IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
99. Konsultasi


__ADS_3

Arga mengikuti ke mana dokter melangkah, dia mendorong kursi roda di mana istrinya masih bersikap tenang setelah tadi di rumah membuat Arga begitu panik karena takut Anita melahirkan di jalan.


Mereka masuk setelah dokter mempersilakan masuk ke dalam ruangannya. Anita bangun dari kursi roda di bantu suaminya, dia duduk di kursi menghadap dokter.


"Ibu mau periksa?" tanya dokter.


"Iya dok." jawan Anita.


"Seharusnya harus mendaftar dulu ya,tapi karena tadi buru-buru ya sudah tidak masalah. Nanti suaminya mengurus pedaftaran, mungkin bapaknya panik ya." ucap dokter lagi.


"Iya dokter, saya panik. Soalnya sejak dari Jogja dia merasa sakit perutnya, dan sampai pulang juga masih sakit." jawan Arga.


Dokter tersenyum, lalu berdiri dan mengajak Anita untuk berbaring di bangsal. Dia akan di periksa keadaan bayi di dalam perut Anita.


Anita menurut, dia duduk di bangsal lalu berbaring secara pelan di bantu Arga.


"Pelan-pelan sayang." ucap Arga.


Anita kini sudah berbaring, mengambil alatnya dan memeriksa perut Anita. Di layar monitor terdapat gambar bayi yang sedang bergerak-gerak. Mungkin tidak nyaman, Arga sampai takjub melihat gambar bayi itu meski setiap di USG dia sudah melihatnya.


"Nah, pak. Ini bayinya bergerak aktif, mungkin dia tidak nyaman di dalam jadinya sering kram ya bu. Ibunya harus banyak istirahat ya setelah ini. Baru menginjak tujuh bulan, kan sayang kalau harus lahiran." ucap dokter.


"Tapi bukankah ada juga dok yang lahir prematur di bulan ke tujuh?" tanya Arga.


"Iya ada, itu kalau harus di tangani cepat dan bayinya harus di keluarkan sebelum di dalam perut kehabisan cairan ketuban. Jadi harus melahirkan prematur. Kalau kasus ibu itu hanya bayinya tidak nyaman di dalam karena ibunya kelelahan. Ini juga bisa memicu lahir prematur, jadi jika ingin lahir normal ya ibu sesudah ini harus istirahat total. Apa lagi habis perjalanan jauh ya." ucap dokter.


Arga diam, Anita memperhatikan apa yang di katakan dokter. Anita menoleh ke arah suaminya, dia maklum Arga diam. Mungkin dia sedang menyesalinya, tapi kemudian tangan Anita menggenggam tangan Arga yang masih diam terpaku.


Arga menoleh, dia melihat Anita tersenyum padanya. Arga pun menarik nafas panjang lalu menunduk. Dia menyesal mengajak Anita jalan-jalan terlalu lama, seharusnya tiga hari juga cukup.


"Ya sudah, nanti sepulang dari sini langsung istirahat ya bu." ucap dokter.


Lalu setelah memberikan resep pada Anita untuk menguatkan kandungan, dokter juga menyuruh mengisi administrasi di bagian pendaftaran, Arga di beri surat oleh dokter untuk mempercepat di urus di bagian administrasi.


_


Sepulang dari rumah sakit, Anita benar-benar ada di kamar terus, dia hanya mengatakan pada Arga apa yang dia mau. Arga yang akan mengurusnya dan mengambil kebutuhan Anita.


Saat ini, malam hari Arga belum mau memegang pekerjaannya yang sebenarnya menumpuk, tapi dia ingin mendekap istrinya. Tidur saling memeluk, memikirkan tadi siang yang di katakan dokter.


Anita heran dengan sikap Arga yang begitu aneh menurutnya, meski dia merasa nyaman di peluk Arga dari belakang tapi dia tidak tahan dengan diamnya Arga.


Kini Anita berbalik, dia ingin bertanya kenapa Arga diam saja.

__ADS_1


"Ga, kamu kenapa?" tanya Anita menatap Arga yang masih diam.


"Aku tidak apa-apa." ucap Arga masih dengan wajah sendunya.


Anita belum menyerah, dia harus mengetahui apa yang di pikirkan Arga.


"Apa kamu merasa menyesal dengan kejadian tadi siang?" tanya Anita.


Arga menggeleng, lalu mengangguk cepat. Kening Anita berkerut, yang mana yang benar?


"Kok jawabannya membingungkan?"


Arga menarik nafas panjang, menatap Anita dan mengecup bibirnya sekilas.


