
Sepulang Rendi, Anita masuk ke dalam kamar anaknya. Di sana Chila sedang berbaring menelungkupkan badannya di kasur.
Anita mendekat, dia duduk di samping Chila yang masih bergeming dengan kehadiran ibunya.
"Kak, kakak ngga boleh begitu. Papa kan cuma mau lihat kaka sama adek Iko aja, papanya kangen sama kalian. Apa kalian ngga kangen sama papa?" tanya Anita, dia tahu Chila sangat sedih.
Namun dia tidak bisa memaksa anaknya untuk menerima Rendi begitu saja. Chila bangkit dan tidurnya, dia usap air matanya yang masih mengalir.
"Kenapa baru sekarang ma, papa cari kita?"
"Kan papa sibuk sayang. Papa sibuk kerja jadi tidak sempat datang." perih Anita mengatakan itu sama anaknya.
"Apa mama juga kangen sama papa?" pertanyaan Chila di luar pikiran Anita.
Dia kangen sama Rendi? Entahlah, dia datang saja rasanya sulit menerimanya. Ingin rasanya dia marah, namun itu dia tahan. Dia lebih baik menerina dengan lapang dari pada harus marah-marah. Bagaimana pun jika marah-marah, tidak mengubah keadaan jadi lebih baik.
"Ma, apa mama kangen juga sama papa?"
"Yang anak papa kan kalian, mama sudah bukan istrinya papa. Jadi buat apa mama kangen sama papa kalian. Papa kalian sudah punya istri lagi, mana bisa mama kangen sama papa."ucap Rendi.
Sejujurnya dia tidak ingin bicara seperti itu dengan Chila, namun dia tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya secara jujur. Tapi memang dia tidak pernah mengharapkan Rendi datang lagi.
Kalaupun datang, biar anak-anaknya saja yang dia temui.
"Mama tidak bisa lagi sama papa?" tanya Chila.
"Chila tidak.mau ketemu papa? Kata Iko sering di ledek sama teman-teman karena papanya tidak ada. Sekarang papa datang, kenapa kakak ngga mau sama papa?"
"Kakak ngga sayang sama Chila ma, kakak jadi kesal sama papa."
Anita mnedesah, sangat susah memberi nasehat pada anak yang sedang terluka hatinya. Apa lagi itu sudah terlalu lama, dua tahun lebih.
"Ya udah, mama terserah kakak aja. Tapi mama harap kakak terima papa kesini. Mama yakin papa itu mau menengok anak-anaknya, nanti juga berangkat lagi untuk kerja kak."
Chila diam, dia lalu mendongak menatap ibunya meyakinkan ucapan Anita, bahwa Rendi hanya sementara saja.
"Ya udah, kakak mau bertemu papa."
Senyum Anita mengembang, dia memeluk anak gadisnya itu.
"Besok ya, soalnya papa sudah pulang ke penginapannya. Katanya besok mau ke sini lagi." kata Anita.
Chila mengangguk,dia lalu beranjal dari tempat tidurnya.
"Kakak lapar ma." kata Chila.
"Ayo makan dulu, mama juga lapar."
Keduanya pun keluar dari kamar dan menuju ke meja. Di saja sudah ada ibu Yuni yang siap memberondong pertanyaan pada Anita. Anita tahu itu, dari tatapan ibu Yuni padanya.
Namun di tahan karena ada kedua cucunya yang mau makan siang bersama itu.
"Ibu tunggu penjelasan kamu, Anita." kata ibu Yuni pada Anita.
"Iya bu, nanti setelah anak-anak sudah makan dan main lagi." jawab Anita.
Lalu kedua anak Anita makan dengan lahap karena Anita memasak makanan kesukaan mereka. Sedangkan ibu Yuni masih diam, memperhatikan kedua cucunya makan dengan lahap.
__ADS_1
_
Kini Anita dan ibu Yuni duduk di ruang tamu, mereka saling diam. Ibu Yuni menunggu Anita bicara mengenai kedatangan Rendi. Sedang Anita sendiri belum tahu maksud kedatangan Rendi sesungguhnya. Dia hanya baru menebak kemungkinan ingin bertemu anaknya saja.
"Dia mau apa datang kemari, Anita?" tanya ibu Yuni akhirnya, karena Anita belum mau bercerita.
"Aku belum tahu bu, sejauh yang ku kira mas Rendi pengen ketemu dengan anak-anaknya aja." jawab Anita.
Dia tahu ibunya tidak suka Rendi datang, namun begitu bukan berarti ibunya melarang cucunya ketemu dengan papanya. Yang dia takutkan Rendi meminta Anita kembali padanya. Dia tidak akan sudi menerima Rendi lagi.
"Betul hanya itu?" tanya ibu Yuni meyankinkan.
"Iya bu. Tapi entah nanti kesini lagi, aku tidak tahu."
"Kalau dia memintamu kembali, ibu tidak akan izinkan kamu kembali padanya." kata ibu Yuni seperti memperingatkan Anita.
Anita diam saja, dia juga enggan untuk kembali. Tapi jika anak-anak menginginkan mereka berkumpul? Apakah Anita akan menolaknya?
"Tidak bu, pemikirannya cukup panjang untuk itu. Lagi pula mas Rendi kan sudah punya istri."
"Kalau dia tidak punya istri?"
