
Hari ini jum'at, Anita tidak ke pabrik. Sesuai dengan aturannya, dia tidak datang ke pabrik di hari Jum'at dan Sabtu.
Minggu tentu saja hari keluarga, entah jalan-jalan atau pun hanya di rumah saja bermain sepuasnya dengan anak-anak.
Saat Anita sedang bermain dengan Kevin dan Angga di ruang keluarga siang hari, pintu depan ada yang mengetuknya.
Anita menoleh ke arah pintunya, pembantu Anita segera membuka pintu. Terlihat perempuan dengan penampilan kali ini biasa saja, namun tetap menawan berbicara dengan pembantu Anita.
Tak lama, bibiemghampiri Anita dan mengatakan ada tamu.
"Di luar ada tamu nyonya." kata bibi.
"Oh ya, kenapa ngga di suruh masuk?" tanya Anita.
"Tamunya ngga mau nyonya, mau bicara dengan nyonya di luar katanya." jawabnya.
"Siapa sih bi?" tanya Anita penasaran.
"Perempuan yang kemarin nyari nyonya itu." katanya lagi.
"Oh, Mourin datang juga?" tanya Anita.
"Iya nyonya."
"Ya sudah, bibi siapkan minuman dan cemilan ya. Bawa ke depan."
"Iya nyonya."
Pembantu Anita pergi dari hadapannya, dua pergi menuju dapur untuk menyiapkan minuman untuk tamu majikannya.
"Abang, adek, mama ada tamu di luar ya. Kalian main sendiri aja, mama sebentar kok ada tamunya." kata Anita pada kedua anaknya.
"Iya ma." jawab Kevin dan Angga.
"Jangan rebutan ya."
"Iya ma."
"Jangan saling menjahili."
"Iya ma."
"Ya sudah, mama keluar dulu."
Anita lalu keluar rumah setelah memberi banyak pesan pada dua orang anaknya yang sedang bermain dengan tenang, dia penasaran apa yang di inginkan Mourin.
Setelah keluar, dia melihat Mourin membawa tas besar. Sedang berdiri membelakangi Anita.
"Kamu memcariku?" tanya Anita.
Mourin menoleh ke belakang, dia menatap Anita datar. Namun sikapnya tidak seangkuh waktu di rumah sakit dulu.
"Silakan duduk, Mourin." kata Anita.
Tanpa berkata apa pun Mourin duduk berhadapan dengan Anita, sejenak dia menatap Anita lalu membuang muka ke arah samping.
"Ada apa kamu datang ke rumahku?" tanya Anita.
Mourin masih diam, dia lalu mengambil tasnya dan mengambil isinya dari dalam tas. Anita memperhatikan apa yang di lakukan Mourin.
Mourin meletakkan sebuah map berwarna biru tua, dia menatap Anita datar saja. Tidak ada senyum juga rasa tertarik dengan Anita.
Meski Anita sekarang berbeda dari yang dulu dia lihat sewaktu masih jadi istri Rendi.
"Apa yang kamu bawa, apa kamu meminta sumbangan?" tanya Anita tidak mengerti Mourin meletakkan map biru tua di meja.
Muorin mencibir, lalu tersenyum sinis. Wajahnya kembali dia buang ke kiri. Lalu menatap lagi ke arah Anita dengan wajah kesal, namun dia tahan.
Memangnya wajahnya seperti orang minta sumbangan? pikir Mourin dengan kesal.
"Lihat ini dan baca baik-baik isinya. Kamu akan tahu apa maksud kedatanganku kesini menemuimu." ucap Mourin.
__ADS_1
Dengan ragu Anita mengambil map biru tua itu. Lalu membuka isinya dan membacanya secara lemgkap dan seksama. Ada rasa aneh namun dia tetap membacanya sampai habis.
"Maksud kamu itu tentang rumah di kota itu?" tanya Anita.
"Ya, itu di bagian bawah adalah surat tanah dan gedung tersebut." jawab Mourin.
"Rumah itu milik mas Rendi kan? Lalu kenapa kamu mengungkit rumah itu? Itu warisan mas Rendi untuk si kembar. Apa masalahnya denganmu?" tanya Anita heran.
"Rumah itu sebagian aku yang membelinya, dulu juga Rendi memberikan rumah itu untukku. Lalu kenapa rumah itu sudah atas nama anakmu?" tanya Mourin.
"Aku tidak tahu, mas Rendi sendiri yang memberikannya padaku. Dan surat-suratnya juga sudah di urus atas nama anakku. Jadi tidak bisa kamu mengklaim rumah itu adalah milikmu juga." kata Anita.
