
"Sini nak, sama bunda. Kalian ga apa apa kan?" memeluk Kanya dan Bima.
Reina benar benar menyesal, dimana Heru bicara ke rumah sakit aman, di malam hari dengan jalur vvip, dimana jika jam besuk tidak di perkenankan, jika kelas biasa! akan tetapi nyatanya Reina mendapat masalah bertemu Shi, dan entah pria paruh baya ini siapa lagi, yang jelas wajahnya seram dan Reina terasa tidak asing jika di perhatikan.
"Jadi kau menceraikan putriku, karena wanita ini, apa dia janda? atau .. wanita liar hingga mempunyai anak?"
"Cukup pak Alva! perjanjian anda itu dengan keluarga saya, saya menikahkan putri anda karena status anda di dewan naik kan, saya hanya hologram saja bagi anda, demi kepentingan bisnis anda. Jika bapak menikah dengan istri hiv, selama lima tahun apa anda sanggup, apalagi tanpa benih cinta ..? jadi jangan pernah urusi urusan privasi saya dan menyentuh orang yang saya sayangi!"
Azam, menarik lembut Bima, mengajak Reina pergi dari tempat itu. Reina yang tidak bisa berbuat apa apa, rasanya sudah menjadi bubur. Ketika Azam menggendong Bima, dan salah satunya meraih tangan Reina, yang saat itu Reina menggendong Kanya, menangis ketakutan.
Shi begitu tercengang, ketika hembusan rambut Reina, melewati dirinya digandeng di depan matanya bersama Azam.
"Tunggu Azam, kamu enggak bisa seperti ini Azam! minta maaflah, agar kamu tidak di pecat oleh papaku dari Ceo! aku mohon Azam, kita bisa perbaiki semua ini!" Shi maju beberapa langkah, menghentikan langkah Reina dan Azam saat itu.
"Apa kau tidak malu Shi, sudah berapa banyak kejahatan mu. Kau yang melibatkan ibuku menjadi gila harta, kau juga yang membuat aku celaka, bukan Reina, aku pasti segera menemukan bukti, agar kau diseret! bahkan aku akan meminta Reina, melaporkan sikapmu tadi, mencemarkan nama baiknya yang bicara jika Reina yang menyebabkan aku celaka."
Deg.
'A-apa ..?' kaget Shi.
Reina masih menoleh ke arah tatapan Azam, masih digandeng melangkah berjalan untuk membawa pujaan hatinya pergi dari orang orang toxic.
Shi begitu kesal, amarahnya semakin memuncak tak terkendali. Bisa bisanya ia kalah, dengan gadis kampungan dan miskin, Shi memutar mata, harus bagaimana lagi untuk memisahkan Reina dan Azam.
'Jika aku tidak bisa mendapatkan kamu Azam, maka jangan salahkan aku. Jika Reina dan wanita manapun tidak akan bisa mendapatkan kamu.' batin Shi dengan tatapan kesal.
Sementara Heru, tiba saja datang! membawa tiang yang masih tersambung infus dan jarum kecil.
__ADS_1
"Loh, Tuan Alva! selamat malam. Maaf jika saya ..." belum jelas Heru menjelaskan, pria tua itu memerintah.
"Cabut perawatan Azam sekarang juga! copot dia dari jabatannya di perusahaan!" ujar Alva, dan kini melewati Shi, melirik sekilas seolah Shi tak dianggap layaknya sebagai putrinya.
Shi bahkan tak menyangka, papanya benar benar acuh dan aneh padanya, bahkan Shi sering bertanya kenapa perlakuan papanya tidak seperti ayah dan anak kandung pada umumnya.
"Heru bisakah .."
"Maaf nona Shi, pekerjaan saya sudah banyak dan rumit. Saya harus segera mengurus yang lain, Papa anda sudah murka saat ini. Jadi lebih baik anda liburan dan seperti biasa, menghabiskan uang semau anda." lirih Heru, ia pergi mengekor pak Alva, meski kali itu pikirannya tidak tega, memikirkan Azam sahabatnya.
***
Beberapa Jam Kemudian.
Reina yang telah berganti baju saat itu, ia turun ke arah anak tangga. Melihat Azam, duduk di sofa bersandar memegang tangannya.
"Sudah membaik, semoga besok dia tidak mengingat kejadian tadi. Bagaimanapun aku takut anak anak trauma, aku benci dengan orang dewasa, yang berdebat di depan anak anak." lirih Reina.
"Mari tanganmu, aku obati sebentar!" tambah Reina.
"Sudah aku plester tadi, aku membeli di warung sebelum kita naik taksi."
"Luka kamu itu dipaksa Zam, harus di obati dulu agar tidak infeksi, setelah di obati istirahatlah, Aku punya beberapa piyama pria, nanti aku suruh bibi antar ke kamar tamu, untuk malam ini kamu nginap disini aku izinkan."
"Kamu punya piyama pria, punya siapa?"
"Cih, kamu jangan berfikir aneh aneh. Saat itu kamu janji menikah dengan ku, aku sudah menyimpan piyama baru itu untuk kita nanti, ada beberapa! tapi itu sudah lima tahun terbungkus, tidak tahu apa akan muat."
__ADS_1
"Serius, Ren apa sebelum party kita belanja dan melihat gaun pernikahan, gaun pakaian tidur, dan saat itu kita membeli gaun saja kan. Kamu diam diam membeli untuk kita?"
Deg.
Reina baru saja keceplosan, ah rasanya malu. Karena pembicaraan seperti ini sudah jarang dan, entah kenapa kini Reina merasa terlihat akrab pada Azam.
'Tidak, ini pasti hanya peduli karena dia menolongku tadi, dari orang orang yang bersikap iblis.' batin.
"Lukanya sudah aku bersihkan, jadi lebih baik kamu ganti piyama mu itu, dari pada kamu masih pakai, pakaian rumah sakit, jangan sampai tetangga lihat kamu pake pakaian rumah sakit, apalagi keluar rumah, ini sudah malam. Besok saat aku buka toko kue, jangan keluar dari kamarmu!"
Deg.
"Wah, banyak sekali peraturan kamu Ren. Tapi demi kamu, aku pasti akan turuti. Berjanjilah jangan menjauh dariku, apa kamu bisa ...?"
"Entahlah! aku tidak akan menjalin hubungan apapun, selagi aku tidak bertemu ibuku, keluargaku, dan mendapat restu mereka. Jadi untuk malam ini aku berterimakasih padamu. Selamat malam, Zam." lirih Reina, ia beranjak ke arah tangga.
'Selamat Malam Ren, aku begitu mencintaimu dan kagum, kamu bahkan membeli pakaian untuk kita setelah menikah, dan masih menyimpannya. Jelas perasaan itu kamu masih simpan juga.' batin Azam, menatap Reina tanpa kedip.
Sementara Reina, ingin sekali bertanya soal Tuan Alva, apa dia ayah dari Shi, lantas jika benar. Entahlah besok akan ada hal kejadian apalagi, untuk saat ini ia hanya ingin tidur sejenak, bahkan melihat pria wajah rusak pak Alva mengingatkan dirinya pada saat kecil melihat seseorang apakah mirip saja.
Took. Took.
Saat Reina ingin memejamkan mata, entah mengapa pintu kamarnya di ketuk.
'Kenapa malam malam begini ada yang mengetuk pintu?' tegas Reina yang kembali bangun.
TBC.
__ADS_1