
Hari ini, Milen ada meeting di kantornya, ia sengaja menyetel alarm sebelum tidur bahkan mas Diva dinas selama dua pekan, yang membuat Milen biasa saja karena di apartemen ada Brian. Alarm berbunyi sesuai jam yang sudah ia atur, Milen yang sangat merasa lelah sama sekali tidak menggubris suara Alarm, dan justru malah membangunkan.
Brian, pun langsung membuka kedua matanya, ia melakukan hal normal seperti yang manusia lakukan umumnya. Brian mengucek kedua matanya, lalu melirik jam dinding.
Brian pun bangun, lalu mencari asal suara alarm itu, ia pun berjalan menuju kamar Milen.
"Hem, dasar! Apa gunanya setel alarm tapi tidak bangun juga," kata Brian mengumpat Milen.
Brian pun berusaha mencari cara, agar ia bisa membangunkan Milen.
"Mil, bangun!" teriak Brian dan Milen sama sekali tidak menggubris.
Brian pun mencoba menyentuh Milen namun tidak berhasil, ia layaknya seperti sedang menyentuh angin.
Lalu Brian pun mendekatkan bibirnya ke telinga Milen, lalu memanggil nama dengan keras, "Milen .. bangun!"
__ADS_1
Milen pun langsung sadar, ia bisa mendengar suara Brian memanggil namanya, saat Milen membuka kedua matanya, wajah sinar Brian langsung membuat ia terpana.
"Sial, melihat arwah saja kenapa kamu harus iri!" batin Milen mengumpat.
Milen pun memutuskan untuk langsung mandi, ia tidak ingin terlihat aneh di depan Brian.
Melihat sikap aneh Milen membuat Brian bingung, sambil menggaruk kepalanya Brian pun menuju ruang tamu dan menunggu Milen di sana.
Sudah puluhan menit Brian menunggu, namun Milen tidak selesai juga.
Tiba-tiba, Brian merasa sesuatu yang aneh dengan tubuhnya, Brian mulai merasa takut dan panik. Milen yang baru selesai langsung keluar menghampiri Brian. Mata Milen pun langsung terbelalak saat melihat Brian yang akan menghilang. Milen pun langsung mencari penyebabnya, ternyata semua dupa listrik yang ia hidupkan hampir redup karena kehabisan baterai.
Melihat Brian yang kembali muncul, melukis senyum di bibir Milen. Andai ia bisa menyentuh Brian, mungkin ia sudah memeluknya. Entah sampai kapan arwah itu ingat, jika mereka pernah menjadi pasangan bahagia.
"Aku minta maaf, aku tidak memperhatikan dupanya," Kata Milen merasa bersalah.
__ADS_1
"Kamu tidak salah, dupanya habis baterai, jadi kamu tidak salah apapun," jawab Brian.
Milen pun kembali berdiri, ia langsung menghubungi rekan kerjanya, untuk menunda rapat, ia harus menyiapkan dupa yang banyak, agar kejadian ini tidak terulang lagi.
Roni adalah orang yang paling bisa ia percaya. Masih pagi sekali, Milen pun menghubungi Roni untuk membeli dupa yang banyak serta sekaligus membeli baterai cadangnya.
Mendengar titah Milen, membuat Roni menggaruk kepala, Roni pun mulai merasa aneh dengan temannya itu. Untuk apa Milen menyuruhnya membeli banyak dupa, sementara Milen saja jarang sembahyang.
"Kamu tidak harus melakukan ini," kata Brian. Jujur saja Brian sangat takut menyusahkan Milen.
Dengan senyumnya Milen pun berusaha menyakinkan Brian, bahwa ia sama sekali tidak keberatan melakukan ini. Dan Brian juga berusaha mengerti, bahwa Milen memang sama sekali tidak merasa susah atas keberadaan dirinya.
Sembari menunggu Roni, Milen pun langsung menyiapkan sarapan. Biasanya ia hanya menyiapkan untuk dirinya saja, dan kini ia harus menyiapkan untuk Brian juga.
Milen memang sudah terbiasa sarapan dengan roti dan susu hangat saja, jadi tidak ada halangan baginya untuk menyiapkan sarapan dengan mereka.
__ADS_1
Tak lama, Milen mengecek ponselnya apakah ada pesan dari mas Diva, sebab jika ada dirinya. Maka Milen harus pulang ke rumah satu lagi, dimana Brian tidak curiga. Serasa berselingkuh dari arwah suami, tapi aku merasa ingin Brian ingat aku!! Batin Milen.
TBC.