Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Mimpi Almarhum Ayah


__ADS_3

Senyuman itu terus kuingat hingga saat ini. Iya, senyuman lembutnya kepadaku. Dia tidak berbicara apapun, dan hanya memandangku.


Milen kini terus mengeluarkan air mata tiada henti. Kerinduan sejak ditinggalnya saat ini bisa terlampiaskan. Sekian lama aku tidak pernah bermimpi tentang ayah, tapi kini aku bertemu seolah nyata.


Ayahku tersenyum, dan mengarahkan tangan kanannya, agar aku bisa melihat semua rumah berjejer ini.


Aku melihat di sebelahnya ada rumah berpenghuni nenek tua dengan taman hijaunya tanpa berbunga.


Ada yang sangat bagus dengan taman yang indah subur, dan berpenghuni anak balita sebaya hingga seumuran Ku, tingginya.


Bahkan banyak sekali berderet rumah yang tidak ditanami apapun, hanya halaman kosong dan gersang dengan penghuni yang sangat mengenaskan.


Apa maksud mimpiku ini? Hingga pandanganku tertuju pada beberapa rumah yang berada di sebelah rumah yang ayahku tinggali.


Yah, aku seperti mengenal mereka. Aku pernah melihat mereka di album mama saat itu.


Mereka adalah para leluhurku dan anak kecil itu adalah saudara jauhku yang sudah lama meninggal.


Dalam mimpiku aku mengusap kedua mataku ini berkali kali, hingga aku berdiri di atas makam ayahku.

__ADS_1


Aku melihat letak dan posisi makam yang persis, dengan apa yang kulihat di dalam mimpi.


"Ayah, ayah....aku merindukanmu." Aku terbangun dan segera beranjak dari tidurku.


Milen membuka mukena, seolah benar tadi ia berada di dunia berbeda. Milen terbatuk, sehingga saat itu ia menitikan air mata kerinduan. Entah kenapa ia melihat nenek Kari bersama sang ayah yang telah tiada.


Segera aku bersiap untuk, melakukan sholat subuh berjamaah di masjid, karena tepat sekali aku terbangun pukul dini menjelang subuh Rasanya baru saja tadi aku menunaikan shalat isya.


Dengan terdiam, Milen berpikir lagi dimana dia? Iya laki laki yang baru dimakamkan di rumah Brian, seingatnya ia mengikuti Brian sejak tadi dan kadang hilang dari pandanganku, setelah angin dingin kencang itu berhembus di atas makamnya.


Lalu? Suara itu, apakah suara dia? Aku semakin bergetar memikirkan hal ini. Suara yang berasal dari dalam makam yang menembus ke dalam kedua telingaku dengan sangat mengerikan. Milen ingat terakhir kalinya saat wujud kakek itu berubah gosong seperti terbakar hangus, bau menyengat membuat Milen ingin muntah.


Suara itu sangat nyaring, bahkan teriakan yang sama sekali tidak pernah Milen dengar sebelumnya. Suara serak seperti terbakar.


Ah, Milen menggelengkan kepala sendiri untuk menenangkan dirinya kembali. Sampai aku duduk di kursi ruang tamuku melihat sosok laki laki bayangan hitam yang biasa menepuk pundakku ketika aku berada di dunianya.


Dia sangat berbeda dengan arwah yang aku lihat tadi, hanya dalam beberapa detik saja. Yah dia tidak menyerupai manusia, dia hanya bayangan hitam berwujud manusia. Sangat berbeda dengan arwah yang masih segar tadi. Wujudnya seperti manusia yang sangat pucat membiru.


Lalu apakah yang sering kulihat setiap hari? Apakah mereka hantu, arwah, jin? Lalu siapakah lelaki berseragam, nenek tua kembar, dan anak kecil, serta mereka yang berada di dunia lain yang sering ku datangi dan ku bantu itu. Benak Milen memikirkan.

__ADS_1


Dalam mimpi Milen, melihat mereka para arwah hanya berada di alamnya dengan wujud manusia pucat. Tapi, setiap hari, aku melihat mereka yang tak kasat mata dengan wujud yang sangat menyeramkan.


Baru kali ini aku menyadari, kehidupan setelah kematian bisa terwujud baik dan buruk tergantung semasa hidup kita.


Milen ingat, iya taman itu, ada yang subur, ada yang mengenaskan. Mungkin itu adalah amal semasa hidup kita.


Air mata Milen terus menetes dengan deras sesaat aku mengingat ayahku yang mempunyai rumah indah dengan taman hijau di alamnya. Ternyata doaku selama ini bisa sampai menuju ke alamnya. Puji syukur Milen saat ini, kembali mendoakan orangtuanya yang telah tiada dan berusaha berbuat baik agar dirinya tidak penuh dosa ketika azal menjemput.


Hingga tak terasa, adzan subuh berkumandang. Bayangan arwah tadi sudah menghilang, terlebih suara suara aneh yang nyaring semakin nyaring seolah terus saja berdatangan di telinga Milen.


Milen pun menatap ponselnya yang berdering, Iya sebentar melihat dan itu adalah Brian yang memberi pesan.


"Mil, siang nanti aku jemput ya! kita jadi telusuri untuk cari jasad pak Kola." pesan Brian, membuat Milen menengkuk kepala terasa berat, seolah bahunya saat ini berat sekali.


"Benar .. gue juga penasaran, kenapa nenek dalam mimpi gue sama ayah! apa jangan jangan selama ini nenek ... aaach!" lirih Milen kebingungan.


Tbc.


.

__ADS_1


__ADS_2