"Bu, kita jangan bicara kemungkinan yang belum tentu itu benar. Biarkan anak-anak menikmati bahagianya karena ada papanya."
" Ya memang, anak tetaplah anak. Tapi ibu tidak akan sudi menerima dia lagi, Anita."
Entahlah, Anita bingung dan juga sedih. Perceraiannya dengan Rendi banyak mengundang sedih pada anak-anaknya, ibunya dan tentu saja dirinya sendiri. Rasa sakit seorang ibu di campakkan anaknya oleh menantunya demi seorang perempuan lebih cantik, dan kesedihan anaknya karena harus terpisah jauh dan lama dengan papanya walaupun semenjak kecil tidak pernah di pedulikan. Serta dirinya sebagai istri yang lebih tersakiti harus di ceraikan karena perempuan lain yang lebih menarik suaminya.
Banyak pertimbangan bagi Anita untuk kembali, dan banyak sekali yang akan terluka juga. Ya ibunya dan juga Arga, dia memberi waktu jawaban pada Arga atas lamarannya.
Sekarang Rendi datang? Adakah nanti pikiran Arga atas di tundanya karena menunggu mantannya?
Hari sudah sore, Chila dan Chiko belum pulang dari bermainnya dengan teman-temannya. Mungkin juga Chiko bercerita kalau papanya datang menjenguknya.
Anak itu sangat antusias jika Rendi datang, lebih ekspresif di banding Chila. Meski Anita yakin Chila juga senang jika Rendi datang.
_
Obrolan malam kali ini dengan anak-anaknya, Anita lebih banyak diam. Dia lebih sering mendengarkan Chiko bercerita tentang tanggapan teman-temannya ketika bercerita papanya datang. Walau Chila diam,namun rasa bahagianya juga terpancar jelas di wajahnya.
Mungkin jika besok Rendi datang, Chila juga sudah tidak secuek tadi siang.
"Kak, kalau papa datang tuh jangan nangis." kata Chiko mengingatkan kakaknya.
"Siapa yang nangis?" elak Chila, dia gengsi untuk mengakui kalau dia sedih dan juga kaget atas kedatangan Rendi.
"Kak Chila tadi siang nangis. Papa kan mau peluk kak Chila, tapi kak Chila nangis lari ke kamar."
"Ih, Iko, kakak tuh kaget. Papa lama ngga datang, eh sekarang datang. Kakak jadi kaget Iko, kata mama papa sibuk." jawab Chila dengan wajah cemberut.
Anita menunduk, ada rasa lucu dan kaku dengan obrolan kedua anaknya itu. Sedangkan Ibu Yuni hanya diam saja mendengar obrolan kedua cucunya.
"Kak, kalau papa ngajak liburan mau ngga?" tanya Chiko tiba-tiba.
Membuat semua yang ada di situ merasa tegang. Ibu Yuni menatap Anita, dan Anita pun menatap ibunya. Ini yang membuat Anita takut, dia takut dengan Rendi yang akan membawa kedua anaknya. Tapi dia percaya dengan anak-anaknya yang akan memilih tinggal dengannya.
ah, pikiran Anita sudah jauh kesana. Bayangan ketika dia menonton sinetron di televisi memaksa anaknya ikut dengan ayahnya dan anaknya mau ikut, dia sudah ketakutan sendiri.
__ADS_1
"Jangan!"
Baik ibu Yuni kaget begitu pun kedua anaknya menatapnya aneh.
"Kamu kenapa?"
"Iya, mama kenapa?"
"Ah, ngga apa-apa. Mama mungkin ngantuk aja,jadi kaget." ucap Anita, dia menarik nafas panjang.
"Ayo kita tidur, udah malam. Besok kita daftar ke sekolah." ajak Anita.
"Lho, katanya nanti bulan depan ma?"
"Bulan depan itu masuk sekolahnya, daftar sekolahnya boleh besok." kata Anita.
"Kenapa ngga sekalian nanti aja, Anita?"
"Ngga apa-apa bu, kalau sudah daftar biar siap-siap nantinya."
"Ya sudah terserah kamu. Ayo semua pada tidur, eyang putri juga udah mengantuk."
Lalu dua anak itu masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Anita masih diam di ruang tamu itu dengan lamunannya.
Dering ponsrl Anita berbunyi, tertera di sana nama Arga. Anita tersenyum senangn.
"Halo ga, ada apa?" tanya Anita.
"Besok kamu ada di rumah?"
"Aku selalu ada di rumah, kan jaga toko. Memang ada apa?"
" Celine seperti biasa dia pengen main ke rumahmu. Aku sedang sibuk banget di kantor, jadi bingung kalau mau nitip dia."
"Ya, di bawa aja ke sini. Seperti biasanya, sore kamu jemput."
"Kamu ngga kerepotan?"
"Ya ngga lah, Celine juga sudah aku anggap anak sendiri"
"Anita?"
"Ya."
"Kalau papanya Celine?"
"Aku jawab nanti Ga."
"Ya udah, sebelumnya terima kasih ya. Besok pagi aku antar ke rumahmu."
"Iya."
Lalu sambungan telepon terputus, Anita meletakkan lagi ponselnya di tempat semula. Dia kini menyandarkan kepalanya di kursi, memejamkan matanya hingga tak terasa dia tertidur.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