
Mata elang Reina yang sendu, melihat seseorang yang tak asing. Lagi lagi Reina menelan saliva, ketika Dira datang. Padahal Ia tidak begitu akrab dengan Dira, yang hanya seorang karyawan bank. Melainkan Reina mengenalnya lewat Diva.
"Dira, kamu kenapa disini?"
"Reina, aku datang. Mencoba hubungi Azam, dia pastinya tidak dapat sinyal. Tapi bibi Ros menghubungiku, aku hanya amanat dari Diva yang kini di Singapore. Dia mengirimkan pengacara, agar dirimu bebas wajib lapor saja."
"Dir, ini berlebihan. Tapi aku benar enggak bersalah, ini fitnah."
"Reina, tenanglah. Aku bahkan percaya padamu. Ingat aku, Diva bantu karena kedua anak anakmu, tidak ingin sampai kamu menginap disini, kasian jika sampai kamu berada disini!"
Deg!
Reina amat terharu, tapi lagi lagi di posisi seperti ini, Mas Diva dan Dira lah yang selalu menolongnya, bahkan kebaikan mereka saja, semenjak ia terusir, hamil demi mendapatkan identitas kedua anak anaknya bisa sekolah, bisa dikatakan tidak akan ada yang sangka, jika Kedua anak anaknya, anak yang lahir di luar nikah, yang sewaktu waktu memerlukan apapun akan sulit.
"Dira, aku benar benar tidak tahu. Bagaimana untuk membalas budi semua kebaikan .. huhu." Reina yang ingin menangis deras, pecah tertahan.
"Bersiaplah! duduklah dengan tenang. Setelah ini aku antar kamu pulang. Jika ingin berterimakasih, kamu hubungi Diva saja. Sebab aku hanya perantara, semua nya Diva yang atur." jelas Dira.
Reina yang duduk menurut, rasanya berada di ruang pihak berwajib adalah hal tersulit dari dirinya menjalani kehidupan yang melahirkan kedua anak anaknya tanpa sosok pria, jika tidak ada Dira dan Diva. Mungkin Reina akan selalu dihina oleh para warga, mungkin Reina akan selalu tertekan karena anak anaknya akan dibully sebagai anak haram.
Dira tersenyum, baginya melihat Diva yang sedang menata hati, dirinya yang tidak menerima kenyataan jika dirinya benar benar tidak mendapat restu oleh ibunya memperjuangkan Reina untuk hidup bersama, seolah pupus. Sehingga baktinya pada ibundanya, ia fokus bekerja dan menetap di singapore. Sebagai gantinya adalah meminta Dira untuk membantu kesulitan Reina.
Dira dengan seorang pengacara pun berhasil membawa Reina bebas dengan uang jaminan. Meski begitu, tetap saja ia harus wajib lapor, setidaknya Reina hanya berada di ruang interogasi selama beberapa jam, tidak sampai masuk ke jeruji besi.
"Ini surat pembebasan kamu Ren. Soal wanita bernama Shi, aku sudah hubungi Roy. Dia masih ipar kamu kan? kita akan buat perhitungan untuknya."
__ADS_1
"Dir, tapi aku tidak mau sampai kalian membalas, biarkan saja. Sudahi saja, hanya saja dia memang tidak suka karena .." terdiam Reina.
"Si kembar udah bilang sama aku, hebat ya. Anak anakmu itu pintar, sejauh kamu pergi. Tapi takdir membawamu kembali Ren. Kedua anak anakmu yang membawamu beberapakali pada pria yang kamu anggap khianat. Percayalah, jika kamu tidak mencintainya. Pasti kamu memilih di arak, ketimbang menikah paksa kan?" goda Dira.
Deg.
"I-itu .." gugup Reina.
"Ini surat dari Diva, aku hanya bisa antar sampai depan rumah. Di kartu nama itu ada nomor pengacara yang bakal bikin kamu bersih dari tuduhan wanita licik itu, jadi have fun. Tersenyum jangan lupa bahagia!" ujar Dira.
Reina senyum, mengambil surat dari tangan Dira. Hingga ia keluar dari mobil, dan tepat sampai pada gerbang pintu rumahnya yang menutup.
"Bye. Makasih Dira."
"Sama sama. Salam buat anak anak ya Ren."
Reina merasa aneh saat ia menerima surat dari Diva, padahal dia adalah pria sosok yang berjasa dalam kehidupan terpuruknya.
"Astagfirullah." Reina mencoba sadar, dari lamunan yang harusnya tidak boleh. Jujur Reina statusnya sudah menjadi istri seorang pilot, sosok yang pernah ada dalam hatinya, meski pernah tergores.
Azam, sedang apa dia disana. Maaf Azam, aku belum bisa menjadi istri panutan yang jauh dari kata istri terbaik. Bahkan setiap ada masalah, aku tak ingin melibatkan Kamu yang masuk menjadi rumit. Bahkan kali ini aku merasa canggung, merasa pernikahan kemarin itu benar benar bukan nyata.
Kehidupan setelah pernikahan kemarin pun, masih sama saja tidak ada yang berubah.
Berbeda Dengan Azam.
__ADS_1
Bandara internasional di Zürich.
Swiss dengan kode IATA ZRH dan kode ICAO LSZH, Pilot Id xx 091 Azam Sirath.
Azam telah mendarat dan menuju hotel, di mana setelah selesai bertugas. Ia akan beristirahat, setelah kembali dari Inggris ke negara Swiss kali ini ia menepi di hari ke empat.
Dimana hotel mereka, tidak jauh dari danau Jenawa.
Azam sendiri menarik koper hitamnya, entah sudah beberapakali ia menelpon Reina, tidak mendapat jawaban. Hingga akhirnya ia menelepon rumah, tapi masih saja tidak terangkat.
'Angkat dong Ren, apa kalian sedang tidak ada di rumah?' deru batin Azam, yang sudah tidak enak hati di saat ia lepas landas dan landing di tempat tujuan.
"Cih, lihat saja setelah aku pulang. Aku pastikan kamu aku bawa Ren. Bersama kedua anak anak kita, aku belikan rumah di dekat danau Jenawa impian kita, agar aku pulang. Aku akan disambut olehmu. Bisa bisanya sudah status menikah tapi kamu terus saja membuatku cemas, tidak fokus bekerja jika aku seperti ini." lirih Azam, entah bicara pada siapa.
"Pak Azam." panggil Seil, seorang pramugari yang mengekor sejak tadi memperhatikan Azam berjalan lurus.
Ya! Datar Azam, dimana Seil memberikan kode kartu isyarat nomor kamarnya.
"Ada waktu ngeteh bareng, kamar kita satu lantai. 099." senyum Seil menggoda, dan pergi melewati Azam yang sejak tadi menaikan alis.
Cih.
Azam pun acuh, setelah membuang kartu tanpa ia baca, dari rekan kerjanya. Dan ia kembali berhasil menghubungi Reina, namun saat itu bukan Reina yang mengangkatnya.
"Hallo .. Apa ..?!" sarkas syok Azam, yang feeling tidak enaknya membuat Azam berputar arah, dengan langkah kakinya ia segera cepat ingin pulang.
__ADS_1
"Tunggu ya bi, saya akan segera pulang!"
TBC.