
Braagh!
Azam membuat mata sang ibu melongo, tidak pernah sekalipun Azam menghancurkan perasaan ibunya. Tapi kali ini, sikap dan tingkah ibunya melewati batas, saat pulang.
"Kamu kenapa datang datang kaya orang gila Azam?"
"Bu! bisa ibu jelaskan, kenapa video ini bisa sama ibu! cctv party yang datang itu Reina, bukan Shi ... Why? bukankah ibu seorang perempuan, ibu tega sekali?" isak Azam, yang hanya mengoceh tak menerima.
Jing sendiri hanya tersenyum picik, lalu meminta Azam tidak memutuskan hal bodoh. Ia tahu yang terbaik untuk karier dan kehidupan anak anaknya. Maka dari itu, ketimbang ia merestui menikahi Reina seorang anak dari pedagang, lebih baik ia nikahkan dan sabotase menikahi Shi si keluarga kaya di atasnya.
"Kau bisa berdiri di puncak karier mu sebagai pilot tertinggi semua itu berkat keluarga Shi! dan kau berada di posisi ceo! semua berkat saham keluarga Shi! jadi nikmati saja dirimu dengan kekayaan nak! kau bisa bermain dengan wanita diam diam, karena mertuamu tahu. Jika putrinya mengidap hiv, jejaknya tidak bisa melahirkan dan kamu hanya meneruskan aset yang harus kamu jalankan!'
Deg.
"Azam tidak sangka, ibu menjual putranya sendiri. Apa ibu pernah bertanya, apa aku bahagia dengan pernikahan pura puraku ini. Bu, tolong dukung aku untuk bercerai dari Shi. Aku ingin bertanggung jawab, atas kesalahan Azam dengan Reina. Dan Azam yakin, kedua anak kembar itu anak Azam."
"Apa .. jadi dia kembali? Azam .. ! jangan bodoh, jika kau cerai dalam waktu dekat, dan mertuamu tahu kau sudah punya anak sebelum pernikahan kalian terjadi, artinya semua aset keluarga Shi akan ditarik hingga nol, bahkan kita mendapat kerugian."
"Itu masalah perjanjian ibu, bukan Azam! Azam terlalu bodoh, karena musuh terbesar Azam adalah ibunya sendiri. Jangan halangi Azam bu! tolong untuk kali ini, beri Azam kebahagiaan. Ibu sudah cukup menyakiti orang yang Azam sayangi!"
Azam pergi, begitu saja. Ia seolah kesal akan bukti bukti yang Heru dapatkan, selama ini ia begitu bodoh, ketika kenyataannya yang selama ini Reina orang yang ia cintai, tidak pernah berkhianat dan meninggalkannya. Justru dia pergi karena ia melihat dirinya menikah, bodoh kenapa Azam hampir tidak ingat party akhir di inggris. Jadi ketiadaan Reina, campur tangan ibunya sendiri dengan banyak ancaman.
__ADS_1
Jing sendiri tidak rela, jika putranya mengejar si gadis miskin, apalagi usaha milik keluarga Reina sudah ia hancurkan, dibuat bangkrut. Tapi jika Reina benar benar meladeni putranya, mendekati putranya maka hal yang Jing lakukan adalah menculik kedua anak anak Reina, agar ia tahu apakah dia benar benar Anak Azam. Memberi perhitungan, jika kedua anak anak gadis itu akan terancam, jika sampai berani kembali berhubungan dengan putranya.
[ Cepat cari tahu, dimana Azam putraku tes dna. Tukar hasilnya, bawa yang asli padaku! ] pesan Jing, entah pada siapa. Yang sudah pasti pada orang suruhannya.
***
Di Tempat Lain :
Reina sendiri terlihat lebih baik, ditemani bibi Ros yang kala itu pembeli berdatangan! ada hal yang membuat Reina sesak, ketika semalam ia mendapati pesan dari Dira. Jika Diva kemungkinan akan kembali ke tanah air, Dira sedang meminta pertolongan pada pamannya di hongkong, agar Diva bisa lepas dari tuduhan pekerja ilegal dan dianggap penyusup bagi warga sana.
Tapi ketika melihat kedua anak anak Reina sedang anteng bermain mainan, pemberian Azam. Entah kenapa hidup Reina semakin memburuk, ia berharap Diva cepat datang dan bisa menyelamatkannya kedua kali. Kali ini Reina benar benar tidak ingin Azam tahu, dan kedua anak anaknya tahu jika mereka adalah sedarah.
"***- ..." terdiam Reina, ketika Azam datang lagi seolah bagai pembeli, kali ini membawa bucket dan tetangga, seolah sumringah dengan ke kepo -an nya.
"Maaf sudah ada yang pesan! silahkan antri dibelakang!" ketus Reina.
"Ih bukan belum ada yang pesan ya mbak Reina?" ujar ibu di sebelah Azam, masih terpesona melihat Azam pemuda tampan yang memakai seragam pilot.
"Begitulah! saya dan mbak Reina ini akrab, hanya saja saat ini sensi. Apakah datang bulan seperti itu bu,?" goda Azam melirik Reina yang sedang melelehkan coklat.
"Betul itu, bener banget. Atau mas nya php kali, halal in mas. Kalau udah halal kan pasti beda rasanya. Iya ga bu - ibu?" tambah tetangga bagai kompor meleduk.
__ADS_1
"Iy betul itu .." pembahasan unfaedah itu Reina dengar dalam beberapa puluh menit.
Hingga terkahir adalah Azam, Azam masih setia menunggu di bangku customer. Hingga saat itu Reina yang beberes, membuat tangan Azam menghentikan langkah Reina.
"Reina, aku ingin bahas banyak hal. Bisa kita bicara?"
"Jangan bicara apapun dekat denganku Azam! sebentar lagi Shi datang, istri sah mu itu masih jelas, jangan membuat rumit aku hidup seperti pelako-r! hubungan kita hanya sebatas orang asing. Paham!'
"Kamu salah jika pernikahanku sehat Rein! izinkan aku tebus semua salahku."
"Keluarga kita tidak setara, bahkan aku dibuang oleh kedua orangtuaku. Karena kamu, bahkan jika kamu menyulitkan hidupku. Ibu mu pasti akan tambah menyulitkan hidupku, menghancurkan usahaku dan keluargaku yang tidak tahu apa apa. Jadi berhentilah berharap, aku benci dengan kasta." Reina melepas tangan Azam dengan kasar.
"Kasta ku sama sepertimu Reina, tidak jauh beda. Maukah kamu bertahan menungguku!'
Reina hanya meneteskan air mata, baginya hidupnya sudah sulit. Jika ia harus pindah tempat tinggal lagi, cukup memakan waktu panjang. Lagi pula tabungannya sangat minim, entah apa lagi jika Reina masih datang menemuinya. Apakah tante Jing akan semakin menindas dirinya dan keluarganya, apalagi Reina sendiri tidak tahu kabar nasib ibu dan ayahnya kini, mereka pindah tempat tinggal dan tak memberi satupun nomor yang bisa dihubungi, bahkan bibi Ros saja, bersumpah ia tak tahu.
"Bunda, bunda kenapa diam dibelakang pintu?" tanya Bima, ketika melihat wajah bundanya merah.
"Bunda habis nangis ya?" tambah Kanya, yang membawa boneka ikut mengekor.
TBC.
__ADS_1