Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Brian Jadi Tumbal


__ADS_3

Brian tanpa panik, di sekujur alu lalang ia merasakan keheningan. Sudah seminggu, ia dinyatakan baik baik saja. Selama itu juga, Brian merasa aneh mengapa tragedi kecelakaan ia lihat di koran berita tidak ada kaitan dengannya.


Keluarga bu Rina sangat baik, ibu nya serta bahkan dua anak gadis dan Jal anak laki lakinya juga terlihat baik padanya pun ikut merawat. Tapi ada yang aneh, kala ia turun dari ranjang tempat tidur berbentuk kayu jati dengan dipan karpet tikar di gelar membuat Brian penasaran, dan ingin ia selidiki.


Malam itu tampak hening di dalam rumah, tapi saat Brian keluar. Ia tampak tercengang, ketika dua anak bu Rina membantu berjualan nasi uduk di malam hari. Terlihat ada pecel ayam, tapi anehnya Brian merasakan keanehan.


Ada seorang wanita berbalut baju terusan berwarna merah hati, rambutnya kucel dan seolah berada di depan spanduk nasi uduk buatan bu Rina. Terlihat gambar ayam, ikan lele dan menu di tulisan spanduk.


Brian mendekat, dan saat ramai yang makan tampak biasa saja, seolah tak melihat wanita tinggi menutupi wajahnya di depan pintu. Terlihat Jal menaruh piring dan es teh pesanan di meja pembeli.


Brian berjalan kebelakang, ia amat terkejut kala bu Rina menggosok kakinya yang amat kotor, ke dalam wajan. Terlihat diputar dengan tatapan datar, lalu airnya ia masukan kedalam rebusan lalapan, dan minyak goreng. Bahkan wajan yang bekas di letakan kaki bu Rina, ia taruh sayuran dan setengahnya lagi untuk merendam ikan lele dan ayam.


Terlihat juga saat itu, bu Rina menggoreng ayam, ikan lele pada rendaman air kaki yang kotor. Separuhnya dimasukan ke dalam teko teh tawar, seolah untuk minum pembeli. Yang makan langsung di tempat.


"Astagfirullah! mereka be-berjualan dengan cara memuja agar laris dagangannya. Jadi yang selama ini aku makan?" uuuueeek!! Brian segera memuntahkan isi perutnya. Ia kembali ke dalam kamar, berusaha mencari cara untuk keluar dari rumah yang menolongnya.

__ADS_1


Terlihat juga mbak kunti berbaju merah, di depan pintu spanduk menatapnya dengan tajam. Buru buru Brian masuk, ia segera mengganti pakaian dan mencari perlengkapan untuk ia meninggalkan rumah bu Rina.


Tidak henti hentinya, saat itu Brian mengucap lafadz Tuhan. Ia berserah diri, memohon pertolongan. Brian menyempatkan bersembahyang, dengan rasa gugup ia seolah tenang agar mereka tidak curiga.


"Nak Brian, udah bangun? mau makan?" tanya bu Rina.


"Bo-boleh bu, makasih biar saya sendiri aja nanti. Terimakasih." senyum Brian, padahal hatinya sangat ketakutan.


Setelah bu Rina meletakkan makanan dan minuman, Brian pamit ke toilet. Namun ia mencari celah lewat pintu belakang, menuju hutan pohon rindang. Brian segera berlari dengan sedikit cepat. Ia tak peduli, ia hanya ingin keluar dari perkampungan aneh. Sunyi, tapi hanya keluarga yang sangat membuatnya takut, ia takut kala keluarga itu akan berniat jahat padanya.


Bria terdiam di atap satu pohon, ia lelah dan baginya sudah berkeringat. Bahkan kakinya terluka kena tancapan kayu kering, entah karena ia menggunakan sandal jepit saja, ia berlari dengan tergesa gesa demi keluar dari keluarga pemuja.


Dengan berat hati, wajah kedua mata Brian mendongak. Kala seutai rambut mirip buntut kuda, terlihat menyentuh keningnya. Dan saat Brian menoleh, keatas kepalanya. Dengan sadar itu adalah sosok wewe gombel yang menjulurkan lidah menyeramkan. Air liurnya bahkan menembus wajah Brian dengan sengatan bau anyir yang tajam.


Aaaaargggh!! teriak Brian, ia melangkah kaki seribu. Berlari entah kemana arahnya, hingga sampai berpuluh menit. Dan saat itu juga Brian kesal, kala ia berada di ujung belakang rumah bu Rina lagi.

__ADS_1


Brian tak patah semangat, ia mengucapkan lafadz ayat ayat suci surat pendek hingga ayat kursi. Hingga setelah dirasa cukup lama, Brian terperosot ke dalam jurang. Tubuhnya terbanting terus menerus dan benar saja ia mendengar seperti suara Milen dari kejauhan sedang memanggil.


Brian!! teriak lembut, tapi kedua mata Brian menutup dan menyempit begitu saja. Seolah nyawanya antara ada dan tiada begitu saja, ia seolah merasakan darah mengalir deras, menembus benda tajam yang menusuk punggungnya. Hal itu karena Brian merasakan kaku, juga dari perutnya benda runcing di hatinya menembus begitu saja.


Lailahaillallah Muhammadarrasulullah' memiliki arti “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah." kalimat akhir Brian, saat itu langsung menutup mata.


Ia seolah ikhlas, apa yang terjadi. Darah bercucuran begitu saja. Dan suara tawa wanita tak kasat mata sangat kencang di telinga Brian saat itu. Hingga Azal pun menjemput, Brian benar benar tak bertemu Milen, ia benar benar tidak tahu berada di mana.


Bayangan itu kilat saat dirinya bahagia bersama Milen, Brian yang menggandeng Milen. Seolah ia telah bahagia, hidup lengkap. Tapi saat perbatasan hutan menuju sumbar, Milen dan Brian harus berpisah begitu saja.


'Apakah ini kisah berakhir kita?' ucap Brian menutup mata.


Krek ...


Crrrr ... darah Brian bercucuran begitu saja di tengah hutan, tepi jurang.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2