"Tapi aku juga ikut membayar dengan uangku, jadi rumah itu juga aku punya hak!" kata Mourin meninggi nada bicaranya.
Anita tidak mau diam, mungkin hormon marahnya sedang naik jadi dia berbalik marah pada Mourin.
"Berapa uang yang kamu ikut membayarnya? Aku akan ganti!" kata Anita ikut meninggi juga suaranya.
"Heh! Aku tidak butuh uangmu, aku mau rumahku!" jawab Mourin ketus.
Dia benar-benar habis kesabarannya pada Anita.
"Silakan saja kamu datang ke notaris yang mengurus akta tanah dan bangunan, di sana sudah atas nama anakku. Itu berarti rumah itu milik anakku, itu pemberian dari papanya anak-anak. Jadi kamu tidak bisa mengaku sebagai rumahmu!" ucap Anita lebih tegas lagi.
Dia tidak mau di injak lagi, sejak dulu memang Mourin selalu menginjak-injak dan meremehkannya. Tapi kali ini dia ingin melawan, sejauh mana Mourin ingin merebut rumah milik anaknya.
Dulu dia merampas hak kebahagiaan anak-anak, Rendi lupa dengan anaknya. Sampai dia pergi menjauh dari kota itu pun tetap saja Rendi lupa anaknya gara-gara perempuan di depannya.
Jadi wajar saja rumah itu sebagai ganti kompensasi papanya anak-anak atas hilangnya kedekatannya pada Rendi papanya.
Dia yakin jika Rendi memberikan rumah itu sudah beres semuanya, tidak mungkin memberikan wasiat rumah yang masih jadi rebutan.
"Kamu jangan ngaco Anita, terlalu sombong sekarang ya kamu. Berani melawanku, lihat saja nanti. Akan aku urus rumah itu menjadi milikku." ucap Mourin mengancam.
Dia mengambil map warna biru tua lalu bangkit dari duduknya, menatap tajam pada Anita dan berlalu dengan keadaan marah.
Anita sendiri masih duduk di kursinya, dia berusaha bersikap tenang dengan ucapan Mourin.
"Anita, saya tidak akan menyerah sama kamu. Aku akan mencari pengacara handal agar rumah itu menjadi milikku!" kata Mourin mengancam.
Anita masih tenang, dan tersenyum sinis.
"Silakan saja, aku juga akan mempertahankan rumah itu adalah milik anakku. Bukti surat juga sudah sah, jadi untuk apa kamu berusaha mengambil alih hak anakku." ucap Anita dengan lantang.
"Heh! Jangan sombong kamu, aku juga punya bukti kuat kalau rumah itu adalah milikku juga!" ucap Mourin sama lantangnya.
Kemudian dia pergi lagi dengan langkah cepat, Anita masih tetap memandang Mourin sampai dia sudah tidak terlihat.
Dia lalu masuk ke dalam rumahnya, berpikir sejenak dan menghampiri anak-anaknya bermain lagi.
Meskipun dia bermain dengan anaknya, tapi pikirannya masih tertuju dengan kedatangan Mourin tadi, dia tidak percaya akan hal rumah itu.
Apakah Rendi memberikan surat rumah itu palsu?
Dia buru-buru bangun dari duduknya dan segera naik ke lantai dua, masuk ke dalam kamarnya dan mencari surat rumah itu.
Seingat dia dulu Arga yang mengurusnya, dia mencari di lemarinya. Beberapa lembar surat rumah, dia lihat mana yang di perebutkan Mourin.
Karena ada tiga surat rumah di tangan Anita, dan memang satu surat rumah miliknya ketika dia tinggal di sana dengan suaminya.
Dan map berwarna biru itu dia buka, terlihat surat rumah yang terletak di tengah kota. Mungkin itu yang di perebutkan Mourin.
Anita membaca satu persatu kalimatnya, ada tanda tangan Rendi pula. Jadi mana bisa Mourin mengambil alih rumah itu.
Dia duduk di ranjangnya, masih menatap surat rumah itu. Dan kembali pikirannya menerawang tentang rumah itu.
"Apakah rumah itu dulu yang di tempatinya ketika menikah dengan Mourin?" gumam Anita.
"Tapi kenapa mas Rendi bercerai dengan Mourin wqktu itu? Bukankah dia sangat mencintainya?"
