
Nampak gusarnya diri Shi, ia berjalan sudah terlalu lama hingga menyeret koper yang entah sudah sampai mana, dimana ia mengambil uang cash, yang letaknya di samping ruko sedikit gelap. Melupakan beberapa orang yang berdiri melirik Shi hingga berbisik.
Shi masih menangis di ruangan atm, melirik ada tiga pria berbaris ia segera mengambil uang cash lima juta rupiah, sepertinya ia ingin membeli sesuatu, bahkan sudah malam seperti ini, rutinitas Shi benar benar membosankan.
Cek Rekk.
Shi berjalan santai, melupakan pria yang berbaris membuntutinya, hingga langkahnya tersadar melihat Heru si kacung sang papa berdiri dengan mata tajamnya.
'Heru, kau ikuti aku?'
"Menyingkir lah Nona!"
Heru membuka pistol, dimana mengarahkan pada tiga pria dibelakang Shi, dimana ia pun syok ketika tiga pria yang antri tadi mengikutinya.
Pria itu tanpa senyum miring, salah satunya meminta kabur tapi seolah atasannya ingin melawan Heru.
Heru mengeluarkan tanda pengenal, dimana pistol yang dianggap preman itu adalah palsu, sehingga id card segitiga primus dengan kode yang beberapa paham, nyalinya ciut.
'Anjerit, bos dia Intel Detektif, orangnya polisi. Ayo bos, kabur!" dua pria kabur, sehingga satu orang yang ingin menyerang Heru, meminta ampun dan kabur.
Shi tertawa sinis, seolah dirinya merasa Heru wajib di puji, tapi bukan Shi namanya jika ia tidak berterimakasih, benar benar tidak tahu diri.
"Karena ini di luar mansion dan tugas saya, sebaiknya anda pulang Shi!"
"Siapa kamu, kalian semua asing. Orang asing, lagi pula aku hidup, mati dan kerampokan bukan urusan kamu kan. Apalagi papaku, ah ya. Tuan Alva pasti akan masa bodo." cetusnya.
"Bagaimanapun dia juga papa anda, meski .. Maaf! Tapi kondisi tuan Alva jauh lebih menyakitkan. Sebaiknya anda pulang!"
Shi tetap angkuh berjalan, dimana menuju BAR, Black Sin. Shi duduk setelah menitipkan satu kopernya, dimana ia duduk di meja bartender tanpa melihat ke arah lain, jika Heru masih setia mengikuti.
Setengah jam berlalu, nampak kesedihan dan ngelantur Shi yang banyak minum, terlihat juga orang yang ingin jahil pada Shi, nampak bringsut ketika Heru datang duduk di sampingnya, apalagi memperlihatkan jaket setengah dibuka, nampak pistol dan intel khusus orang polisi dengan pangkat tinggi, membuat pikiran orang asing yang ingin mempermainkan Shi nampak menghindar, menyisakan Heru dan Shi saja di meja bartender yang panjang itu.
'Ah, gila. Kau sedang apa disini. Hey kacung?' bisik Shi, berteriak pun nampak music kencang terdengar.
__ADS_1
"Tahukan anda, ada banyak kehidupan seperti ini benar benar membosankan, ada banyak pria hidung belang yang sudah pasti akan menodai anda, jika anda terus bersikap seperti ini. Apakah anda tidak kasihan pada diri anda?"
"Hah, kacung papa, benar benar mengesalkan. Ah! Saya lupa, jika papa itu bukan papa asliku, lantas siapa ya papaku. Tuan Alva juga tidak akan peduli, jika aku disini terluka atau terjadi sesuatu kan. Jadi pergilah anda Tuan Heru si kacung terhormat."
"Apa anda tidak ingin merubah diri anda lebih dewasa dan lebih baik, ketahuilah. Tuan Alva tetap menganggap anda putrinya, beban berat papa anda lebih menyedihkan dari hidup anda, yang selalu bebas dan liar ke klub seperti ini. Saya akan permisi." jelasnya, membuat Shi terdiam dan berbisik menahan Heru.
