Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Kenyataan Reina & Azam


__ADS_3

Reina yang sedang memotong sayuran, ia menatap foto dirinya dengan seragam pramugari. Dimana ingatan pertemuan dirinya dengan Azam terulang.


Beberapa Tahun Lalu.


Hari itu, Reina pulang sedikit telat. Karena di saat week end, ia bekerja shift sebagai pramugari, ia berniat pulang ke rumah sampai hampir tengah malam. Sebenarnya tak masalah bagi Reina untuk pulang jam berapa pun, ia begitu menikmati bekerja di sana.


Ia menghentikan langkahnya ketika merasakan perih di pergelangan kakinya karena heels, lalu mencopotnya dan menyeker. Ia meringis ketika membuka sepatu yang dipakainya. Ternyata terdapat luka lecet, dan mengeluarkan sedikit darah.


Reina duduk sejenak di halte bus yang tak jauh dari bandara. Jarak ke tempat kos masih cukup jauh. Jika dibawa berjalan memakai sepatu akan terasa sakit. Reina juga membuang napas pasrah, tidak ada jalan lain selain berjalan menuju kosnya tanpa alas kaki.


Reina juga berjalan sedikit tertatih. Biasanya tak pernah sampai seperti ini, mungkin sepatu yang dikenakannya terlalu kecil sehingga melukai pergelangan kakinya. Terdengar suara klakson dari belakang. Reina menoleh dan mobil itu pun berhenti sejajar dengannya.


“Kamu pulang ke mana?” seru Azam dari dalam mobil, yang kala itu melihat Reina berjalan sedikit tergoda.


“Ke depan, Captain. Nggak jauh kok.” Reina menjawab sekenanya.


“Panggil nama aja, kan bukan di ruang lingkup kerja. Mau saya antar?” Azam pun melirik ke sepatu yang ditentengnya dan kaki yang tak memakai apa pun.


"Ga usah deh Zam."


“Kaki kamu kenapa?”


“Eh.” Reina menjatuhkan pandangan pada kakinya. Ia tersenyum kikuk.


“Ini, Pak, eh Azam. Kaki saya lecet, sepatunya kekecilan.” Reina memelankan suaranya pada kalimat terakhir.


Lalu, Azam turun dari mobil.


“Kamu jalan kaki ke rumah?”


“I-iya,” Reina menjawab terbata.


“Jauh?”


Reina menunduk, ia menggigit bibir bawahnya. Jika Azam menawarinya untuk diantar lagi bagaimana? Ia merasa tidak enak jika harus diantar oleh pria itu lagi, bahkan merasa tidak pede kala seorang pilot sedikit dekat dengan pramugari masih jajaran parkir bandara.


“Kamu nggak bisa loh jalan jauh dengan kaki seperti itu.” Azam melanjutkan ucapannya, karena Reina tak kunjung menjawab.


“Udah, kamu nggak usah banyak mikir. Ini udah malem, nggak baik kalau cewek jalan sendiri malem-malem. Sekarang itu banyak orang jahat."


Azam hanya tidak ingin keselamatan rekannya ini terancam. Reina itu, satu-satunya pramugari yang tidak memakai kendaraan ke tempat kerja. Ia bahkan selalu menolak jika teman-temannya menawarinya untuk pulang bersama.


Alasannya klise, tidak ingin merepotkan. Lagi pula, masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Jika sekitar pukul delapan sampai sepuluh jalanan masih ramai. Namun, jika sudah tengah malam begini, tempat yang dilewatinya cukup sepi.

__ADS_1


“Ayo,” ajak Azam yang entah sejak kapan sudah membukakan pintu mobilnya untuk Reina.


Gadis itu menjadi merasa tidak enak. Apa ia harus mengiyakan ajakan Azam? Takutnya malah Azam yang berbuat jahat padanya.


"Saya gak akan macam-macam sama kamu." Azam juga meyakinkan, karena raut wajah Reina yang tampak ragu. Namun, pada akhirnya Reina mengiyakan.


Dan dari sanalah kedekatan Reina dan Azam berlanjut, membuat mereka tampak akrab di ruang lingkup luar, hanya saja ketika mereka bertugas satu penerbangan, Reina dan Azam harus menjaga jarak agar tidak di ketahui sesama rekan kerjanya, bahkan hanya sedikit berkedip angguk, menyapa lewat isyarat tanpa sepatah katapun.


Dan fatalnya mereka adalah, party yang di adakan tempat mereka bekerja, berkumpul dibawah orang dalam, mereka juga boleh mengajak pacar, suami jika datang. Karena itulah, tampak rekan kerja tidak ada yang tahu, jika saat itu Azam dan Reina menjalin hubungan.


Ting Nong!


Suara Bel, membuat Reina yang sedang melamun mengingat dirinya dulu bersama Azam, hingga berlanjut menjadi pasangan halal. Dimana mereka saat ini, benar benar tidak mulus untuk bersama adalah hal yang membuat Reina bingung.


