
Alva kesekian kalinya kesal, ketika Azam mencoba membuat kemacetan, dimana Ia bercerai dengan anaknya, kini terang terangan membuat keributan, bahkan merasa hidupnya akan baik baik saja, setelah membuat perusahaannya rugi. Kini mereka membuntuti keberadaan Azam.
"Ikuti mobilnya! Jangan sampai lewat."
"Baik pak." supir mengangguk.
Sementara sampai rumah, Reina merasa kesal tapi sedikit senyum, setelah menurunkan barang belanjaannya. Azam terlihat menurunkan belanjaan, bahkan tidak sedikitpun menurunkan kursi rodanya.
"Rein, kamu masih marah soal tadi, maaf kalau aku buat malu .."
"Zam, udahlah. Aku gak bahas lagi, tapi kejadian tadi membuat aku lupa kesedihan. Makasih ya."
"Terus kamu terima aku Ren?"
"Zam .." lirikan aneh.
Saat Azam menyatakan lamaran, saat itu juga Reina senyum menarik perhatian, ia mengambil kotak cincin, yang mana menarik tangan Azam, untuk segera pergi karena membuat macet. Meski begitu tatapan ramah permintaan maaf pada pengunjung lain tak lupa.
Bunda ... Teriak Kanya dan Bima.
"Hey sayang, maaf ya bunda hari ini agak lama banget ninggalin kalian." kecup Reina pada anak anaknya.
Azam pun terlihat bahagia, mengelus rambut Kanya yang panjang, lurus dan lembut. Hal itu membuat tatapan Kanya, berbicara.
"Uncle Azam itu ayah kandung kami kan?" tanyanya membuat, tatapan Reina dan Azam saling bengong.
Hah? Lirih Azam sama ikut kaget.
"Kanya, sayang. Maksud kamu apa ya nak?"
"No! Bunda .. Enggak boleh bicara, aku sama Kanya lagi bicara sama Uncle, karena Uncle Azam pasti ga akan bohongi kami." tambah Bima.
Deg.
__ADS_1
Tanpa sengaja Azam gagap, entah siapa yang memberitahu anak sekecil ini, bertanya layaknya orang dewasa.
"Bima, Kanya. Kenapa kalian bicara seperti itu?"
"Karena kami tahu sendiri, sebab rambut paman itu rontok kan. Telus Kanya kasih kak Bima, dan kak Bima telepon Uncle Dira, kan ada keluarganya yang dokter. Terus Uncle tahu, aku minta samain rambut aku dan kak Bima sama Uncle. Cocok loh."
"Iya bun ... Kalau Uncle bisa cocok sama rambut kita, terus kenapa pergi baru kembali?"
Reina saat itu benar benar tak bisa berkutik, dimana kedua anak anaknya bisa secerdas itu, di usia menginjak Lima tahun, mengapa bisa mencocokan tes rambut ala tes dna. Dan kedua anak anaknya bisa dekat dengan mas Dira tanpa ia ketahui.
Dilema Reina, ia bingung harus berbicara apa!!
Reina bahkan bertanya pada sang bibi, tapi jawaban bibi tidak tahu, dan tidak pernah melihat kedua anak anak melakukan hal yang tidak wajar. Bahkan bibi Ros cukup terkejut atas apa yang di ucapkan anak anak.
"Bibi benar benar enggak tahu non Reina, ga ada yang mencurigakan. Bahkan Dira teman non Reina dan Den Diva, sudah lama enggak pernah kesini."
"Kok Uncle sama bunda enggak jawab sih pertanyaan kami." lirih Kanya terlihat sedih.
Tok. Tok.
"Sore bu Reina."
"Sore.. Loh pak Rt, dan bu Rt. Ada apa ya, kok tumben kemari, mau pesen kue lagi buat acara?"
"Boleh kami masuk Ren?"
"Ah, iya silahkan masuk!"
