
Kehamilan Anita sudah memasuki bulan ke sembilan, dia kini semakin susah untuk bergerak. Bangun dari duduk pun kadang harus di bantu, setiap pagi Anita jalan-jalan di halaman rumah beberapa kali bolak balik.
Jika hari Minggu Anita di bawa oleh Arga untuk pergi ke lapangan sepak bola di dekat alun-alun kampung. Di sana jika setiap hari Minggu pasti ramai orang-orang melakukan olah raga dan mencari sarapan pagi.
Banyak juga penjual dan juga orang berolah raga.di sana. Sangat ramai di Minggu pagi ini. Anita senang Arga mengajaknya jalan-jalan pagi dan sarapan di pinggir jalan. Apa lagi ketiga anak-anaknya bermain dengan puas di sekitar lapangan.
Arga dan Anita hanya mengawasi mereka dari jauh, melihat keceriaan ketiga anak mereka membuat Anita dan Arga bahagia.
"Sayang, aku bahagia sekali melihat keceriaan mereka semua." ucap Arga menatap ketiganya yang sedang berkejaran.
"Aku juga bahagia, Ga. Apa lagi semua perhatian dan kasih sayangmu padaku semakin melimpah. Terima kasih ya, suamiku. Cup." ucap Anita, dia memcium pipi Arga.
Arga tersenyum, dia senang istrinya tidak malu-malu mencium di tempat terbuka seperti itu meski hanya di pipi.
"Iya sayang, semuanya akan aku lakukan untukmu dan anak-anak kita. Aku berjanji akan selalu menyayangi dan mencintaimu selamanya sampai kita menua dan di pisahkan oleh maut." ucap Arga.
"Uuuh, so sweet banget sih suamiku ini." ucap Anita sambil mencubit pipi Arga.
Tapi Arga malah cemberut, wajahnya terlihat kesal karena Anita menanggapinya tidak serius. Anita melihat suaminya kesal hanya tersenyum, dia kembali mencium pipi Arga. Tapi Arga belum juga berganti ceria, masih berwajah masam.
"Kok ngambek sih, kayak Celine kalau minta permen lolipop tidak di turuti." ucap Anita terkekeh.
"Kamu ngga serius menanggapi apa yang aku katakan sayang, aku jadi kesal. Seolah ucapanku hanya bercanda di matamu." kata Arga.
Anita menghela nafas panjang, dia kembali menatap suaminya yang masih ngambek karena tidak di indahkan ucapannya oleh Anita.
"Ga, apapun yang kamu ucapkan aku percaya. Sangat percaya, makanya aku mau menikah denganmu dan melepaskan semua beban hati yang selama ini sering menggelayutiku setiap waktu. Aku selalu khawatir dengan hubungan pernikahan dan berumah tangga. Apa kamu tahu, setiap detik di waktuku bernafas selalu ada rasa syukur pada Tuhan telah mengirim kamu di hidupku. Setiap saat ketika bersamamu adalah hal terindah yang pernah aku rasakan. Namun begitu, aku tidak bisa membandingkan apa pun kamu dengan lainnya. Kamu lebih segalanya buatku, lebih dari harapanku untuk mencapai kebahagiaan sederhana yang aku impikan. Jadi, kamu jangan khawatir aku akan meragukan setiap apa yang kamu lakukan untukku. Kamu adalah anugrah dari Tuhan yang terindah untukku, Arga. Suamiku tercinta." ucap Anita menatap lembut pada suaminya yang juga menatapnya karena kata-kata Anita yang panjang itu.
Arga terharu dengan ucapan istrinya, dia terpaku. Lalu memeluk istrinya yang semakin hari semakin dia cintai.Benar, mencintai Anita bukan sekedar fisik tetapi rasa yang dia ingin mencintai dan melindungi Anita dari kesengsaraan dan selalu ingin membahagiakannya. Karena Arga benar-benar sangat memcintai Anita.
"Terima kasih sayang, aku tidak meragukanmu. Hanya saja aku sedikit kesal dengan tanggapanmu tadi. Maaf kalau aku tersinggung dengan ucapanmu." ucap Arga.
Kini keduanya kembali berpelukan, meski Arga tidak bisa memeluk tubuh Anita seluruhnya karena terhalang perut besarnya.
Hari sudah siang, Arga dan Anita serta ketiga anak-anaknya kembali pulang setelah jalan-jalan pagi hari.
_
Pagi hari Arga baru saja berangkat ke kantor dan anak-anak juga ibu Yuni sudah pergi ke sekolah. Di rumah hanya ada ibu Ema, Anita mulai terasa kram perutnya. Dia memegang perutnya dan wajahnya meringis, tiba-tiba air keluar dari bawah perutnya. Dia kaget.
Ibu Ema melihat menantunya meringis kesakitan dan memegangi perutnya, dia mendekat ikut memegang perut Anita.
__ADS_1
"Kamu mau melahirkan, Anita?" tanya ibu Ema cemas.
"Iya ma, sepertinya begitu. Air keluar dari bawah perutku." ucap Anita.
