Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Asap Jin Emosi


__ADS_3

"Tunggu!" teriak seorang wanita, membuat Milen membuka pintu mobil dan turun.


Milen menatap Sea. Ia bicara apa yang ia inginkan.


"Ada apa Sea, aku harus cepat pergi."


Plaak! tamparan Sea, ke wajah Milen.


Sea pun menampar Milen dan meminta dia untuk tidak egois padanya.


"Kenapa kamu tampar aku Sea?" ujar Milen.


"Bukankah kamu sudah seharusnya menandatangani surat perpisahan. Kenapa kamu masih membuat Diva bimbang?"


"Aku. Haah, kamu bicara seolah aku yang merebut suamimu Sea. Kamu salah sangka, Diva pasti akan gelap hidup bersamamu. Jadi jangan ganggu aku atau .."


"Atau apa ?"


Milen melihat bayangan hitam, ia seolah haus akan amarah yang ingin membuat sumpah serapah, namun matanya yang berubah merah semua menjadi kembali putih. Ia tidak mau lagi lagi arwah emosi jiwa mendekati Milen, sebab itu ia mulai konsen demi tidak mau berhubungan dengan jin, atau semacam arwah tak kasat mata yang menjadikan dirinya cangkang pendendam.


Milen segera pergi, membuat Sea mematung ketika mobil Milen sudah pergi tanpa menoleh ke belakangnya.


Sea memicik sebal. Ia memikirkan segala cara agar Milen selalu gagal dalam project. Ia menginginkan Milen sengsara dan tak lagi mendapat perhatian dari Diva.


"Lihat saja nanti kamu Milen. Kamu akan menyesal berhadapan denganku." ancam Sea.


Dan hari itu pun pekerjaan Milen selesai, ia juga meminta teman temannya pulang lebih dulu. Karena ia akan ke rumah orangtua Diva, di sana kedua anak Milen sedang di rawat intensif. Jika bukan karena kedua anaknya, ia tidak mungkin singgah ke rumah besar mama Mar yang memang kini Milen berada di singapore.

__ADS_1


"Mil, mau aku temani gak? tar ketemu cewek iblis berabe lagi kaya tadi." ujar Feni.


"Gak apa, kalian lebih dulu aja pulang ya!" pamit Milen dan berlalu.


Debaran jantung, Milen sebenarnya malas jika ia harus bertemu Diva, suami yang kini dalam proses sidang cerai. Apalagi saat ini setelah mata batin di tutup, Milen merasakan kembali asap hitam tebal, konon itu adalah jin emosi, maka satu yang harus Milen tahan adalah, tidak pernah terpancing agar mata batinnya terbuka seperti dahulu, sebab dengan itulah hidup Milen nanti akan semakin tragis, yakni kehilangan orang yang ia sayangi.


Sssst ..


Asap tebal melingkari Milen. 'Pergilah, aku tidak akan terpancing emosi, yang akan membuat aku mengatakan sesuatu, dan kamu memakannya.' lirih Milen, lalu ia membaca ayat suci dan asap itu pun pergi menghilang.


***


Makan Malam Keluarga. Milen menatap sempurna ketika Diva tiba seorang diri.


"Mil. Kamu sedang baik baik saja kan?" sapa mama May, yang sudah anggap Milen anaknya sendiri meski nanti tidak akan jadi menantunya lagi.


Disana juga ada adik ipar Milen, yakni Eri berbisik pada Diva. Seolah membuat banyak mata penuh tanya.


"Apa yang terjadi pada kakak dan Milen?"


"Sssst. Diam Lah dik, kau jangan banyak bicara!" titah Diva.


"Hati hati jika kakak membuat kesalahan kecil. Karma akan membalas secara halus dan sangat cantik, wanita sekarang amat pintar. Dan alam akan membawa kebaikan pada yang benar."


Diva menggelengkan kepala menatap istri dan mantan terindahnya. Sehingga Eri terbatuk batuk kecil karena sang kakak menatap tak biasa.


Dan tiba saat makan malam, tiba mama May memberikan tiket hotel untuk bermalam.

__ADS_1


Tapi Milen menolak jika malam ini lelah, dan tiket hotel diberikan pada Eri dan iparnya saja, selayak adik iparnya. Ia banyak tugas padat dan ingin tidur dengan kedua anaknya malam ini, lalu esok ia akan kembali sibuk kerja.


"Baiklah. Terserah kalian saja, kalau begitu ayo kita lanjutkan makan bersama!" ucap mama May pada Milen.


Milen hanya menelan saliva ketika makan dan berfikir banyak, sebab belum banyak yang tahu ia dan Diva dalam proses cerai. Ia menarik nafas agar terlihat tenang untuk kedua keluarga baik ini tak curiga apa yang ia alami. Ia hanya meminta Sea untuk tidak datang karena ada kedua anaknya. Hal itupun ia janjikan untuk menandatangani berkas perpisahan tanpa Diva tau.


Semua menatap Milen memandang terutama Diva. Ia menatap wanita yang ia sayangi. Ia masih istri sahnya. Hanya saja konflik mereka masih tersembunyi rapat dari keluarganya.


Diva mengusap lengan Milen mengalihkan agar Milen terbiasa, dan tidak canggung. Tapi Milen memang sedikit ragu karena perselisihan batinnya hanya mereka yang tau.


Bahkan saat Milen pergi dengan kedua anak anaknya, mertuanya tahu mereka sedang libur pribadi saja tanpa Diva! Padahal saat ini Milen ingin bercerai tapi tersendat karena Diva.


"Mas. Apa hak kamu menahan ku. Aku sudah mual dengan semua ini." bisik Milen.


"Diam sebentar, aku tahu mereka kembali. Anak anak akan selalu anggap kamu ibu terbaiknya." pinta Diva membuat Milen geli.


"Mungkin masa manis - manis kamu bersama Sea, sangat manis sebelum saya bertemu dengannya, Tapi bisa dipastikan masa depannya tidak semanis dengan Masa bersama dengan aku kan mas! lepas, atau aku bicara tentang kita yang sedang dalam proses perceraian. Lagi pula sebelum ada kamu, hatiku yang bermasalah masih ingat Brian, dan ini caramu membalas. Terimakasih." bisik Milen.


Dan makan malam pun berakhir, Milen segera pamit menjenguk kedua anaknya dikamar, yang disana sudah ada selang infus ditangannya. Tapi Milen tak tahu, jika Diva mengekor masih membicarakan tidak ingin berpisah.


"Sayang maafin aku ya. Aku sebenarnya tidak bermaksud soal aku dengan .. Sea ..."


"Cukup Mas. Aku harus pergi, tak perlu dibahas, aku sudah melupakannya! Dan ketika kita berpisah, ini sudah awal yang benar, agar orang yang aku sayangi tidak jadi korban. Jadi cukup tidak perlu dijelaskan, aku wanita dengan takdir yang aneh."


"Maksud kamu apa Milen, apa mata batin kamu ..?"


"Benar akan hadir dengan penuh amarah dan boomerang, jadi jangan pernah lagi membuat masalah di depanku, termasuk Sea." lirih Milen, dan pergi kali ini juga.

__ADS_1


TBC


__ADS_2