Apalagi terlihat beberapa orang dibelakang bu Rt, mirip sekali dengan pakaian sorban hijau dan jas hitam, firasat Reina benar benar tidak enak hari ini.
Hingga beberapa saat bibi membawakan minuman, pak Rt mendengus dan membuka kacamata tebalnya di ruang tamu, semua berkumpul. Reina bahkan seolah seperti tersangka, tak bisa berkutik.
"Begini loh bu Reina, saya dengar dari bukti bukti yang ada, jika pak Azam ini menginap sudah lima hari. Apa bu Reina tahu, apa arti kedatangan kami kesini?"
__ADS_1
Gleuk, Reina menatap Azam sudah panas dingin.
"Begini pak .."
"Sebentar bu Reina, suami saya belum selesai bicara. Kedatangan kami juga baik kok, tidak maksud aneh aneh. Itu karena saya sebagai bu Rt, sayang sama kamu." tambah bu Rt.
"Tanda kecocokan pada pak Azam dan kedua anak anak bu Reina itu benar asli, apa benar hasil tes dna ini suami bu Reina dahulu, atau memang suami bu Reina yang ada di hongkong baru kembali?"
"Waduh pak, sepertinya salah paham deh. Kalau boleh tahu siapa yang melaporkan ya pak?"
"Lah, wong kedua anak anak kamu ini loh Reina, mereka minta bantuan aku buat tes dna apakah cocok dengan ayahnya yang selama ini dicari, sejak ibu pesen kue bulan lalu, terus hubungi pak Dira. Apalagi Bima yang laporin katanya teman pria nginap di rumah, jadi baiknya saya dan suami saya, alias pak Rt. Bawa penghulu, kalian nikah dulu aja ya detik ini ijab kabul biar sah lagi, agar gosip tidak melebar kemana mana pusing tau enggak saya." ujar bu Rt, membuat Reina tercengang
"Apa .., menikah bu Rt?"
"Iya, hanya kami yang tahu. Tidak boleh ditunda, pilih nikah sekarang. Atau mau di amuk masa, di arak keliling dan di usir secara tidak hormat. Kalau mau nikah, saya tutup kesalahan kamu yang khilaf." jelas Pak Rt, membuat Reina lemas.
"Zam, apa ini semua ide mu, lalu mengelabui anak anak lagi?" bisik Reina sedikit kesal.
"Enggak Ren, aku bahkan menyiapkan cincin itu sudah lama, sebelum kita bertemu dengan anak anak kita." debat Azam yang tak mau disalahkan.
"Eh, kenapa bertengkar. Ayo Ren, pilihanmu lima detik!"
Kanya dan Bima memeluk bundanya saat itu juga.
"Maafin Bima ya bund, udah bikin bunda sedih."
"Iya bunda, kita bikin keramaian di rumah. Maafin Kanya." tambah memeluk.
Reina memeluk, dan berkata jika ini bukan salah kedua anak anaknya, hanya saja ia tidak sangka kedua anak anaknya smart, bisa memahami dan mencari tahu tanpa celah ketahuan seisi orang rumah.
"Bunda yang salah nak! Maafin bunda, karena di samping kalian itu, memang Ayah kalian yang sebenarnya! Karena bunda dan ayah, ada hal yang tak bisa buat bersama, kelak dewasa, Bunda minta maaf dan mohon kalian mengerti. Bunda gak akan pernah nutupin, kalau yang kalian panggil Uncle Azam itu, adalah Ayah kalian sayang." jelas Reina, membuat seisi semua orang, di ruang tamu penuh haru.
Azam merasa bergetar bahagia, saat ucapan Reina, mengakui di depan kedua anak anaknya yang pintar itu.
__ADS_1
'Hah, bocah sekolah tk sudah bisa berfikir tes dna, dan meminta bantuan orang yang tepat. Kalian memang bibit Unggulku, terimakasih nak.' batin Azam mengusap rambut Bima dan mengecup kening Kanya juga.
TBC.