
Sudah sembilan bulan Mourin di penjara, dia semakin lebih baik. Meski hukumannya masih lama, tapi dia ingin jadi manusia lebih baik.
Seperti ucapannya dulu, Sandra memang menjenguk Mourin di lapas setiap tiga hari sekali. Kadang dia membawa Elana, agar Mourin bersemangat menjalani hidup di lapas dan tidak banyak mengeluh.
"Rin, lusa aku harus bawa Elana ke Singapura lagi untuk operasi ketiga jantungnya. Mudah-mudahan ini yang terakhir operasinya. Karena kata dokter di sana, jika operasi kali ini berhasil maka seterusnya tidak akan di operasi lagi. Kecuali Elana mengalami pacuan jantung lebih cepat." kata Sandra siang ini ketika menjenguk Mourin di lapas.
"Iya, gue doakan Elana baik-baik aja. Sekali lagi gue ucapin terima kasih sama lo, karena lo mau merawat anak gue." kata Mourin.
"Iya, ngga apa-apa. Gue pulang dulu ya."
"Berapa hari di Singapura?" tanya Mourin.
"Mungkin seminggu, gue akan kirim foto-foto Elana di Singapura nanti." kata Sandra lagi.
"Iya, salam sayang buat Elana."
"Iya, nanti gue sampaikan kalau mamanya kirim salam buat Elana."
Mourin tersenyum, dia kemudian masuk lagi ke dalam sel di kawal oleh penjaga lapas. Sandra menatap kepergian sahabatnya itu, lalu dia bangkit dari duduknya dan keluar dari lapas tersebut.
Sejak bertemu Mourin tadi, entah kenapa rasa pusing di kepala sangat mengganggu sekali. Apa karena penyakit maag yang dulu pernah dia rasakan kini kambuh lagi?
Dengan cepat, Sandra segera meninggalkan lapas dan langsung pulang ke rumah. Dia tidak pergi ke butik, tapi pulang.
"Halo, Man. Saya ngga ke butik, bilang nanti sama pelanggan saya ngga datang ke butik ya." kata Sandra pada pegawai butiknya.
"Iya bu, ibu sedang sakit kah tidak ke butik?" tanya Manda.
"Iya nih, ngga tahu kepalaku tiba-tiba pusing." jawab Sandra.
"Ya sudah, ibu istirahat saja. Biar butik saya yang urus hari ini."
"Terima kasih ya, Manda."
"Iya bu, itu sudah tugas saya."
Sambungan telepon terputus, Sandra langsung melajukan mobilnya ke rumahnya. Kepalanya benar-benar pusing sekali. Dan perut juga sangat perih.
Biasanya jika seperti itu, Sandra belum makan atau sarapannya hanya sedikit dan sampai siang ini belum makan. Maka penyakit maagnya akan kambuh.
Sampai di rumah, Sandra langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengambil obat maagnya yang ada di laci meja.
Dia meneguk obatnya dengan air hangat di didpenser bermode hot di campur dingin.
Baru setelah selesai minum obat, rencananya dia mau istirahat sebentar dan makan siang.
Sandra baringkan tubuhnya setelah melepas baju yang tadi dia kenakan dan di ganti dengan kaos oblong dan celana pendek.
Lalu naik di atas ranjangnya untuk tidur siang.
__ADS_1
_
Sandra dan suaminya sudah berada di rumah sakit Singapura yang terkenal, dia dan Elana sudah menyewa apartemen kecil untuk satu minggu.
Biaya operasi Elana memang uang dari kompensasi yang di berikan Arga. Sedangkan biaya sewa apartemen, Sandra bayar sendiri.
Dia juga kali ini membawa suamingya. Bukan hanya suster Elana yang dulu jadi pembantu di rumah Mourin.
"Suster nanti kalau aku pergi, jaga Elana ya." kta Sandra.
"Iya bu. Emm, bu Sandra tuh baik sekali. Mau mengurus anaknya sahabat ibu, apa lagi sedangn sakit dan harus di operasi ke Singapura lagi. Itu kan tidak sedikit biayanya bu." kata suster.
"Ngga apa-apa sus, kasihan Elana. Mamanya sedang di penjara, dia sahabat saya sus. Mengenai biaya sudah ada jatahnya Elana dari mamanya. Kenapa memangnya suster?" kata Sandra.
"Ngga apa-apa bu, dulu ibu Mourin menelantarkan no Elana dari papanya non Elana pergi. Sejak itu ibu Mourin sering marah-marah sama non Elana dan tidak perhatian lagi. Saya jadi kasihan sama non Elana, kalau dulu saya tinggalkan kasihan banget bu. Padahal waktu itu gaji saya di bayarnya kadang suka telat kadang ngga di bayar. Saya mau tinggalin non Elana, nanti siapa yang ngurus. Jadi saya merawat non Elana atas rasa kasihan, kalau kerja sudah dari dulu saya ingin berhenti." kata suster mencurahkan unek-uneknya dulu.
Sandra tersenyum, dia memandang suster Elana.
"Seperti suster tadi, menolong atas rasa kemanusiaan. Anak sekecil Elana di terlantarkan di saat sakit oleh kedua orang tuanya. Elana itu anaknya cantik dan manis, karena sakit-sakitan aja jadi cantiknya tidak terlihat. Tapi kenapa kedua orang tuanya tidak peduli, terutama papanya. Kalau Mourin hanya sakit hati dari mantan suaminya, Evan. Sebenarnya dia peduli dengan Elana." kata Sandra lagi.
