
Anita masih bersembunyi di balik lemari di ruang keluarga, sedangkan ibu Yuni sudah pergi meninggalkan menantunya yang masih bersimpuh di tempat semula.
Dia ingin menghampiri suaminya, namun sepertinya Arga sedang menyesali apa yang pernah dia perbuat pada dirinya.
Maka dari itu, Anita membiarkan Arga sendiri di sana. Dia lalu kembali keluar rumah untuk meneruskan memyiram bunga.
Tadinya dia berpikir akan mengajak Arga untuk makan siang, tapi karena dia melihat Arga sedang bersimpuh di depan ibunya dia mengurungkannya.
Kelima anak-anaknya masih asyik bermain di luar, lalu Kevin mendekatinya dan meminta minum.
"Ma, Vin aus pen num." ucap Kevin dengan cedalnya.
"Iya sayang, mama ambilkan ya." kata Anita.
Kevin mengangguk, lalu melanjutkan kembali bermain dengan kakak-kakaknya. Anita masuk ke dalam rumah, dia melihat ke arah ruang keluarga. Arga sudah tidak ada di tempatnya, Anita mengira suaminya pasti masuk ke dalam kamarnya.
Anita mengambil minum untuk Kevin dan dia akan menghampiri suaminya di kamar nanti.
"Kevin, ini minumnya sayang." teriak Anita pada anak bungsunya.
Kevin berlari mendekat pada Anita dan mengambil gelas yang di sodorkannya. Anak kecil itu meneguk air yang ada di gelas sampai tandas.
"Waah, Kevin haus banget ya?" tanya Anita tersenyum.
"Heheh, iya ma." jawab Kevin, kemudian dia kembali bermain dengan Angga.
Anita masuk ke dalam rumah, dia menuju dapur meletakkan gelas yabg tadi dia bawa. Lalu dengan sedikit berlari dia naik tangga dan langsung menuju kamarnya.
Pintu kamar dia dorong pelan, di edarkannya pandangannya ke seluruh tempat. Terakhir ke tempat tidurnya dan dia melihat Arga sedang duduk menghadap cermin yang biasa Anita berdandan.
Anita mendekat, dia sentuh pundak suaminya dan menatapnya. Arga menoleh lalu tersenyum, menarik tangan istrinya yang di pundak untuk duduk sejajar dengannya.
Anita menurut, dia duduk menghadap Arga yang masih menunduk dan menghela nafas panjang. Dia mendongak dan menatap balik wajah istrinya.
Kali ini tatapan Arga lebih dalam, ada rasa penyesalan dan cinta yang dalam di mata Arga yang Anita tangkap. Keduanya masih diam, belum mau mengungkapkan apa yang ada di hati masing-masing.
Lama mereka saling diam, hingga Anita yang tidak tahan dengan suasana itu.
"Ga, ada apa?" tanya Anita seolah tidak tahu apa yang terjadi tadi di ruang keluarga.
Arga masih diam, lalu dia menarik tubuh Anita dan memeluknya erat. Anita membiarkan suaminya seperti itu, kembali keduanya terdiam.
Hingga Anita mendengar isak kecil dari mulut Arga. Anita mengeratkan pelukannya, dia tahu suaminya itu sedang sedih dan menyesal.
"Sayang maafkan aku, aku benar-benar menyesali tindakanku yang dulu. Tidak ada maksud apa pun, aku lupa dengan sikapku itu adalah menyakitimu dan ibu juga. Aku mneyesal sayang, aku benar-benar mencintaimu." ucap Arga dalam pelukannya Anita.
__ADS_1
"Iya, aku tahu Ga. Aku percaya sama kamu, kamu selalu mencintaiku dengan sepenuh hatimu, aku tahu." ucap Anita menenangkan suaminya.
Arga melepas pelukannya pada Anita, di tatapnya kembali wajah Anita penuh cinta.
"Aku tidak akan menyakitimu lagi, aku berjanji sama kamu sayang." ucap Arga.
"Iya, aku tahu. Aku percaya sama kamu." ucap Anita lagi.
Dia menangkup pipi suaminya itu dan membalas tatapan Arga kemudian dia tersenyum manis.
"Ga, kita hadapi ujian hidup ini bersama-sama. Kita harus tegar, kita harus bersemangat demi anak-anak. Hidup kita bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk anak-anak. Anak-anak butuh kedua orang tuanya bersemangat, tanpa kembali bersedih ke masa lalu yang sudah berlalu. Tinggal kita yakinkan hati untuk saling mendukung dan memberi semangat satu sama lain. Aku tahu kamu sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintaimu, Ga. Kita satu keluarga harus menghadapi masalah bersama." ucap Anita panjang lebar agar suaminya itu tidak merasa bersalah terus.
Bagi Anita, semua masa lalu biarkan hanya jadi kenangan. Yang dia hadapi itu masa depan bersama dengan anak-anak dan suaminya.
Dan kembali Arga memeluk istrinya dengan erat, dia tidak salah memilih wanita yang dia cintai. Wanita yang sangat tangguh dan sabar, wanita yang tidak pernah mendendam. Serta Anita wanita yang sangat penyayang. Arga merasa benar-benar beruntung mendapatkan Anita dan menikahinya.
