
Beberapa minggu kemudian. Hingga acara akan di mulai. Penghulu yang telah duduk di depan Alva. Ia mulai berkeringat dingin.
"Milen. Hanya kamu yang merubah aku, mengapa aku menginginkan kamu, dan harus menikahimu sih. Sudah lama melupakan, tapi endingnya aku harus mencarimu begitu ada kesempatan, aku tak akan menyiakan mu lagi, sebab kita sudah ditakdirkan bersama untuk memutuskan rantai JIN !"
"Apa pengantin wanita masih lama?" tanya Penghulu.
"Sebentar lagi. Pasti datang, tunggu saja. Lima menit lagi oke pak!" pinta Alva.
Tapi semua sudut menatap ke arah yang sedang turun berjalan ke bawah. Ia ditemani mama mertua yang akan beberapa detik lagi.
Proses akad nikah berjalan lancar. Kini Milen berada di ruang proses make up dan menunggu dengan debaran jantung yang tak beraturan. Mengapa ini bukan yang pertama, tapi kenapa aku sangat gugup. Kini Milen harus mengganti pakaian resepsi, sebab hidup haruslah menatap kedepan, jika memang ini yang harus ia lakukan untuk hidup lebih baik.
Setelah itu di bantu riasan kembali. Seolah tangisan kesedihan bahagia, yang begitu sempurna ia harus kembali di make up. Semua tata rias profesional memoles agar tak terlihat mata yang sembab karena habis menangis.
Alva menatap Milen dengan perasaan yang baru. Perasaan yang beberapa saat telah mengucapkan ijab kabul. Ya mereka statusnya kini telah sah menjadi pasangan suami istri yang sah.
Alva mengingat ketika ia mengucapkan janji suci di depan penghulu dan orangtuanya. Meski hanya ada mama mertua, Milen sebagai pengganti sang bunda. Perasaan posesif dan gemuruh kini berada dalam degup hatinya.
Hari ini Milen telah resmi menjadi istrinya, dia sekarang ini keluarganya. Dan Alva sangat terkenal akan kesetiaannya pada keluarganya. Dan Alva tahu, jika ia harus melindungi Milen setiap waktu sebagaimana mestinya.
Milen pun yang telah bercermin. Ia menatap gaun bawah indahnya, ini adalah kebaya yang pertama ia ijab dengan janji suci. Milen juga menatap satu kotak indah, ia menatap gaun belasan taun. Dan gaun yang telah di modif modern.
"Mas. Kamu membelikan ini hanya untuk statusku yang seorang janda. Apa tidak berlebihan hanya karena kamu adalah kunci kesialan Jin yang melekat padaku, lalu kamu siapa bisa memutuskan begini, apakah kita pernah di satukan karena berbeda." lirih Milen.
Saat Milen ingin membuka resleting, team membantu melepas bajunya. Milen telah membuka pakaian kebaya, menyisakan kamisol yang melekuk di tubuh indahnya.
Meski Milen sangat malu. Tapi ia melakukan agar cepat selesai, agar acara cepat berakhir. Sungguh Milen tak membayangkan pernikahan kali ini sangat mewah di banding sebelumnya. Tamu undangan tidak sedikit yang datang, meski baru beberapa jam saja sudah sangat membuat Milen letih.
Alva yang tak jauh, ia segera masuk dan menatap Milen yang hanya berbaju setengah ikat itu.
"Apa itu tidak terlalu sempit. Bagaimana jika ada yang melihatnya. Apa tidak ada ukuran yang lebih besar dan sesak seperti itu?" tanya Alva.
Milen terdiam, ketiga team itu saling menatap kebingungan. Karena model dalaman gaun memang seperti ini.
"Maaf Tuan. Memang kebayanya seperti ini modelnya. Apa tuan keberatan... ?"
"Ya. Itu terlalu sempit, carikan yang lain! Kedua gunung kembar itu terlihat nyaris keluar dan memberontak... Astaga!?"
Cih .. Milen merasa malu. Ia menutupi wajah memerah di pipinya. Lagi lagi pria monster ini membuat ia malu akan sikapnya.
__ADS_1
Team kembali menjelaskan, tapi di tepis oleh perkataan Alva. Tapi belum sempat membalas amarah, mata sorot Milen telah menatapnya. Sehingga Alva menyudahi komentarnya.
"Sudah kalian lanjutkan kembali. Aku tidak akan mengganggu!"
Kedua wanita team dari butik dan tata rias itu kompak memakaikan gaun putih berenda gold. Dengan percikan emas putih murni dan diamond di tengahnya. Memasangkan gaun indah Milen sehingga membuat Alva kesal karena menampilkan induk kembar Milen yang menonjol terlihat.
Hal itu membuat Alva gusar dan memanggil Ale.
"Ale. Berikan perintah untuk tidak menatap mempelai wanita terutama pada bagian induk kembar. Jika sampai ke dapati melihatnya, aku akan memerintahkan hukuman kebiri atau sambuk pada bokongnya!!"
Hal itu pun membuat Ale terdiam melotot. Karena ia tidak tahu dan bisa memerintah orang yang hadir, untuk mengatakan seperti itu. Lagi pula, gaun itu bukannya dia yang memilih.
