
Perjalanan waktu pun dimulai, melupakan semalam pelukan hangat Azam secara tiba tiba.
Reina merasa debaran cinta itu kembali, benar demi kedua anak anaknya melihat mereka utuh bersama, adalah memaafkan masa lalu yang dimana jika ia tidak ikut minum di acara party, mungkin dirinya tidak akan hamil bahkan dijebak sekalipun, bodoh memang dasarnya begitu murahan, karena cintanya dahulu yang bucin.
Acara pagi ini adalah kebersamaan, dan kini Azam sudah menyisir rambut Bima, tak lupa di sebelahnya Reina sedang menjepit rambut Kanya, yang terlihat di kuncir kelinci, dengan kepangan kecil di sisi rambut.
"Handsome. Kaya ayah Azam dong."
"Tantik, kaya bunda dong." ikut meledek Kanya pada Bima, dengan jahil memanyunkan.
Azam dan Reina saling menatap, dan mulai merasa gemas, dua tingkah anak anaknya begitu tidak karuan.
"Ayo nak, kita siap siap. Nanti kamu terlambat."
"Ayah, apa surprise kita nanti?" tanya Bima.
"Pulang sekolah, kalian akan senang dan menyukainya."
"Pasti mainan .." ujar Kanya, yang memegang tangan bunda, yang saat itu turun ke anak tangga.
"Surprise dong sayang, kalau sekarang tahu. Bukan surprise dong namanya."
"Hihihi.. Iya deh bunda. Bima dan adik harus tunggu enam jam lagi, pyuuh." kerucut bibir Bima.
"Good boy, anak pintar ayah. Ayo turun kita sarapan, pasti bibi dan pak Sup udah nunggu." jelas Azam, yang ikut melirik senyum ke arah Reina.
Mereka makan bersama, dimana semua baik baik saja. Setelah mobil jemputan sekolah datang pun, terlihat Reina melambai tangan pada kedua anak anaknya, dalam jemputan bus, sementara Azam terlihat masuk ke dalam garasi, berniat mengambil sesuatu untuk Reina.
Dan saat Reina berbalik, terlihat tetangga datang hampiri Reina, ia pikir itu adalah Azam ternyata bukan.
"Ini yang katanya nikah dadakan?" tetangga.
"Udah pulang dari kantor polisi ya Ren, emang udah pasti kamu bener bener enggak salah, jangan jangan kamu kabur. Jadi buronan lagi." tambah tetangga satu lagi.
Terdiam Reina, ketika itu pun dirinya benar benar tidak bisa menjawab, namun Azam sudah lebih dulu datang, merangkul Reina yang kali ini dikerumuni beberapa ibu kompleks.
"Bu, ibu. Maaf jika saya ikut campur, tapi apapun di luar sana, Tidak benar jika istri saya membuat kriminal, saya juga sudah menyelidiki dan berniat membuat laporan balik, tapi Reina istri saya ini terlalu baik. Tidak mau membalas dengan kejahatan lagi, kesimpulannya. Istri saya tidak bersalah, saya ada di tempat kejadian. Saya akan menuntut siapapun yang mengusik Reina, dan pasang badan untuk dirinya."
"Wuh, terus bu Sil itu katanya istri pak Azam. Bener dong, bu Reina itu perebut ..."
__ADS_1
"Tidak benar bu ibu, dia hanya mantan saya. Yang ingin saya kembali, dia juga yang merusak hubungan saya dengan Reina, sebelum mengenal Shi, saya dan Reina sudah bersama lama, namun dihancurkan oleh kesalahpahaman. Jadi permisi ya bu ibu, jika kami telah membuat kegaduhan. Kami minta maaf, dan pastinya bu Rt sudah mengusir kami jika ada tetangganya yang bertindak kriminal."
Tetangga mengangguk, tapi ada beberapa yang tak bisa kedip, karena terhanyut tampannya suami bu Reina. Hingga Azam dan Reina lebih dulu pamit, sudah masuk ke dalam rumah.
"Kok ngelamun, masih marah omongan tetangga?" duduk Reina di sofa.
"Aku jadi males keluar. Azam .. Gimana kita batalin aja acara hari ini?"
"Aku ingin kita resepsi berjalan semestinya Ren, aku ingin meminta restu ibumu. Sekarang kita datang sebelum terlambat."
"Tunggu, Azam. Memangnya kamu tahu tempat tinggal ibuku saat ini?"
"Aku tahu, tapi saat ini kita temui mamaku dan ibumu, di suatu tempat!"
Gleuk.
Reina tidak sangka, Azam sejauh ini. Artinya dia memang serius untuknya, atau hanya batas tanggung jawab saja.
"Bi, titip rumah ya." ujar Reina, dan Azam bersamaan.