"Ya sudah ayo kita ke rumah sakit. Mama akan pesan taksi untuk kita. Apa kamu sudah menyiapkan perlengkapan untuk melahirkan?" tanya ibu Ema.
"Sudah ma, tapi di kamar di bawah lemari ada tas besar dan kecil di sana." jawab Anita.
"Kamu bisa tahan sebentar? Mama akan ambil tas kamu dulu lalu keluar menunggu taksi." ujar ibu Ema lagi.
"Iya ma, aku bisa tahan kok. Ini juga kramnya masih sedikit sakitnya."
Lalu ibu Ema bergegas naik tangga mengambil tas Anita untuk di bawa ke rumah sakit. Dia masuk dan langsung menuju lemari yang di tunjuk Anita. Di sana dia melihat tas besar dan kecil.
Tas besar itu terlalu berat dia bawa. Dia hanya menyiapkannya saja tepat di depan pintu, pembantunya yang akan membawakannya ke dalam taksi yang nanti di sewanya.
Sampai di bawah, ibu Ema menuntun menantunya keluar. Tak lupa juga dia membawa tasnya sendiri untuk berjaga menelepon anaknya nanti jika di dalam taksi.
Pembantu itu mengikuti kedua menantu dan mertua ke depan rumah. Mereka menunggu beberapa menit, lalu datang taksi. Ibu Ema menyetopnya dan segera masuk dengan Anita.
"Bang ke rumah sakit ya." ucap ibu Ema.
"Iya bu, siap."
Tak lupa ibu Ema memberi kabar pada anaknya kalau istrinya mau melahirkan.
"Halo, Ga. Mama sama Anita ke rumah sakit, istrimu mau melahirkan." kata ibu Ema memberitahu Arga.
"Apa ma? Anita mau melahirkan?" tanya Arga di seberang sana.
"Iya, kamu cepat datang ke rumah sakit ya. Sekarang mama masih di taksi, sebentar lagi sampai kok."
"Iya ma, aku segera ke rumah sakit."
"Hati-hati bawa mobilnya, jangan ngebut. Anita tidak apa-apa kok, masih kram di perut aja."
"Iya ma, aku segera kesana."
Klik.
Sambungan telepon terputus, ibu Ema memasukkan ponselnya dan dia kembali melihat Anita meringis.
__ADS_1
Tak berapa lama, mobil taksi berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Anita keluar dan di ikuti ibu Ema, dia membayar argo taksi dan langsung mengajak Anita masuk ke dalam.
Mereka di sambut oleh petugas jaga UGD dan langsung menangani Anita yang sudah meringis sejak tadi.
Ibu Ema mengikuti kemana Anita di bawa pergi, dia melihat Anita masih tenang meskipun sesekali wajahnya meringis tanda kesakitan.
"Ma, apa Arga masih lama datangnya?" tanya Anita.
"Sabar sayang, mungkin dia sedang izin dulu di kantornya. Nanti dia juga datang, kan jarak kantor dengan rumah sakit jauh. Kamu tenang saja ya, ada mama di sini." ucap ibu Ema menenangkan menantunya.
Anita di bawa ke ruang bersalin, dia lalu di tangani dokter yang dulu memeriksanya.
"Ibu sudah mau melahirkan?" tanya dokter itu dengan tenang.
"Iya dokter, dari pagi perut kram terus dan keluar cairan dari bawah." jawab Anita.
"Suaminya belum datang?" tanya dokter lagi.
"Belum dok, mungkin sebentar lagi." jawab Anita.
Dokter memasukkan tangannya di bawah bagian inti Anita, dia memperkirakan berapa pembukaan lagi.
"Emm, masih pembukaan tujuh. Sepertinya dia menunggu papanya hadir ini. Oke, ibu banyak jalan lagi ya biar cepat nambah pembukaannya." pesan dokter.
"Baik dokter, tapi saya sakit sekali dokter."
"Ibu pernah melahirkan, jadi ibu bisa mengatasi rasa sakit itu ya. Ibu pasti bisa menahan sakit ketika jalan-jalan, nah itu suaminya datang. Saya pergi dulu sebentar, setengah jam lagi saya ke sini lagi."
Dokter lalu pergi meninggalkan Anita yang masih menahan rasa sakit di perut dan pinggangnya, Arga masuk dengan wajah panik. Dia mengecup kening istrinya untuk menenangkan Anita.
"Sayang, kamu merasa sakit, dia bagian mana?" tanya Arga semakin cemas melihat Anita meringis kesakitan.
"Orang mau melahirkan pasti sakit, Ga. Kamu pertanyaannya aneh deh, eeeuuuh." ucap Anita ketika sang jabang bayi mulai bergejolak mencari jalan keluar.
Arga memegang perut istrinya, dia merasa kasihan dengan Anita. Dulu ketika Marisa melahirkan Celine, dia sedang keluar kota mengikuti seminar. Jadi tidak tahu rasanya mendampingi orang melahirkan.
Beruntung sekali dia bisa melihat dan mendampingi Anita melahirkan, meski pun rasa cemas di hatinya terus menampakkan di wajahnya.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