Dia menghela nafas panjang mengingat dulu Mourin sangat senang mempunyai anak dari Evan. Mungkin juga itu karma bagi Mourin telah meninggalkan dan menghianati Rendi dulu.
Rendi tidak bersalah saat itu, entah karena memang Mourin orang yang terlalu bebas dan dia selalu mencintai Evan. Pada akhirnya cinta tidak bisa di pertahankan. Ternyata Evan berpaling dari Mourin.
Kembali Sandra menghela nafas panjang, dia sangat beruntung. Putus dari Martin, malah mendapatkan laki-laki baik yaitu Jhosua.
Martin dan Evan tidak jauh berbeda, hanya saja Evan menikah dengan Mourin. Dia dan Martin tidak menikah, tapi sering melakukan hungungan suami istri.
Sandra sering meminta Martin menikahinya, tapi Martin selalu memberi alasan yang tidak pasti dan tidak jelas. Pada akhirnya, Martin memutuskan Sandra dan pergi meninggalkan Sandra.
Sedangkan kisah Mourin dan Evan berakhir setelah tiga bulan Sandra putus dengan Martin.
Sandra menatap suster dan tersenyum ceria, dia melamun mengenang masa lalunya dan Mourin.
"Iya bu, saya pikir juga begitu." kata suster.
"Ya sudah, sekarang Elana sedang tidur. Besok mulai ke rumah sakit dan jadwal operasinya itu sore. Sekarang saya mau belanja ke mini market dulu untuk kebutuhan kita di sini seperlunya. Suster mau saya belikan apa?" tanya Sandra.
"Terserah ibu saja, saya apa saja yang ibu kasih." jawab suster.
"Oke, saya pergi dulu dengan suami saya. Kalau Elana menangis karena sakit suster bisa hubungi saya. Secepatnya saya akan pulang." pesan Sandra.
"Baik bu."
Setelah berpamitan pada suster, Sandra masuk ke dalam kamar untuk memgambil tasnya.
Di bawah suaminya Jhosua sudah menunggu sejak tadi untuk jalan-jalan di mall yang sangat terkenal di Singapura.
Kali ini dia ingin jalan-jalan dulu ke mall besar dan terkenal itu. Yang biasa sebagai wisata para artis dan orang berduit jika pergi ke Singapura.
__ADS_1
"Kok lama ma turunnya?" tanya suaminya.
"Iya, aku tadi pesan dulu sama susternya. Elana sedang tidur jadi, takutnya jika dia bangun aku ngga ada dan nangis aku suruh hubungi aku susternya." jawab Sandra masuk ke dalam mobil.
"Ya sudah ayo kita berangkat. Mumpung masih siang, aku juga lapar pengen makan di luar sama kamu." kata Jhosua.
"Emm, so sweet banget sih pa." kata Sandra terharu dengan ucapan suaminya.
"Lho, sejak dulu aku itu manis. Kamu yang ngga menyadarinya, sibuk dengan butikmu." jawab Jhosua.
"Oh, sekarang lagi protes nih kalau aku sibuk di butik. Jadi kamu kurang perhatian aku pa?"
"Iyalah, sekarang di tambah ada Elana. Jadi tambah berkurang kan waktuku sama kamu, terutama jika keluar jalan-jalan." kata Jhosua.
Sandra menghela nafas panjang, dia melirik suaminya. Dulu siapa yang ingin mengajak Elana untuk tinggal di rumahnya dan di rawat Tapi sekarang, kenapa jadi protes?
"Kamu sekarang keberatan Elana tinggal sama kita pa?" tanya Sandra memastikan ucapan suaminya tadi.
"Ngga, siapa bilang? Aku cuma kekurangan perhatian sama kamu aja. Dulu kan sering banget kita jalan-jalan keluar berdua, tapi sekarang jadi berkurang. Aku suka kangen keluar berdua sama kamu." kata Jhosua.
Sepertinya ada yang tidak beres nih, kenapa suaminya jadi merajuk begitu?
Tapi sudahlah, nanti aku mau periksa di rumah sakit sekalian besok.
"Besok aku ikut periksa ke dokter ya pa, payudaraku kok rasanya sering sakit." kata Sandra mengalihkan pembicaraan.
"Eh, kamu sakit?"
"Ngga sakit banget, tapi rasanya tuh keras. Takutnya aku kena tumor payudara. Makanya besok sekalian periksa ke dokter." jawab Sandra.
"Oh, iya sudah. Memang ada baiknya periksa ke dokter, takutnya kamu kena kanker payudara."
"Iya, aku jadi takut pa." kata Sandra.
"Jangan takut, papa akan selalu menemani mama kok. Tenang aja ya " kata Jhosua.
"Terima kasih pa, cup. I love you.."
"Love you to."
"Yuk kita berangkat."
"Oke."
Mobil Jhosua melaju pelan menuju tempat perbelanjaan di tengah kota. Mereka saat ini ingin bersenang-senang sebelum besok operasi Elana.
Bukannya hanya ingin bersenang-senang saja, namun ini yang pertama Sandra pergi ke suatu swalayan terbesar di Singapura, karena dua kali mengantar Elana Sandra tidak pergi ke mana-mana.
Lagi pula, baru kali ini suaminya ikut mengantar Elana operasi. Sebelumnya hanya Sandra dan susternya saja karena pekerjaan Jhosua tidak bisa di tinggalkan.
__ADS_1