Alva kesal, karena ia tidak teliti pada gaun Milen saat memilih di bagian gunung kembar. Ia kembali menatap Milen, tubuhnya bergetar hebat tak karuan.
"Kalian keluarlah sekarang!"
Teriakan Alva membuat Milen kebingungan, ia telah siap dan hanya duduk menatap dirinya yang berubah bagai peri dongeng. Polesan yang anggun tapi masih terkesan natural membuat ia terlihat indah.
"Tuan. Kami akan memakaikan jas anda!"
Alva melirik dan memintanya keluar. Siapa kamu berani sekali menyentuhku, aku bisa memakai jas ini sendiri. Pergi kalian keluar!!
Team make up dan tatanan busana gaun telah selesai. Mereka segera pergi sesuai perintah. Tapi Alva, menatap setiap lekukan tubuh indah Milen yang gemulai berisi di bagian Tengah dan tercetak bentuk tubuhnya sangat sempurna.
Hingga menyisakan mereka berdua. Alva menatap Milen amat menyesal tak tertahan. Bak di sulap menjadi peri, ia semakin mengagumi wanita di depannya itu.
"Mengapa aku tidak suka melihatmu seperti ini. Apa tidak bisa gaun di ganti?"
"Tidak sempat. Bukankah kamu yang memilihnya, aku sangat menyukainya. Terimakasih."
Ya. Alva menyesal telah mengambil begitu saja ketika Milen menatapnya. Ide sang ibu tiri, membuat ia langsung membungkus tanpa detail melihat jika bagian itu akan terlihat serius terbuka.
"Jika seperti ini. Aku bisa langsung melihat ke arah pusarmu!"
"Kenapa kau hanya berfikir ke arah situ saja. Aku akan mencari mommy."
Sreeetth... !!?
"Mau kemana?"
__ADS_1
Tangan Milen segera di cekat halus, Alva menatap Milen dan mendekati wajahnya.
"Apa kita akan bertengkar di hari kebahagiaan. Bisa kah kita memulainya sekarang?"
"Alva. Kamu jangan gila, semua tamu masih menunggu. Mommy pasti akan mencari kita. Jangan merusaknya!"
"Kau lebih sayang gaun indah dan riasan ini. Dari pada memilih keinginan suamimu saat ini Mil?" Alva memegang rahang Milen dengan halus.
"A-aku ..."
Perkataan Milen terputus. Apapun yang ingin ia jelaskan dan katakan semuanya terpotong. Matanya terbelalak kaget, deru nafasnya tak beraturan ketika Alva menyedot Milen dengan habis menempelkan ranum pada bibirnya itu.
Milen berusaha menghentikan, tapi tubuhnya kini di balik dinding kaca hias, sementara Alva menopang agar tubuh Milen tetap berdiri siaga mengimbangi.
Sikap tiba tiba bagai serangan yang mengejutkan membuat Milen tersedot habis tenaganya. Tangannya mulai meraba dan memegang tungku Milen, membuat Milen terlihat lemas terutama di bagian kakinya. Dan Alva masih memejamkan mata dan menikmati setiap detik, dan matanya berhenti saat pintu ruangan itu tiba saja terbuka.
"Bos.. Mommy.. Akh maaf!" Seru Ale tiba tiba datang, ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi. Ia menutup kembali pintunya dan berkata silahkan di lanjutkan kembali.
"Aku akan membunuhnya. Sial dia menggangguku saja!"
Milen yang pias dan membenarkan sanggulnya. Lalu ia mengatur nafas agar benar benar kembali sempurna. Setelah sadar dengan sempurna ia mengutuk dirinya dan tak bisa menolak ketika pria di depannya tiba tiba menginginkan sesuatu, lagi pula Alva kan sudah jadi suaminya.
"Oh. Sayang, sepertinya aku telah merusak sanggul." terkekeh nada pelan sambil di pelototi oleh Milen.
Milen pun melangkah dua langkah menatap cermin dan memberikan polesan lipstik, serta sanggul nya, ia meraba raba masih gemetar. Hal itu membuat Alva tersenyum akan tingkah Milen.
"Ya. Kamu benar benar tidak tertolong, haruskah seperti tadi." memicingkan kedua matanya masih bergerutu tak jelas.
Kedua pintu terbuka Lebar. Mommy datang secara mengejutkan.
"Kalian lama sekali. Kalian tahu semua tamu sudah menunggu!? Dan kamu Alva, kenapa belum mengganti bajumu?"
"Aku tidak perlu. Hanya mengganti jas ini saja sudah cukup."
Mommy mendekat ke arah Alva, ingin sekali menjitak kepalanya.
"Kau memalukan. Tidak bisa menahan diri, tunggu sampai tamu pergi dan acara selesai kan bisa!"
Alva hanya tersenyum pada Mom. Ia tak bisa mengelak jika mungkin saja, asistennya si Ale telah mengadu.
__ADS_1
"Sayang. Ayo ikut Mommy. Biarkan dia sendiri di sini!"
TBC.