
Setelah pulang dari butik Sandra, Mourin kembali ke rumahnya. Dia memikirkan bagaimana mendapatkan surat rumah itu.
Dalam pikirqn Mourin, dia mendapatkan sueat itu dan di jual, setelah mendapatkan uangnya dia akan kabur ke Rusia agar tidak bisa di temui oleh pihak berwajib.
Mourin yang anggun tinggi semampai dan sosialita kini berubah drastis karena sebuah cinta pada orang yang salah. Dia mempertahankan hubungan gelap dan menikah hanya bertahan tiga tahun saja.
Evan yang dulu sangat di cintainya ternyata sama-sama brengsek dengan dirinya dulu ketika masih dengan Rendi.
Kini Mourin harus berjuang mendapatkan uang dengan cepat, tidak peduli resiko yang akan dia terima.
Sejak kecil dia selalu di manja dan selalu ada apa pun yang dia inginkan. Dan sekarang dewasa pun masih ingin seperti itu, namun keadaannya berbeda. Jadia dia merugikan orang lain.
Mourin menghubungi seseorang, dia ternyata mendapatkan ide agar surat itu berpindah ke tangannya
"Halo, gue minta lo carikan dua orang atau tiga orang preman." kata Mourin di telepon.
"......"
"Tenang aja, gue bayar mereka sesuai tarif."
"....."
"Ck, gue ngga mau itu."
"....."
"Oke, ketemu di mana?"
"Di warung kopi biasa gue mangkal."
"Baik, gue nanti ke sana malam ini."
"Gue tunggu."
Klik
Sambungan telepon terputus. Kini Mourin bersiap untuk mandi dan menemui orang yang tadi meminta bertemu.
_
Mourin menemui orang di teleponnya tadi sore Dia ingin merencanakan sesutu dan melibatkan beberapa preman untuk menjalankan rencananya.
Beberapa hari dia telah mengintai rumah Anita di waktu yang berbeda. Dia seperti penguntit keluarga Anita.
Anita dan Arga tidak menyadari jika rumahnya selalu di awasi oleh Mourin beberapa hari.
Mourin keluar dari mobilnya dan menghampiri seorang laki-laki yang nongkrong di warung kopi sambil menyeruput kopi hitamnya.
Dia duduk di sebelah laki-laki itu, dan membicarakan rencnanya dengan suara pelan agar tidak terdengar pengunjung warung kopi tersebut.
Satu jam Mourin merencanakan sesuatu, hingga laki-laki sebelahnya menelepon seseorang.
"Halo bos, ada apa?:" tanya seseorang di seberang sana.
"Ada kerjaan buat lo sama teman lo, lo bisa datang ke warung kopi ngga?"
Harga cocok ngga bos?"
"Cocok, lo kesini sekarang. Orangnya sama gue."
__ADS_1
"Oke, gue jalan."
Klik.
Mourin tersenyum puas, dalam pikirannya akan terjadi drama mengharukan dan sangat menyenangkan. Dia tertawa dalam hati karena merasa rencananya akan berhasil dengan mudah.
Tak berapa lama seseorang yang di telepon pun datang dengan temannya. Mereka menyalami Mourin dan laki-laki yang di panggil bos.
"Apa yang harus gue lakukan bos?" tanyanya.
"Dengarkan dia saja, biar dia yang menjelaskannya." kata yang di panggil bos.
Kemudian Mourin menjelaskan rencananya pada targetnya, dia sangat bersemangat sekali. Dia juga meminta waktu eksekusi secepatnya karena Mourin sudah tidak banyak waktu.
Kemarin dia mendapatkan surat panggilan dari polisi, namun dia abaikan. Mungkin satu minggu lagi juga dapat surat panggilan lagi, di saat itu dia harus bergerak cepat dan mendapatkan uang hasil penjualan rumah itu dan esok harinya akan memesan tiket.
"Oke, saya siap untuk besok siang. Jadi anda tahu semua jadwal kegiatan orang-orang di rumah itu?" tanya laki-laki yang akan siap beraksi.
"Ya, saya tahu dan sudah hafal. Makannya saya akan ada di sekitar rumah itu dan tunggu aba-aba dari saya." kata Mourin.
"Oke, tapi apakah bisa di bayar di muka" tanya laki-laki itu.
"Nanti malam saya transfer uangnya separuh dulu, berikan nomor rekeningmu?" menyodorkan ponselnya pada laki-laki tersebut.
Laki-laki itu menuliskan nomor rekening di ponsel Mourin.
"Setelah pekerjaan kalian selesai dan berhasil, saya akan tambahkan bonus." ucap Mourin dengan sangat yakin dia pasti berhasil.
Setelah pembicaraan itu sudah menemui kesepakatan, Mourin berpamitan pada ketiga orang itu. Dia masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan kencang pulang ke rumahnya.
_
Besoknya sesuai perjanjian, Mourin mengintai lagi rumah Anita. Dia juga membawa tiga orang yang kemarin merencanakan sesuatu.
"Lho masuk ke dalam rumahnya, biasanya kosong rumahnya. Dua mobil sudah pergi, mereka sudah suaminya sudah berangkat kerja dan mobil warna hitam itu istrinya, sudah pasti rumah itu kosong." ucap Mourin.
