
Hanna yang sudah berada dalam alam lain, raganya bersama Brian di tempat lain. Seolah menyaksikan kemana Sira temannya itu pergi, dan kata temannya lagi Kana ia melihat pak Boy membawa cangkul seperti habis menggali kubur di belakang kampus.
"Ini rumahnya, gak salah lagi ini rumahnya," tukas Brian.
"Itu ada bunga mawar putih kayak yang aku lihat kemarin deh."
Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan kami menyaksikan ada gadis yang kemarin kesurupan. Kondisinya biasa saja layaknya orang sehat tapi wajahnya nampak pucat. Cantik tapi auranya gelap itu yang kulihat.
Kami dipersilahkan masuk ke rumah Sira, kurasakan hawa yang panas dan pengap di ruangannya. Rumahnya bersih tapi pemandangan kusam di dalamnya.
"Teteh, kemarin saya melihat Sira berontak sambil dipegang sama keluarga teteh," kata Milen pelan.
"Anda teh siapa?"
"Saya teman Sira dua semester." ujar Milen.
Gadis itu bengong dan agak kebingungan. Kulihat lama-lama wajahnya semakin pucat dan kusam.
"Panggil saya Teh Rini, ya. Sebenarnya susah saya jelaskan dan saya udah beberapa kali berobat ke orang yang bisa mengusir setan itu dari rumah ini. Ada teman yang menawarkan jasa pengobatan tapi dia gagal, setan itu ada lagi ada lagi," gerutu Teh Rini. Ia adalah kakak dari Sira.
"Teh Rini, apa ciri-ciri kalau setan itu mau datang atau merasuk ke badan teteh?" Tanyaku.
"Biasanya kaki saya ujug-ujug terasa panas, merambat dari bawah sampai perut saya, terus saya muntah," jawab Sira.
Milen melihat ada asap hitam mengepul di ruangan ini, sementara Teh Rini masih merasakan sesak nafas. Aku mencoba menghalau asap hitam itu dengan sapu lidi yang tersimpan di sudut pintu.
"Sira, apa-apaan itu?"
"Teh Rini, Teh Rini, lihat dia," pinta Maro adik bungsu Sira.
__ADS_1
Maro tepat di depan Teh Rini dengan mata tertutup kemudian dia menarik nafas dalam-dalam hingga mengembang, setelah itu dia menggeram.
"Grrrttt....grrrrrr."
Lehernya seperti dicekik, Maro dan ibunya membantu menahan badannya agar tidak memberontak. Dia mengeram selama lima menit, setelah itu kembali ke seperti semula.
Brian menuruti ku dan aku berusaha menemukan makhluk itu di ruangan ini. Yang aku rasakan makhluk itu sedang meneror ku, dia berpindah tempat dalam sekejap seolah dia sedang mengerjai aku.
"Aaaaaarrrrgghhhhh"
Jeritan itu terdengar dari Teh Rini. Aku berniat ke ruang depan, namun Teh Rini rupanya sedang menuju kemari, dia memberontak sambil menjambak-jambak rambutnya dan berteriak memekik.
Teh Rini berdiri di depanku, matanya melotot tajam ke arahku.
"Baguslah," tukas ku.
Aku mendekatinya agar bisa melihat apa yang terekam, dan apa yang sudah terjadi pada dirinya.
Teh Rini terus menggeram ketika aku berdiri di depannya. Aku mencoba memegang kepalanya dan mulai menyaksikan sesuatu dari matanya.
Ku lihat Teh Roni pernah menolak tawaran seorang lelaki, lelaki itu bertandang ke rumah dan menghadapi ayahnya, namun sikap Teh Rini yang dingin terhadap lelaki sudah membuatnya tersinggung dan sakit hati. Dan orang itu adalah dosennya Boy. Hingga Milen melihat gumpalan, pria membawa cangkul ketika bertengkar dengan Sira.
"Aah!" pekik Milen, ia sudah tahu jawabannya.
"Milen, kamu ga apa apa. Udah sadar?" tanya Brian, yang tahu jika istrinya sudah kembali jiwa dan raga kembali menyatu tak terpisah.
Lelaki itu sudah menyukai wanita ini, namun tetap menolak cintanya. Hingga akhirnya dia menggunakan jasa guna-guna untuk menyakiti Teh Rini, aku mendengar bisikan dari lelaki itu. Aksinya di ketahui Sira, karena ia tidak mau ada yang menyakiti kakaknya. Tapi dosen kita .. terdiam Milen, dan saat itu juga Brian tahu jawabannya.
Mata batinku menunjukan lelaki itu menanam sesuatu di depan rumah ini. Dan mulai terjawab dimana dia menguburkan sesuatu seperti bungkusan yang berbentuk pocong.
__ADS_1
"Astagfirullah," ungkap Brian.
Milen mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan cakarnya yang tajam. Mendekati arwah Sira, seolah dia mau menyerang, mungkin karena kedatanganku kesini mengganggunya. Tapi Milen berbicara jika ia ingin membantu.
"Sira, aku datang membantumu! aku tahu niatmu baik pada tetehmu. Tapi beri aku jawaban, dimana jasadmu. Aku merasa hancur jika kamu benar benar sudah tiada." deru batin Melin, menatap gumpalan hitam.
"Aku tidak pernah berurusan dengan makhluk sepertimu, tapi sekarang kamu pergi dari rumah ini," pinta Milen pada jin disebelah Brian.
Setan atau semacam Jin, itu semakin menggeram dan dia pergi ke arah jendela dapur yang terbuka.
Brian memberi segelas air putih pada Milen. Aku melihat makhluk berbulu itu kembali hadir di depanku. Nampaknya dia ada dendam dan tidak suka Milen ada disini atau membantunya.
Milen kembali ke ruangan belakang dekat dapur, makhluk itu seolah-olah mau mengajakku berperang. Wajahnya nampak bengis, matanya merah menyala, dan giginya bertaring ditambah bau busuk menyeruak.
"Kenapa kamu ganggu gadis itu disini? Kamu suruhan orang?" tanya Milen sementara Brian masih memegang lilin bloody marry.
Makhluk itu terus menggeram dan menganga, dia juga memutarkan kedua tangannya seperti mau mencekik leherku. Aku berusaha tenang di situasi yang mencekam ini.
"Jangan ganggu lagi, pergi kamu, pergi!" teriak Melin.
Makhluk berbulu itu berlari ke arahku, dia meloncat dan berdiri tepat di depan mataku. Matanya yang merah menyala dan suaranya menggeram menambah kesan seram yang mengerikan.
Aku terus menatapnya pada makhluk yang dipenuhi dendam dan nampak haus darah. Semakin lama aku merasa sesak nafas dan badanku mulai lemas. Jadi, begini cara dia melemahkan manusia agar mampu dikuasai.
Aku mulai membaca doa sebisa mungkin, makhluk itu masih bertahan di hadapanku. Setelah dirasa ini sudah cukup, aku berteriak mengusirnya.
"Pergi!"
Badanku lemas dan Brian segera menahan badan Milen yang kehabisan energi sewaktu menghadapi makhluk berbulu itu. Aku rehat sejenak dan duduk di kursi, dan terjaga kala Brian melantunkan doa doa.
__ADS_1
TBC.