"Hidupku sudah hancur, oleh pria yang telah merenggut hidupku di tempat ini. Aku berfikir jika pria itu akan menyadari, dan bertanggung jawab. Jadi jika aku sering berada disini, dan terbangun pria itu memakai ku, apalah arti sebuah kehidupan membuka lebih baik, dasarnya pria yang menikahi ku tahu jika aku bukan wanita tidak baik kan, mereka menikahi ku karena tuan mu Alva orang kaya, anggota pemerintahan yang tidak terkalahkan disegani." jelasnya membuat Heru terdiam.
"Jika anda menginginkan pria seperti Azam, maka rubah lah sikap anda tidak seperti anak anak, jadilah putri yang cerdas, banggakan papa anda nona. Bagaimanapun, ia mengasihi dan memenuhi kebahagiaan anda tanpa perduli, apakah putrinya hidup dengan layak. Kalau begitu saya permisi!"
Shi nampak terkejut, kala ingin mengejar Heru, akan tetapi langkahnya sudah gontai dan ambruk di tempat, mungkin Efek dirinya yang telah banyak minum.
Bragh.
Shi nampak di gotong, oleh seseorang. Sehingga rasa kasihan Heru, membuat dirinya tetap tidak tega meninggalkan Shi yang setiap hari mengunjungi BAR BLACK SIN.
***
Nampak terlihat Reina yang berdiri menapaki jenjang kaki yang seputih susu, menghadap arah balkon menuju pemandangan sungai biru, tampak tenang tapi tidak setenang hatinya saat ini.
Sementara Azam, nampak masuk ke kamar setelah dari kamar kedua anak anaknya disebelah, lelahnya bermain hari ini.
"Kamu sedang apa sayang?"
"Azam, apa anak anak sudah tidur?"
Heum, baru saja aku memindahkan mereka ke kamar.
Azam kini melihat istrinya memakai piyama sutra nampak tipis sekali, melingkar pinggang Reina, nampak menciumi keningnya dan berlangsung ke bawah pipi, berlanjut jenjang leher dan membuka pundaknya berkali kali di kecup.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Azam.
"Nomor ini, selalu hubungi terus. Anehnya setiap aku angkat, tidak ada satu kata pun bersuara. Aneh bukan?"
__ADS_1
"Boleh aku lihat!"
Reina memberikan ponselnya, hingga Azam yang masih mode memeluk, menatap nomor aneh dengan tersambung sebuah aplikasi tapi tak ditemukan. Hingga dimana ia segera memencet tombol seseorang.
"Sayang, kamu mau telepon siapa. Jika ini malam maka ..?"
"Semoga Heru masih melek sayang, sebab dia itu intel. Selain tangan kanan papa, dia orang kepercayaan polisi berbintang, dimana pekerjaannya lah yang membutuhkan dan mencarinya." jelas Azam senyum.
"Mau kamu apakan, dengan nomor itu, kalau boleh aku tahu?"
"Mengeceknya, dengan aku kirim nomor yang membuat kamu kepikiran, rasa penasaran mu akan tahu. Siapa yang diam diam hubungi kamu, tanpa suara. Apakah dia mantan istriku ini?"
"Azam, sudahlah jangan mulai. Aku tidak punya mantan banyak sepertimu?" oceh Reina, dengan penegasan.
"Benarkah?"
Nampak terkirim pesan itu, menuju Heru untuk meminta bantuan, nomor yang selalu mengusik pikiran istrinya saat ini.
Tanpa sadar kala Reina akan mengambil gelas, dirinya sudah ditarik dan dikecup seluruh ranum hingga membasah kebawah. Reina duduk di sofa, dimana Azam sudah membuka pangkal kedua kaki yang terbuka, dan Azam memainkannya, membuat Reina menjambak rambut Azam saat itu juga.
Ah.
"Nikmati, aku ingin meminta jatahku sayang. Sebab, aku akan terbang beberapa jam lagi, aku bekerja esok. Kamu jangan nakal ya!" bisik Azam, yang kala itu Reina sudah tak tahan dengan kegilaan tangan Azam yang lihai.
"Aku tidak akan keluar villa ini tanpamu Azam. Justru Kamu yang harus menjaga dirimu dan hatimu!" balas Reina senyum.
Tok ..
Tok ..
( Suara Pintu membuat Azam, dan Reina terkejut )
TBC.
__ADS_1