Kini Arga melepas pelukan pada Anita, rasa lega di hatinya sudah mulai terasa. Beban yang tadi dia rasakan ketika bicara dengan mertuanya perlahan sirna karena kedamaian ucapan dan kalimat istrinya yang meyakinkan dirinya akan menatap masa depan dengan Anita.
"Terima kasih sayang, kamu memang luar biasa. Kamu hebat dan kamu segalanya buatku. Aku tidak mau berjanji terus menerus, namun aku berjanji akan merubah sikapku yang kekanak-kanakan juga terlalu mengekang apa pun sama kamu." ucap Arga.
Dia membelai pipi Anita dengan lembut, wajah teduh yang di miliki Anita baru dia temukan. Wanita yang kuat dan tangguh.
"Aku suka kamu yang manja, Ga. Sangat lucu bagiku, seperti Kevin. Hihihi..." ucap Anita dengan tawa kecilnya.
"Kamu mau aku lebih posesif lagi, hem?" tanya Arga dengan senyum smiriknya.
"Oh ya? Bagaimana kalau aku manja-manja sama kamu sekarang?" ucap Arga dengan mengkode kedua alisnya di naik turunkan.
Anita tahu maksud suaminya itu, tapi dia pura-pura tidak mengerti dan bangun dari duduknya hendak menghindar apa yang akan di lakukan suaminya.
Tapi tangan Anita di tarik Arga dengan kencang. Hingga Anita terduduk dan langsung di dorong pundaknya oleh Arga hingga dia terbaring di kasur.
"Kamu mau menghindar dariku sayang, hem?" ucap Arga dengan wajah yang mendekat pada wajah istrinya itu.
Senyum Anita tertahan, kepalanya berpaling ke kiri. Namun Arga menariknya agar posisi mereka saling berhadapan.
"Jangan menghindar dariku sayang, kamu yang suka aku manja sama kamu kan? Jadi aku ingin bermanja-manja di ranjang ini sambil menikmati suasana siang ini di kamar berdua. Aku ingin menyentuhmu sekarang dan di manjakan olehmu." ucap Arga.
Dia lalu menyerang Anita dengan ciuman di bibirnya dan saling mengulum. Anita pun pasrah, tangannya kini di kalungkan ke leher Arga. Lama mereka saling mengecap dan mengecup satu sama lain.
Hingga pintu kamar dari luar di gedor dengan keras dan teriakan panjang serta berisik saling berteriak memanggil Anita dan Arga.
"Mama, papa...!!"
"Mama, papa...!!"
__ADS_1
Teriakan demi teriakan kelima anaknya dan gedoran keras di daun pintu kamar Arga dan Anita semakin kencang. Arga berdecih dia kesal sekali dengan suara-suara itu.
"Ga, anakmu memanggil kita." ucap Anita sambil tersenyum tipis.
"Kenapa mereka mengganggu kesenangan papa mamanya sih?" ucap Arga kesal.
Anita mendorong dada Arga, lalu dia bangkit dan melangkah menuju pintu kamar untuk membukanya.
Pintu terbuka, kelima anaknya berhamburan masuk ke dalam kamar Anita. Arga masih duduk di atas ranjangnya, sedangkan Anita menatap suaminya dan tersenyum padanya penuh kemenangan.
"Terima kasih anak-anak, kalian telah menyelamatkan mama dari amukan harimau." kata Anita melirik pada suaminya.
Terang saja Arga melebarkan matanya, dia kesal dengan istrinya itu. Lalu dia turun dan mengejar Anita, Anita dengan cepat menghindar dari kejaran Arga.
"Anak-anak, tolong mama. Papa mau gigit mama, mama takut.." teriak Anita sambil berlari.
Langsung saja, kelima anaknya mengejar papanya dan menangkapnya agar tidak menangkap Anita dan menggigitnya.
"Papa jangan gigit mama, kasihan mamanya." ucap Angga dengan wajah memerah karena tidak rela mamanya akan di gigit papanya.
"Eh, siapa yang mau gigit mama? Papa mau peluk mama kok." ucap Arga bingun kenapa Angga jadi ketakutan.
"Mama jangan di gigit pa, sakit nanti mamanya." rengek Angga
Anita dan ke tiga kakaknya jadi heran dengan Angga yang menangis ketakutan. Arga meraih Angga dan menggendongnya untuk menenangkan anak laki-laki itu
"Ngga kok, papa ngga gigit mama. Mau peluk dan cium mama aja sayang, abang jangan nangis dong. Tuh di lihat sama adek Kevin, kok abangnya nangis." ucap Arga lagi.
Anita mendekat ikut menenangkan anaknya itu.
"Ayo kita turun makan siang di meja makan. Hari ini bibi masa kesuakaan kalian, yaitu ayam goreng upin ipin." ucap Anita.
"Yeee, asyik." teriak kelima anaknya.
Lalu Angga di turunkan oleh Arga, mereka semua keluar. Tapi Arga malah menarik pinggang istrinya dan berbisik pada Anita.
"Kali ini kamu selamat sayang, nanti malam jangan harap kamu bisa tidur nyenyak ya, jadi bersiaplah dari sekarang." bisik Arga dengan seringai kecil.
Dia lalu meninggalkan Anita yang masih melongo mendengar ancaman suaminya itu.
_
_
_
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