Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Siapa Yang Datang


__ADS_3

Sementara di berbeda tempat. Shi kesal dengan rencana tante Jing. Bahkan kali ini, ia melihat sebuah video kebersamaan Reina dan Azam. Hal itu memicu perdebatan, dirinya dengan tante Jing di telepon.


"Tante, tidak bisa mendekati bocah itu. Saat tante bujuk, dia berlari dan menabrak seorang wanita yang ga bisa tante dekati. Apalagi tempat ramai." ocehan kesal.


"Alah, aku ga mau tahu ya Tante. Pokoknya tante harus pisahin anak Reina secepat mungkin. Biar jadi pelajaran dirinya. Kalau perlu sekap Reina buang ke jurang sekalipun."


Tlith.


Shi menutup panggilan telepon, setidaknya ia berfikir sambil mondar mandir. Bukan tanpa alasan, ia juga berfikir keras untuk bisa mendapat cara. Cara yang terbaik adalah menyingkirkan Reina dari kehidupan ini. Jika sekalipun Azam masih mengejar Reina, karena kedua anak anak itu benar anaknya. Maka Shi berinisiatif mencelakai Reina lebih dulu. Ah! idenya cemerlang, ia tahu harus menghubungi siapa saat ini.


Tet .. Tet .. Tet.


Shi menghubungi seseorang, tanpa lama ia berbicara singkat memberi perintah.


"Aku sudah kirim foto wanita dan uang untuk uang muka, kalau perlu culik dia dan bawa ke jurang! ingat jangan sampai ketahuan, kalau perlu kedua anak anak itu di tinggalkan saja tanpa repot di sakiti." Shi mematikan ponsel, senyum miring.


Tapi saat ia menoleh, pria bertopeng itu mendekat ke arah Shi dari arah belakangnya tanpa tahu, dengan jarak lima meter mengarahkan pistol ke arah sudut mata Shi.


"Ka-kamu siapa?" gemetar Shi.


"Telepon pria yang kau suruh! atau kau mati saat ini juga!" lirih suara serak, Shi masih ingat sekali pria ini, saat dia ingin mencelakai Reina, selalu saja pria ini ada.


Tanpa berlama lama, Shi kembali menghubungi seseorang dan memintanya batal untuk mencelakai orang yang ia suruh.


Pria itu mengambil paksa dan berkata dengan ancaman di dalam telepon, akan tetapi pistol itu masih melayang menatap arah kening Shi yang gemetaran.


Pluugh!


Ponsel Shi dibuang begitu saja ke kolam ikan, membuat Shi menutup mata kala ponsel terbarunya dibuang begitu saja.


"Peringatan dirimu! sekali lagi kau mencelakai orang terdekatku! maka nyawamu berakhir sebelum, mencelakainya lebih dulu."

__ADS_1


DOR.


Suara pistol ke dalam kolam, membuat Shi duduk lemas. Karena memperlihatkan salah satu ikan mahalnya mati tertembak. Pria itu pun pergi begitu saja, membuat Shi mencari sebuah obat yang akan ia minum untuk lebih tenang.


'Dasar gila, siapa dia selalu gagalkan rencanaku mencelakai Reina.' gumam Shi.


***


Sementara di berbeda tempat! Reina yang sedang membuatkan minuman. Ia menghampiri Azam, yang sedang bermain robot mainan bersama Bima, sementara di sebelahnya terlihat Kanya mengambil sebuah dadu.


"Bunda.. ayo kita main ular tangga!"


Meletakkan dimana minuman dan cemilan, membuat Azam senyum pada Reina saat itu.


"Ayolah Bunda! kita main bersama, iyakan boy?" lirih Azam, mengedipkan pada Bima dan Kanya yang senyum.


Reina ingin menolak, entah kenapa kedua anak anaknya kini dekat sekali pada Azam.


Padahal selama ini tanpa Azam ada, Reina selalu menjadi pusat perhatian dimana kedua anak anaknya selalu tak pernah jauh dan tidak manja padanya, tapi keberadaan Azam, mengugurkan hidup Reina diacuhkan.


"I-iya sayang. Bunda duduk dan ambil warna apa ya?"


"Bunda sama Kanya, tim kuning. Kak Bima, sama paman Azam tim melah Ya!" cadel Kanya, mengatakan Merah.


"Oke! Kak Bima pasti kalahin Kanya." sebal Bima, yang kala itu adiknya meledek.


"Enggak dong! Kanya cama Bunda. Wleee."


Azam sendiri melihat perdebatan anak anak itu membuatnya bahagia, andai ia lebih tahu perkembangan mereka sejak dalam kandungan. Mungkin sejatinya pria akan bahagia bukan.


"Eits! jangan berantem dong anak cantik dan ganteng. Kita suit, gimana?" bisik Azam, sementara Reina hanya bisa menurut tak bisa membantah.

__ADS_1


"Ayo. Siapa takut." Kanya memulai tantangan, dan duduk dipangkuan ibunya.


Tak mau kalah, Bima juga ikut duduk di pangkuan Azam, yang sontak membuat Reina dan Azam membulatkan mata. Kedua anak anak mereka saling dipangku, dan menatap intens pada lawan mainnya.


'Jadi seperti ini rasanya tinggal bersama keluarga yang kita cintai, seru sekali.'


Permainan mereka pun berlanjut hingga beberapa jam, tak mau kalah dengan permainan itu. Bima dan Kanya seolah kesal karena permainan mereka seri, hingga satu final membuat Kanya menang dan histeris melompat lompat. Seolah Kanya meledek Bima yang berhasil dikalahkannya.


"Yeey. Yeey! Kakak Bima kalah, wleee."


"Kakak ga kalah Kanya, tapi mengalah agar kamu tidak ambekan. Kasian bunda, kalau kamu kalah pasti kamu minta es krim." sebal Bima, mengatupkan kedua tangan miring. Membuat Reina dan Azam tertawa.


"Kalian dihati bunda pemenangnya sayang." kecup Reina pada Bima dan Kanya, mereka pun saling memeluk.


"Yeeh. Kalian juga pemenangnya dihati paman." celos begitu saja, Azam bicara dan menutup mulutnya saat Reina menoleh.


Akan tetapi kedua anak anak Reina hanya bengong tidak mengerti.


Bibi Ros yang melihat dari dapur bersama pak Sup, begitu terharu dan ikut bahagia. Melihat Reina mau membuka pelan pelan dan tidak egois demi kebaikan Kanya dan Bima.


"Kamu lihat apa Ros?" bisik Sup.


"Ssst! jangan berisik bang. Lihat kedua anak anak itu main hampir lelah, pria itu namanya Azam. Lihat den Bima di gendong karena ketiduran keasyikan main lama tadi."


"Iya ya! Non Reina juga, dia berusaha mau gendong Kanya, tapi pria itu cepat turun kembali dan gendong Kanya. So sweet ya."


Ting Nong!


Suara bel, membuat Bibi Ros, langsung menuju pintu.


"Biar bibi aja Non yang buka."

__ADS_1


"Makasih ya bi, Reina ke kamar anak anak dulu."


TBC.


__ADS_2