"Benar benar kompak. Baik bu bos, pak bos." senyum bibi Ros, yang melihat aura Reina lebih baik dan tidak terlihat banyak beban dari sebelumnya, apalagi di goda, membuat pipi Reina merona pink malu.
Saat ini Reina benar benar tidak berdaya, masih berdegub semalam Azam yang terlihat manis.
Kini perlakuan Azam, yang membuat Reina tak sangka, entah apakah sang ibu akan acuh, beberapakali Reina merasa tidak enak hati, bagaimana jika nanti Azam, melihat sikap sang ibu padanya di depan Azam.
"Zam, baiknya kita putar balik saja, a-aku .." gugup Reina.
"Kita sudah hampir sampai Ren, aku ingin mereka merestui hubungan kita. Aku ingin membawamu kemanapun aku pergi, dengan anak anak kita. Kalau perlu kita tetap ajak bi Ros dan suaminya, agar kamu pun tidak melupakan kebaikannya."
"Kamu yakin Azam?"
Azam senyum, ia memarkir mobilnya sejenak. Membukakan seat belt kala itu, membuka pintu mobil layaknya Reina saat ini benar benar di ratukan.
Cafe Starli.
"Kamu yakin kita ketemu disini?"
"Ya, kalau dari pesan nomor ini. Ibumu memastikan akan datang, tapi aku tidak pasti mamaku sudah di nomor yang telah aku pesankan. Ibumu melarang kita ke kediaman rumahnya. Maaf ya, semua karena aku."
__ADS_1
Meja 189 terlihat dengan jelas mama Jing sudah duduk, bahkan jus dan camilan sudah habis di meja hampir setengahnya kosong.
Reina sopan dengan hormat mengulurkan tangan, dimana bertemu bu Jing, yang kini sudah resmi jadi mertuanya.
"Mah, Reina ingin mencium tangan mama. Kenapa tidak di izinkan?"
"Azam, mama datang kesini menentang hubungan kalian, eh ini bisa bisanya sudah menikah."
"Mah, Azam kan sudah ceritakan semuanya. Bisakah mama melembutkan hati mama, ini kehidupan Azam, bahkan Azam, sudah menuruti pilihan mama dan ayah, dimana keluarga Shi meminta mengganti rugi dan Azam tidak bahagia mah. Bahkan semua yang mereka beri sama mama, mereka meminta mama kembalikan bukan? Apa itu arti dari besan dan menantu yang mama idamkan. Bahkan memfitnah ibu dari anak anak Azam."
"Kamu berani bicara gitu sama mama ya .. ?"
"Azam, sudahi! Malu di dengar orang lain." bisik Reina menenangkan.
Halah, wanita penuh muslihat kamu Ren. Dengus Jing kesal.
Reina di minta duduk di tempat, dimana Azam meminta sang mama pindah ke tempat lain.
"Ren, tunggu sebentar ya! Kamu pesan minum atau makan duluan, aku mau bicara sebentar sama mama di ujung sana."
Senyum Reina, mengangguk. Rasanya terasa tidak sehat jika ibu dan anak bertengkar karenanya.
Di Meja Lain.
"Mah, restui pernikahan Azam. Dalam beberapa bulan, Azam akan mengadakan resepsi. Tentunya meminta mama lembut, dan meminta maaf atas pembakaran ruko fotocopy milik bu Milen."
"Apa, .. kamu gila ya Azam. Kamu tega berlaku seperti itu pada mama?"
"Mama, meski aku tidak bisa memberikan kartu hitam pada mama, karena tidak sekaya tuan Alva, tapi Azam masih bisa bekerja mencukupi kebutuhan mama, setidaknya Azam tidak lepas tanggung jawab. Mama bisa tetap tinggal bersama aunty Cari, Azam akan mengirim uang bulanan yang cukup untuk hidup mama, itu jika mama tidak mau ikut dengan Azam."
"Kalau mama ga mau gimana?"
"Azam lepas tangan, soal hutang dua miliar mama tanpa Azam tahu, pada Tuan Alva. Azam juga akan mengikuti prosedur. Setelah bu Milen memperlihatkan bukti yang jelas, jika mama adalah pelaku lima tahun lalu atas ruko usaha miliknya, yang mama hancurkan. Mama juga menyakiti Reina dan menyabotase party itu, membuat Azam dan Reina dalam jebakan, seolah Azam meniduri Shi bukan?"
Deg.
Terdiam Jing, dimana saat itu juga, terlihat di meja Lain mereka menatap.
Dimana Reina berdiri menatap seorang ibu paruh baya yang ikut gemetar gugup, seolah memeluk tak bisa, hanya bisa memandang dalam hitungan jengkal.
__ADS_1
TBC.