
Tim Sar kembali datang, polisi termasuk pak Diva tersenyum kala Milen dan Brian telah membantu makam angker tahun penjajah dan noni belanda. Konon pa Diva bilang, tulang belulang dan mayat terdetek telah dicari pemerintah korea, dan inggris yang keluarganya hilang.
Suatu penghargaan pada pihak polisi dan tima sar telah menemukan, mayat yang telah dicari puluhan tahun itu. Tak luput Milen dan Brian diberikan uang yang sepadan.
"Terimakasih, jika ada sesuatu lagi. Jangan sungkan hubungi bapak!" ujar Diva.
"Tidak sengaja, jika mereka tidak menampakan. Saya juga tidak bisa berbuat apa apa pak!" merendah Melin karena kenyataannya seperti itu.
Keluar dari kantor kepolisian setelah dimintai keterangan, Milen menatap langit yang disampingnya Brian sedang mengangkat telepon dari berbagai negara meminta bantuan. Seolah rejeki mereka mulai berdatangan.
Aku tidak mengerti mengapa Tuhan memberikan kemampuan ini padaku. Terasa seperti kutukan untukku, tetapi aku harus terbiasa. Penglihatan ini terkadang membuatku merasa terganggu karena beberapa dari mereka menampakkan wajah yang menyeramkan.
Kemampuan ini sangat mengusikku, sungguh menganggu. Akan tetapi seiring berjalan waktu, kemampuan ini terasa bagaikan anugerah untukku. Akupun pada akhirnya tahu, bahwa manusia jahat ada dimana-mana. Sangat menyenangkan menggunakan kemampuan ini hanya untuk membantu yang tidak terlihat. Lagi pula, mereka terkadang cukup membantu. Deru batin Melin, tapi sebagain dari ustad ini bukan kemampuan, melainkan jin yang menempel yang harus di usir dengan metode ruqyah massal.
Langit mengabu, pertanda hujan akan segera turun. Suara petir menyambar terdengar jelas di telinga gadis berparas blasteran yang tengah berada di area kantor polisi.
__ADS_1
Angin bertiup menerbangkan rambut panjang dengan berwarna cokelat caramel miliknya. Brian ikut mendongak menatap langit. Netra hazelnya menyorot langit dengan senyum yang terpahat indah di wajahnya. Pria itu menutup kotak blody marry yang sejak tadi ia perhatikan.
Tak lama Milen melihat seorang arwah, yang kaku dengan berjalan kilat di kegelapan hujan yang akan lebat.
Gadis itu bangkit dari kursi taman. Seragam sekolah berwarna marunnya, memberi kesan pucat pada kulit cool undertonennya. Tertulis “Bunga Lily” di nama tag yang terpasang di saku baju sebelah kirinya. Matanya menyorot tajam ke arah Milen dan Brian dengan sebagian menutup mata dengan rambut.
Arwah tersebut mengenakan seragam berlogo sekolah yang sama dengannya dulu, namun terlihat lebih kuno dari yang Milen kenakan. Sudut bibir Milen pun terangkat. Perlahan kakinya melangkah mendekati roh berambut jenis bob tersebut.
“Hey, kamu lagi apa .. ?” tanya Milen, membuat Brian melongo, pasalnya Brian tak melihat siapapun.
Arwah tersebut menengok ke sembarang arah. Ia terheran heran dengan siapa Milen berbicara.
“Aku ngomong sama kamu,” celetuk Milen.
Roh tersebut menutup mulutnya yang sempat ternganga. “Kamu bisa ngelihat aku?”
__ADS_1
Milen tersenyum pada arwah siswa disekolah tersebut dan lalu mengangguk menanggapi pertanyaannya.
“Kamu kenapa ada di sini?” Milen bertanya.
Arwah tersebut menggeleng. “Aku nggak mau cerita sama kamu.”
Milen mengangguk mengerti, lalu menjulurkan tangannya. “Aku Milen, sepertinya roh kamu tersesat tidak harus berada disini, mau aku bantu,” ucap nya.
Arwah tersebut menatap uluran tangan Milen, ia tak berniat membalas uluran tangan Milen. Ia pun menjawab, “Aku Bunga ...”
Setelah arwah itu mengenalkan namanya, ia pun menghilang membuat Milen ingin mengejarnya.
"Tunggu Mil, ada arwah lagi ya?" bisik Brian.
TBC.
__ADS_1