Semakin di pikirkan semakin lelah Anita, dia pun berbaring dan akhirnya tertidur di ranjangnya.
__ADS_1
_
Anita bangun menjelang malam, dia tidak terasa sudah tertidur tiga jam. Rasa lelah tenaga dan pikirannya membuat dia tidur dengan nyenyak.
Sampai ada sentuhan di pipinya dengan lembut, Anita membuka matanya perlahan. Di tatapnya seseorang yang tersenyum manis padanya.
Anita mencium tangan yang memegang pipinya itu, lalu dia bangun.
"Jam berapa sekarang? Kok kamu sudah pulang?" tanya Anita menggulung rambutnya yang tergerai dan berantakan.
"Sudah jam setengah enam, aku pulang cepat hari ini. Eh, kamu malah tidur. Enak banget rupanya tidurnya, jadi aku ngga bangunin kamu tadi. Kasihn, sepertinya lelah banget ya." kata Arga.
Anita tersenyum, dia lalu mencari surat rumah yang dia pegang tadi sampai ketiduran. Arga melihat apa yang di cari istrinya.
"Kamu memcari surat rumah itu?" tanya Arga menunjukkan map biru di meja.
"Oh, ada di sana. Kamu yang memindahkan?" tabya Anita tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
Arga menghela nafas panjang, dia mengecup sekilas bibir Anita. Lalu mengangguk, dia mengambil map biru itu dan menyerahkannya pada Anita.
"Kenapa kamu tidur sambil memegang map itu? Apakah ada sesuatu yang mengingatkanmu akan pemberi rumah itu?" tanya Arga.
Ada rasa cemburu di hatinya, kenapa Anita memeluknya. Apakah istrinya itu ingat almarhum mantan suaminya?
"Tadi siang Mourin datang padaku, dia mengatakan tentang rumah itu." ucap Anita sambil memandangi map biru itu.
"Dia bilang apa?"
"Bahwa rumah itu juga miliknya, dia akan merebut rumah itu, Ga." kata Anita lirih.
Arga diam, dia kemudian mengambil map biru itu dan membukanya. Membacanya dengan teliti apakah ada yang salah dengan surat tersebut. Tapi tidak ada yang salah, semuanya benar dan asli.
"Ini surat rumah aslinya sayang, kamu jangan khawatir. Kamu tetap menang meski di gugat sekali pun." kata Arga menenangkan istrinya.
"Aku pikir juga begitu, tapi dia malah memaksa akan mengambil alih surat rumah itu."
"Dia tidak kuat sayang, mana bisa mengambil alih surat rumah itu. Kecuali kamu memberikannya secara suka rela padanya."
"Enak aja, itu hak milik Chiko. Aku akan mempertahankan milik anakku, apa kamu akan membantuku Ga?" tanya Anita menatap sendu pada suaminya.
Arga tersenyum, lalu tangannya membelau pipi istrinya.
"Tentu saja sayang, aku akan membantumu. Dan jangan khawatirkan dia, berikan saja uang untuk mengganti atas keikut sertaannya membayar rumah yang di beli dulu." kata Arga.
"Aku sudah menawarkannya, tapi dia menolaknya mentah-mentah. Jadi aku takut aja dia akan berusaha sekuat tenaga mengambil rumah itu." kata Anita.
"Jangan khawatir, selama surat rumah ini ada di tanganmu dia tidak akan berani dan tidak kuat untuk mengambil rumah itu." kata Arga lagi.
Hati Anita sedikit tenang, dia menatap suaminya lekat. Mencari kepastian bahwa memang dia lebih kuat dari surat yang di miliki Mourin.
Arga mengangguk, lebih meyakinkan istrinya. Dia tahu istrinya itu ragu dan khawatir. Karena dia tahu persis surat itu asli, dan dia sendiri yang mengurusnya.
"Kamu belum mandi kan?" tanya Arga.
Anita menggeleng, lalu tersenyum.
"Ya sudah sana mandi dulu, dari tadi anak-anak mencarimu. Aku bilang mama sedang istirahat di kamar, jangan ganggu." kata Arga.
"Kamu baik banget sih, suamiku. Cup."
"Hemm, tapi aku senang. Berarti nanti malam kamu tidak akan mengantuk jika aku minta beberapa kali." senyum jahil Arga mengembang.
Anita bangkit dari ranjangnya, dia malas meladeni suaminya tentang itu. Toh tetap saja jika malam hari tidak pernah absen akan hal begituan. Ada saja rayuannya, jadi buat apa menanggapinya.
_
_
_
❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1