama seminggu ia tidak sadar. Keluarlah anda dari rumah yang ditinggali, jangan lagi sentuh dan injak perusahaan lagi, anda tidak punya kuasa disana! sampai anda kembalikan semua uang yang anda pakai Nyonya! mulai detik ini."
Tuan Alva pun meminta bodyguard, merampas tas milik Jing. Mengeluarkan kartu hitam, yang saat itu masih jaminan perjanjian saling menguntungkan.
"Anda ingin apa?"
"Mengambil aset milik saya, ingat anda itu siapa Nyonya!" sindir Alva, pergi begitu saja.
Deg.
Seketika Jing lemas, hal itu membuat ia ke ruangan Azam. Dan saat itu juga, ia melihat di dalam sana, dokter memeriksa putranya.
'Ren .. Ren.' lirih Azam, dengan kata kata yang terpatah, menahan rasa sakitnya.
Jing terdiam, kenapa dokter bilang putranya amnesia. Tapi putranya hampir siuman, menyebut gadis miskin bernama Reina.
'Bisa bisanya, gadis itu selalu hadir. Ini membuat saya gila.' batin Jing kesal, padahal belum lama ia juga kesal pada tuan Alva si wajah kulit rusak itu, hanya kelebihannya adalah kaya raya saja.
__ADS_1
TBC.