"Aku menyesal, jika saja terlambat mungkin kamu melahirkan prematur." ucap Arga.


"Kata dokter kan tidak apa-apa, yang penting aku banyak istirahat dulu beberapa hari. Pasti janinnya tenang kembali, lagi pula dokter sudah memberikan obat penguat kandungan, jadi tidak akan terjadi apa-apa pada anak kita di dalam perutku." ucap Anita panjang lebar.


Arga tersenyum, lalu mengangguk. Namun wajahnya masih seperti tadi. Anita kembali heran, lalu apa yang membuat Arga kembali murung?


"Ga, ada apa lagi?" tanya Anita kembali.


" Besok aku akan ke dokter lagi." ucap Arga.


"Untuk apa?" tanya Anita heran.


Anita bingung, padahal tadi siang sudah di jelaskan dengan gamblang. Dia mau konsultasi apa?


"Kamu mau konsultasi apa?" tanya Anita.


"Ada sayang, nanti aku katakan setelah konsultasi dari dokter." ucap Arga, dia kembali mengecup bibir Anita.


Anita diam, dia kemudian membalas ciuman Arga. Hanya mencium saja Arga, kemudian dia kembali memeluk Anita.


Malam semakin larut, keduanya kini tertidur dengan saling berpelukan.


_


Anita kini sudah bisa beraktivitas seperti biasa meski selalu di awasi oleh ibu dan mertuanya. Sudah tiga hari berturut-turut Anita total hanya di kamar.


Yang mengantarkan ketiga berangkat sekolah kini ibu Yuni atau ibu Ema secara bergantian. Arga menyewa asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah, dia menyewa dua orang sekaligus.


Jika memasak bisa di lakukan oleh ibu Yuni atau ibu Ema, karena keduanya tidak mau diam saja. Dan lagi pula mereka tidak mau makanan pembantunya yang memasak.

__ADS_1


Saat ini Anita sedang melanjutkan merajut mantel anaknya. Karena waktu di USG di ketahui janinnya berjenis kelamin laki-laki. Arga belum tahu jika anaknya nanti laki-laki.


Jadi dia kembali merajut mantel bayi ganti model, modelnya khusus anak laki-laki. Yang dulu dia rajut model bayi perempuan.


Arga mendekat setelah pulang dari kantor, dia mencium kening Anita dan mengecup bibirnya.


"Kamu bikin mantel bayi lagi?" tanya Arga memeluk istriya.


"Iya, yang ini beda dengan kemarin." ucap Anita.


"Kenapa beda?"


"Emm, aku mau yang beda aja." jawab Anita agar Arga tetap tidak tahu apa maksud dari mantel yang dia buat.


Dia ingin memberi kejutan pada suaminya itu tentang jenis kelaminnya.


"Apa pun itu, yang penting kamu suka sayang. Cup." ucap Arga.


Dia lalu beranjak dari duduknya untuk mandi dan ganti baju santai


"Tadi pagi jadi ngga ke dokter untuk konsultasi?" tanya Anita ketika Arga hendak melangkah.


Arga berhenti, dia menoleh dan tersenyum. Lalu duduk kembali, menatap istrinya dengan penuh misteri.


"Ada apa? Apa kata dokter?" tanya Anita lagi dengan rasa penasaran tinggi.


"Emm, apa ya?" ucap Arga masih penuh teka teki bagi Anita.


Arga menopang tangannya di dagu, dan matanya menatap ke atas. Senyumnya masih mengembang, membuat Anita semakin penasaran.


"Apa sih, Ga? Jangan bikin aku penasaran. Kamu konsultasi apa sama dokter?" tanya Anita, dia memegang tangan suaminya itu.


"Aku konsultasi ke dokter, ternyata kata dokter aku boleh kok bercinta denganmu di hamil besar seperti sekarang ini. Aku sempat ragu dan takut kalau aku tidak bisa menyentuhmu dalam keadaan hamil besar sampai melahirkan. Ternyata kata dokter, aku justru malah harus sering-sering memancing untuk cepat kontraksi. Jadi, jangan khawatir sayang. Aku akan membantumu untuk mempercepat membuka jalan untuk bayi kita keluar dengan mudah." ucap Arga dengan wajah sumringahnya.


Jadi, sejak lima hari yang lalu wajah murung Arga hanya karena masalah itu?


Anita mengerutkan keningnya, lalu menghempaskan tubuhnya yang tadi duduk tegaknya. Dia pikir masalah apa, ternyata ya. Laki-laki selalu hanya itu yang di pikirkan.


Arga tertawa senang, dia bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Anita yang masih terpaku akan ucapannya tadi.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2