'Benar jika hati tidak memaafkan akan kalah oleh perasaan, dan melihat kedua anak anaknya yang tidak ingin bernasib sama seperti Reina, yakni tidak tumbuh bersama orangtua yang utuh.'


"Siapa sayang?"


"Ssst .. aku lihat siapa yang datang dulu ya! kamu jangan teriak teriak, katanya mau surprise si kembar." ujar Reina.


"Oh iya, aku lupa sayang." Azam mengambil ahli, memotong sayuran, yang akan ia masak berdua bersama Reina.


Reina juga nampak senyum lebar, dimana ia terkejut ketika pria paruh baya itu dengan sebuah tongkat sedikit, menatap Reina tiba saja datang.


"Maaf, jika saya mengganggu kebersamaan kalian. Apa bisa kita bicara sebentar?"


"Sebentar saya panggil Azam, dia juga kebetulan baru pulang semalam pak."


"Saya ingin bicara denganmu Nak!" tegas Alva.


"Bi-bicara dengan saya?" gugup Reina.


Azam nampak menghampiri, dimana pukul enam pagi, kedatangan tamu. Dimana Azam sendiri syok, menatap mantan mertuanya datang ke villa nya. Wajar ia tahu, sebab salah satu villa hotel yang ia tempati aset dari perusahaan, dan setengah persen saham bandara milik tuan Alva.


"Pak Alva." lirih Azam, yang kala itu Reina kaku dan sedikit memerah kebingungan.


"Duduk pak!" ujar Azam, di teras ruang tamu.


"Saya tahu, anda pasti tidak terima karena saya menikah dengan pria yang mana, ia adalah pernah menjadi menantu anda. Dimana pria bersama saya, adalah pria yang dicintai putri anda. Tuan, maafkan saya! tapi ini adalah takdir, saya menerima Azam karena saya tidak bisa melawan rasa sayang saya padanya, terlebih cinta saya bersatu lagi, karena kedua anak anak, saya tidak ingin mereka alami apa yang saya rasakan." jelas Reina, memerah dan menangis air mata.


Azam sendiri nampak senyum, dimana kedatangan Alva di anggap Reina, karena menentang pernikahan mereka, istilah melabrak ke tempat mereka tinggali saat ini.


"Nak! kenapa kamu menjelaskan ini semua?" tanya Alva.

__ADS_1


"Karena itulah kenyataannya, sejak di rumah sakit anda bersikap menyakitkan, atau jika bukan. Anda ingin meminta cicilan hutang Azam, saya punya tabungan hasil dari jual kue. Saya akan ambil sebagai cicilan awal!"


Azam senyum menangis, dimana rasa cinta Reina benar benar tulus. Ah! rasanya bodoh jika Azam harus menyakiti wanita sebaik Reina.


"Kedatangan saya bukan itu Putriku!" ujar Alva, dan Azam menahan tangan Reina yang berdiri akan masuk ke dalam.


Samar samar, membuat tatapan Reina menghapus air mata.


'Putriku, apa aku tidak salah dengar?' menoleh Reina.


"Putriku! kamu adalah anak Milen semarang lahir tahun 88. Nama kamu adalah Reina Salsabila." lirih Alva.


Reina menoleh dan menatap sebuah foto dalam meja, yang diminta Reina untuk mengamatinya.


"Anda dapat dari mana foto foto bayi dan foto saya sejak kecil, apa bapak pengutil?"


"Reina, aku minta maaf. Aku juga tidak percaya, tapi saat Heru mengatakan jika kemungkinan kamu adalah anak dari tuan Alva yang dicarinya."


Cih.


Reina sendiri tak percaya, ia berlalu masuk ke dalam sambil berkata.


"Aku tidak percaya, kamu benar benar membohongi aku Azam. Kamu sembunyikan dari aku, sejak lama kah kamu tahu? kamu kan tahu, ayahku telah mati. Itu yang ibu ku bilang."


"Nak tunggu!"


Alva menangis, kedatangan yang begitu mendadak membuat Azam, meminta Alva memaafkan dan menunggunya.


"Pak. Saya pamit ke dalam, ini benar benar membuatnya bingung, saya akan coba bicara!"


"Bantu saya Azam! sudah lama saya mencarinya!"


Nyes hati Azam, bisa bisanya pria paruh baya arogan menyebalkan, berubah melow dan rapuh. Yang mana Azam sendiri tidak tahu banyak seluk beluk keluarga Reina.


'Ah, betapa bodohnya menjadi Azam sebagai pria saat ini.'


"Saya akan berusaha keras pak Alva! tunggulah!" pinta Azam dengan rasa hormat penuh sopan.


Sementara Alva, menghubungi Heru. Apakah Azam yang saat ini jadi menantunya adalah anak angkat dari Jing.


( Heru, pastikan tes dna Azam juga apakah cocok dengan rambut Milen. ) pesan suara begitu saja, membuat Alva mematung menunggu di ruang teras.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2