
Kanya dan Bima, kali ini bermain di area villa, sekitar perbatasan bukit, ia di dampingi kedua orangtuanya. Terlihat seperti area piknik, Azam kali ini duduk membuka kaki, dan satu kaki terangkat bagai sandaran Reina untuk menopang saat bersandar.
"Begitu lucunya, aku sampai kehabisan kata kata loh. Kala anak anak kebingungan, dari mana mereka ada." bisik nya.
"Hahaha, maka dari itu jangan lagi salah ucap Zam, mereka saat ini sudah memasuki tk B, pertanyaan dan pikirannya sudah tidak bisa di bohongi, semakin kamu berbohong anak anak akan semakin banyak bertanya."
"Baiklah bu bos." Azam membalas.
Senyuman Reina menatap Azam. Entah mengapa, ia terasa ingin muntah, tapi berhasil ia tahan. Sebenarnya sebelum ijab kabul di grebek bu Rt, Reina nampak akhir akhir sering aneh pada dirinya, bahkan sering sakit kepala.
Azam yang peka, ia mengelus pipi Reina dan bertanya.
"Kamu ga apa apa?"
"Aku ga apa apa Zam, mungkin hanya kecapean. Boleh kah aku minta tolong padamu?"
"Boleh sayang apa itu?"
"Titip anak anak, aku ingin memejamkan mata lima belas menit saja."
"Kita ke dokter ya, anak anak .." teriak Azam.
"Aku ga apa apa Azam, lagi pula aku pernah memeriksanya. Efek vertigo, dan mudah lelah dengan tidur sebentar aku pasti fit lagi." memohon Reina.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu punya vertigo, astaga! Maafkan aku yang baru tahu."
"Tidak masalah, aku pun baru tahu beberapa bulan ini saja, tapi kamu jangan khawatir. Tidak ganas, dan aku sedang tidak menyembunyikan sakit kronis darimu." senyum Reina.
Reina berkali kali mengecup tangan Azam, memegang dagu Azam yang menatap ke arahnya, agar Azam sendiri nampak tenang.
Hal itu membuat Azam nampak mengangguk, dimana kali ini setelah Reina pulas, ia gendong sang istri menuju sofa teras, dan mengajak anak anak untuk bermain di depan teras, tidak jauh jauh.
Kanya dan Bima, mengangguk. Seketika nampak Reina tertidur, maka Azam kali ini mengajak dua buah hatinya bermain layangan. Dan beberapa puluh menit, bermain lari larian sambil mengibar tarik ulur layangan.
"Ayah dan Kanya pasti kalah, aku tahu layangan Kanya pasti putus." ledeknya.
"Enggak dong, ih ayah. Lihat kak Bima mau bikin layangan Kanya putus. Ayah ayo lawan kak Bima. Jangan kasih kendor, kak Bima kalau kalah aku akan hukum." teriaknya membuat ocehan seru, dimana mereka tidak sadar Reina yang sudah pulih, berada tepat di belakang mereka.
"Hai bunda, bunda dekat Bima aja bunda. Bunda di tim Bima ya, kita harus kalahin Ayah dan layangan adek bun." ocehnya, sambil menarik ulur.
"Ayo siapa takut, oke Kanya. Kita kalahkan Bunda dan Kak bima ya." ujar Azam menantang.
"Iya. Ayo ayah, huuu ..." meledek Kanya pada Bima, membuat gemas Reina saja.
Seketika semua permainan di depan teras yang berbukit hijau itu, membuat aksi keseruan mereka bermain menyenangkan meski sedikit ada hambatan.
***
__ADS_1
Sementara Di Beda Tempat.
Alva yang sedang menemui Milen, sesaat ia memohon mempertanyakan dimana keberadaan putri satu satunya. Sehingga Milen nampak murka, ketika mantan suaminya yang tidak tahu diri ini, berani menginjak ke rumahnya.
Shi yang terusik di beda mobil, nampak gusar dan ingin tahu. Kenapa sang papa sering menoleh ke rumah kayu dan rimbun, yang ia lihat saat ini. Shi sudah mengikuti sang papa dan diam diam mengamati papanya, pergi kemanapun.
'Cih, kok aku kaya kenal ibu itu ya. Tapi dimana ya? Terus mereka kenapa bertemu sih, apa sedang tawar menawar.' gerutunya membuat Shi nampak mendekat, seolah ingin tahu pembicaraan sang papa.
"Dasar pria tidak tahu diri, bukankah kamu sudah punya putri dari selingkuhanmu. Jadi enyah lah dari kediamanku, putrimu sudah mati sejak usia dua tahun. Jadi kau tidak berhak ke rumah ini lagi!"
Bragh.
Benar memang perkataan Milen kali ini, tapi sungguh di usia tuanya, Alva ingin mencari keberadaan putri kandungnya, ia tak percaya dari Milen jika putrinya telah meninggal dunia sejak balita.
"Kau begitu kejam Mil, aku yakin putriku masih hidup. Jika ia masih ada, akan aku tuntut dirimu." lirih Alva, membuat Bu Milen masuk ke dalam rumah dengan rasa khawatir.
Milen masih penuh mimpi, rasanya suami lamanya yang pernah kdrt, menyianyiakan nya kini hadir dengan banyak pertanyaan dimana putrinya itu, yang harus Milen katakan dia sudah meninggal sejak balita.
'Ampuni aku ya Rabb.' batin Milen saat itu, menatap mobil Alva pergi dari pelataran rumahnya.
( Andai dulu kamu tidak menyerah dan perjanjian dengan Yus. Diva, mungkin kita tidak begini, dan kenapa kamu merubah identitasmu jadi Alva Muda. ) lirih Milen dibalik pintu rumahnya.
TBC.
__ADS_1
See You Next lanjutannya ya All.