"Pasti ada pembantunya, dia sendirian di rumah. Kalian bisa kan menangani satu pembantu? Setahuku di rumah besar itu hanya ada satu pembantu dan tidak ada satpam penjaga. Aneh sekali pengacara itu, rumah sebesar itu tidak adan satpamnya dan lagi pembantu cuma satu orang. Ck ck ck, itu akan memudahkan orang untuk masuk mengambil barang-barang berharga di dalam rumah." ucap temannya.
"Ya, makanya pengacara itu pintar di mulut tapi otaknya ngga di pakai. Sudah tahu rumah besar harus ada pengawasan ketat, tapi aku tidak pernah melihat satu pum satpam atau pembantu lainnya." ucap Mourin.
"Terus, kita masuk ke dalam rumah itu?"
"Tentu saja goblok! Ini mumpung tidak ada orang. Lihatlah, terlihat sepi. Jika kalian menemukan barang berharga lainnya, ambil saja. Lumayan kan dapat untung."
"Siap bos."
Lalu kedua orang tersebut turun dari mobil Mourin, mereka berdua melongok dalam rumah dari pagar besi yang tinggi.
Dan suasana jalan juga sedang sepi, kini kedua orang itu mencoba mendorong pintu pagar besi itu. Karena tadi dia melihat mobil Arga dan Anita pintu hanya tertutup otomatis saja.
Namun mereka mencoba mendorongnya, ternyata susah. Mereka terus mencoba mendorong beberapa kali, tetap saja pintu itu tidak juga terbuka.
"Hei, apakah pintu gerbang ini terkunci otomatis?" tanya laki-laki itu pada temannya.
Mereka ternyata siap merampok rumah Anita, namun sialnya tidak bisa di buka pintu pagarnya karena tertutup dan terkunci otomatis.
Kedua laki-laki itu kembali ke dalam mobil Mourin, mereka melaporkan bahwa pintu itu terkunci otomatis.
"Bos, lalu kita bagaimana?"
__ADS_1
"Nona, bagaimana ini? Apakah misi kita di batalkan?"
"Emm, kalian cari celah di mana ada jalan masuk ke dalam rumah itu. Masa segitu saja kalian menyerah."
Ketiga laki-laki itu tampak berpikir agar bisa masuk ke dalam rumah besar tersebut. Dari mana masuknya, mereka tidak menguasai keadaan rumah karena baru kali ini mereka mengetahui rumah yang akan mereka satroni.
"Apa ada rencana kedua?" tanya ketiga preman itu pada Mourin.
"Ada, tapi juga harus ke suatu tempat."
"Gue tahu pasti mau menculik anak dari yang punya rumah ini kan?"
"Sok tahu kamu!"
"Benar, kalian pintar sekali. Kita harus ke sekolah anaknya, dan menculik salah satu putranya. Saya yakin mereka akan memberikan tebusan yang kita minta."
"Emm, apa lo tahu anaknya sekolah di mana?"
"Tidak."
"Kalau membuat rencana itu yang matang. Jangan setengah-setengah begini, ketahuan sekali lo itu preman amatiran!" ucap Mourin ketus.
Dia kesal kenapa rencananya jadi gagal haru ini.
"Kita culik anaknya besok, lalu minta tebusan pada ayahnya. Ayahnya itu kaya raya, jadi nanti dia akan memberikan apa yang kita mau. Setuju?"
"Setuju!"
"Lalu, sekarang rencananya gagal?"
"Jika rencana hanya setengh beginin, sudah pasti gagal. Besok pasti kita berhasil, tenang saja nona."
"Ck, saya pengen mendapatkan surat rumah itu secepatnya."
"Hei! anda harus sabar. Kesabaran akan membiahkan hasil, nona."
Mourin diam, dia mendengus kesal. Dia sudah membayangkan akan mendapatkan uang secepatnya, tapi ketiga preman bodoh itu malah tidak tahu apa-apa.
"Percuma saya membayar kalian dengan harga tinggi, tapi kerja kalian lambat." gumam Mourin.
Dia akhirnya mengalah harus bersabar menunggu besok. Memang ada baiknya besok saja di jalankan, karena nanti juga akan lebih matang rencananya.
Jika dia harus membatalkan menyuruh ketiga preman itu, maka dia yang rugi. Karena tadi malam dia sudah mentransfer sejumlah uang.
Dan kalaupun harus mencari perampok pfofesional dan ahli akan banyak mengeluarkan uang lagi, kemarin saja menyewa pengacara gagal mengambil surat itu.
Dia sudah mengeluarkan uang untuk pengacara itu, namun hasilnya gagal lagi. Dan kali ini dia tidak mau gagal, dia harus sabar sesuai arahan dari mereka.
"Baiklah, semoga saja besok tidak gagal lagi."
Mobil Mourin melaju menuju warung kopi yang kemarin dia bertemu ketiga preman sewaan itu untuk menurunkan mereka bertiga.
Dan kini dia akan kembali ke rumahnya, tidur dengan nyenyak meski selalu terdengar suara rintihan anaknya yang kesakitan
Mourin sudah tidak peduli apa pun, di pikirannya hanya satu. Mengambil surat rumah itu dab kabir ke Rusia.
_
_
__ADS_1
_
❤❤❤❤❤❤❤❤