Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Syok Brian Dahulu


__ADS_3

"Lama amat ini yang ambilin keripik, dah lah gue haus, gue ke dapur dulu deh. Sekalian mau pipis." ucap Brian.


"Ke pojok kiri, tinggal lurus. Tar juga lo liat kamar mandi, ada Milen pasti lagi nyiapin makan. Tar gue nyusul bentar lagi." ucap Ika.


Brian pun melanjutkan langkahnya. Karena begitu serius dan terburu buru, siku Brian pun menabrak bingkai pintu dapur.


"Aduh! Kucingku belang dua diberi nama Lita. Harta dan tahta dan juga Lita Thalalala!" Brian berucap spontan, dengan lancar dan bernada.


"Buset, rumah segede gini kok mau sih gelutan sama siku gue," kesal Brian kembali, sebab jika siku terbentur itu sakitnya sampai ke ujung langit. Sensasi cekot cekot yang diberikannya, seperti anda menjadi buta ijo dengan wajah merah.


Ucapan Brian sontak membuat kaget wanita cantik, agak tua dengan hijab indahnya memanjang ke bawah. Raut Brian seketika malu malu saat bertemu tatap dengan wanita itu. Dia adalah nenek Kari masih keturunan ningrat, nenek dari Milen. Parasnya begitu ayu, kerutannya pun masih sedikit. Padahal usianya sudah kepala tujuh puluh lebih.


"Ealah, Nak! Kamu buat Nenek kaget saja," seru nenek Kari. Saat itu dia tengah mencuci piring.


"Hehe, Nenek dah pulang. Misi ya Nek, disuruh Milen ambil makanan di kulkas. Jus nya tadi di luar habis." Brian mengucap menahan sakit setelah sikunya insecure.


"Monggo, Nak. Nggak usah sungkan," tanggap nenek Kari lembut.


"Iya, Nek." Brian melanjutkan langkahnya.


Saat ingin beranjak ke kulkas yang jaraknya sekitar lima meter dari tempatnya, sontak pintu yang tertutup rapat seperti ada yang menggedor dari luar. Brian sontak mulai tak enak hati. Rumah Milen memang besar. Sudah beredar kabar di sekitar kompleks, bahwa rumah yang dihuni oleh keluarga ningrat itu ada kekuatan mistis.

__ADS_1


Brian pun tak menyalahkan itu, sebab dia pun merasakan apa yang rumor katakan. Sebenarnya rasa ketusnya pada Milen, hanya ingin membuktikan apakah Milen sama sepertinya sering melihat hal tak kasat mata.


Saat itu perasaan Brian sudah tak enak. Brian pun melanjutkan niatnya untuk mengambil makanan ringan di kulkas. Sementara pandangannya belum berpaling pada nenek Kari yang tiba saja diam, kaku dan pucat. Brian juga tak melihat Milen menyiapkan makanan di meja dapur.


"Nek, pulang lewat pintu belakang bukan? Brian boleh tanya Milen dimana?"


Pandangan Brian masih belum berubah. Dia masih memantau nenek Kari yang masih diam saja, seolah mengelap piring terhenti lama seperti kaku bagai es batu.


Brian terkejut, ketika melihat sang nenek dari pantulan kaca kulkas, matanya merah, mukanya agak hancur dan tubuhnya besar, tampak seperti badan hewan buas. Rautnya seperti ingin mencelakai orang. Brian merasakan aura jahat dari hantu itu. Brian yang memang sering melihat Hantu, ia memejamkan mata, masih sama dan menoleh kebelakang masih punggung nenek Kari yang normal. Tapi melihat kaca kulkas, sosok nenek Kari berubah seram. Brian pun segera lari ke teman temannya, meski kakinya sedikit kebas dan kaku seperti batu yang sulit bergerak dipindahkan.


Argh .. Kabur .. Batin Brian ingin menangis.


"Udah selesai belum, pulang yuk!" teriak Brian.


Tapi Ika, Ton dan Jat seolah aneh melihat aksi Brian.


"Mmm-nenek baru sampe?" Brian mengucap dengan kaki gemetar. Raut wajahnya tak teratur. Tampaknya dia begitu tertekan.


"Brian? Kamu kenapa, Brian?" ujar nenek Kari sedikit panik.


Bagaimana tidak, saat ini Brian sangat tertekan, belum lama ia lihat di dapur sang nenek ada. Tapi kali ini nenek Kari nyatanya baru pulang dengan pakaian berbeda.

__ADS_1


Brian melayang jatuh, sang nenek menolong dan meminta Milen mengambilkan minyak angin juga minum. Dan Milen juga bingung, ia bilang pada Brian jika pintunya hanya depan utama saja, tidak punya pintu belakang. Saat Brian baru saja bertanya apa punya pintu belakang dirumahnya.


Saat itu juga Milen sadar, ia menoleh ke sang nenek. Ia mendongak, menyaksikan hantu berbadan besar sekitar sembilan kaki. Makhluk berbulu lebat itu berjalan menunduk, dengan tatapan tajam dan mematikan.


Milen berusaha memberanikan diri, memegang Brian karena sosok itu terlihat mendekat ke arah Brian. Milen juga memaksa melangkah, tetapi terseok hingga membuatnya terduduk.


'Pergi! jangan ganggu dia. Mereka teman teman aku.' teriak batin Milen, membuat seluruh tatapan temannya bingung saat Milen memejamkan mata, dan memegang tangan Brian refleks.


Sementara itu, pandangan Brian masih belum beranjak dari makhluk mengerikan itu. Saat ini dia berada di setengah alam atau antara alam manusia dan alam astral. Hantu itu kini tepat di depan wajahnya. Jarak antara wajah Brian dan makhluk itu hanya sekitar sepuluh sentimeter. Makhluk itu mencoba memasukkan tangannya ke dalam mulut Brian, sedang Brian merasa tubuhnya mati rasa. Akan tetapi sosok wanita bernama Milen memakai jubah hitam telah menariknya dan Brian pun kembali sadar.


"Brian! lo ga apa apa?" ucap Milen, kala Brian sadar.


Milen memberikan minyak angin diberikan kepada Ika. Agar Ika memberikannya pada Brian.


"Gu-gue kenapa. Gue dimana?" ucap Brian pelan lemas.


"Lo pingsan di dapur." jelas Ika menatap Milen.


Argh .. Dapur lo, mistis ya Mil.


Plug!! Kembali Brian pingsan.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2