Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Diva & Alva


__ADS_3

Esok harinya, setelah keadaan pingsan. Melin mencoba untuk berdamai pada kenyataan, membuka mata batin setelah keadaan mata tertutup, sangat tidak mudah. Maka dari itu, Melin berusaha membereskan konflik drama rumah tangganya yang pernah di nikahi Diva.


Kembali dalam pekerjaan, membuat Melin akan pergi ke suatu tempat, dimana ia diantar supir kantor Melin bekerja.


"Tunggu!" teriak seorang wanita, membuat Melin membuka pintu mobil dan turun.


Melin menatap Sea. Ia bicara apa yang ia inginkan.


"Ada apa Sea, aku harus cepat pergi."


Plaak! tamparan Sea, ke wajah Melin.


Sea pun menampar Melin dan meminta dia untuk tidak egois padanya.


"Kenapa kamu tampar aku Sea?" ujar Melin.


"Bukankah kamu sudah seharusnya menandatangani surat perpisahan. Kenapa kamu masih membuat Diva bimbang?"

__ADS_1


"Aku. Haah, kamu bicara seolah aku yang merebut suamimu Sea. Kamu salah sangka, Diva pasti akan gelap hidup bersamamu. Kalau begitu jangan cari aku, susah jika aku harus membuang waktu pada wanita yang tak tau diri." cercah Melin dan masuk ke dalam mobil.


Sea memicu sebal. Ia memikirkan segala cara agar Melin selalu gagal dalam project. Ia menginginkan Melin sengsara dan tak lagi mendapat perhatiaan dari Diva.


"Lihat saja nanti kamu Melin. Kamu akan menyesal berhadapan denganku." ancam Sea.


Dan hari itu pun pekerjaan Melin selesai, Melin meminta teman temannya pulang lebih dulu. Karena ia akan ke rumah orangtua Diva, di sana kedua anak asuhnya sedang di rawat intensif. Jika bukan karena kedua anaknya, ia tidak mungkin singgah ke rumah besar mama May yang memang kini Melin, berada di luar kota.


"Mel, mau aku temani gak? tar ketemu cewek iblis berabe lagi kaya tadi." ujar Feni.


"Gpp, kalian lebih dulu aja pulang ya!" pamit Melin dan berlalu.


Dan seperti biasa, tampak baik baik saja namun kenyataannya sangat sangat tidak baik, setela dari rumah orangtua Diva. Melin kembali pulang dengan supir. Namun ada mata yang membuat mata Melin sangat aneh, Diva meminta Melin esok ke kantornya.


'Ada apa mas Diva minta aku ke kantor?' benak Melin terdiam.


***

__ADS_1


Esok harinya.


"Mas Diva. Ada apa?" tanya Melin


"Datanglah ke kantor QX group. Mas akan bicara pada Sea. Jika mas tak ingin meninggalkanmu. Mas minta maaf karena menikahi Sea tanpa kamu tahu sayang."


"Cukup Mas. Sudah pasti itu kemauan Mas. Aku hanya apalah, tak bisa menahan apa yang aku rasakan. Aku ikhlas Mas dengan Sea, lagi pula kebaikan kamu menolong aku saat aku di tinggal Brian, dan kini anak ku. Aku bisa apa?" sesak Melin mengingat lagi.


"Melin. Tunggu Mas, Mas harap kamu datang esok!" menoleh kepala, keluar mobil di jendela, seolah seseorang Alva dan satu teman Melin tahu, jika Melin sedang bersamanya.


Melin memilih pergi. Ia mencoba membuat pikirannya jauh untuk tak bersedih. Sehingga saat ia menutup pintu. Melin masih melihat dibalik jendela kaca, jika sang suami masih menunggunya di luar area rumah kontrakan kecilnya.


"Maafkan aku mas. Sejujurnya aku ingin meminta mu masuk dan memeluk. Tapi aku tak bisa berkata apapun. Kamu harus mengambil keputusan. Aku hanya wanita yang terlalu tega padamu. Bukan wanita satu satunya yang ada di hatimu."


Dan saat Melin akan masuk rumah, seseorang datang memberi surat undangan.


"Assalamualaikum, mbak Melin. Ini ada undangan, saya murid Ustad Alva, hanya menyampaikan itu saja. Kalau gitu saya pamit."

__ADS_1


"Iya, makasih ya Riva. Salam dengan Ustad Alfa, terimakasih sudah menunggu." sapa Melin, yang lupa kala di teras tamu khusus tamu, ada Alva dan muridnya.


TBC.


__ADS_2