IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
77. Kejujuran Yang Menyakitkan


__ADS_3

Arga terus memikirkan apa yang di katakan ibu Ema. Dia membaringkan tubuhnya yang terasa lelah sekali hari ini.


Apa yang harus dia lakukan, masalah ini benar-benar membutuhkan pemikiran yang jernih.


"Tiga orang menunggu kejujuranku, apa aku harus jujur dulu sama Anita? Bagaimana jika dia tidak mau menerimanya, jika Marisa adalah mantan istriku. Aku takut Anita akan berubah sikap padaku, aku tidak mau kehilangan dia lagi." gumam Arga.


Tok tok tok


Ibu Ema mengetuk pintu kamar Arga, dia menarik handel pintu dan di bukanya. Ibu Ema melihat Arga sedang berbaring dan wajahnya menghadap ke atas, seolah sedang berpikir. Sehingga dia mengetuk pintu tidak terdengar.


Ibu Ema mendekat dan duduk di tepi ranjangnya. Arga menoleh lalu duduk di samping ibu Ema.


"Kamu sudah memikirkan siapa yang terlebih dulu kamu beri tahu?" tanya ibu Ema.


Arga mendesah, dia menunduk dan kedua tangannya di tangkup ke wajahnya, menutup rapat.


"Aku ngga tahu ma, aku bingung." kata Arga.


"Kata mama lebih baik Anita dulu, biar nanti tidak salah paham jika suatu saat nanti dia tahu dari luar. Mama hanya mengkhawatirkan hubunganmu dengan Anita, dia perempuan yang baik. Sekali pun dia di sakiti berkali-kali oleh Rendi sampai trauma. Tapi dia tetap mau merawat mantan suaminya itu ketika mantannya di rumah sakit.


Dia perempuan baik dan hatinya rapuh. Jika kamu sampai menyakiti dia lagi karena kamu terlambat jujur padanya, kamu keterlaluan Arga. Apa kamu mencintai Anita dengan benar-benar?" tanya ibu Ema.


"Iya ma, aku tidak mau kehilangan dia dua kali. Aku benar-benar mencintai dia, aku ingin menikahinya. Mama tahu apa yang aku lakukan selama ini untuk mempersembahkan semuanya untuk Anita." kata Arga.


"Kalau begitu secepatnya kamu katakan padanya, mama yakin dia akan mengerti dengan keadaanmu. Setelah dengan Anita baik-baik saja, kamu bisa beri tahu Celine tentang Marisa." kata ibu Ema.


Arga terdiam, dia menatap ibu Ema dengan senyumnya mengembang. Memang pemikiran orang tua lebih matang di banding dirinya yang selalu ragu untuk menentukan sikap.Dia lalu memeluk ibu Ema dengan bahagia dan pikiran tenang. Akan dia lakukan sesuai saran ibunya.


Malam ini Arga tidur dengan tenang karena sudah menemukan titik terang permasalahannya.


Dia tidak tahu seperti apa nanti selanjutnya.


_


Malam di tunggu Arga, dia datang ke rumah Anita dengan hati cemas. Namun sedikit tenang, dia memang akan jujur pada Anita malam ini tentang Marisa dan Celine.


Tok tok tok


Arga mengetuk pintu agak keras. Tak berapa lama, pintu terbuka dan terlihat di depan yang membuka bukan Anita, tapi ibu Yuni.


"Anitanya belum tidur bu?" tanya Arga tersenyum ramah.


"Sepertinya belum. Tunggu ibu panggil dulu ya, nak Arga masuk saja." kata ibu Yuni.


"Iya bu, di teras saja." kata Arga.


Ibu Yuni masuk ke dalam memanggil Anita dan Arga duduk di kursi di teras rumah. Dia deg degan mau menghadapi Anita.


Tak berapa lama, Anita keluar dengan membawa secangkir kopi dan cemilan kacang garing.


"Terima kasih, Anita." ucap Arga sambil tersenyum menatap Anita.

__ADS_1


Tapi wajah Anita terlihat datar saja dan seperti ada yang dia simpan. Arga melihat Anita malam ini terasa aneh, tidak ada keceriaan seperti sebelumnya.


"Ada apa?" tanya Arga melihat Anita diam saja.


"Ga, aku mau bicara sama kamu." kata Anita kendahului.


"Bicara apa, sepertinya serius?" tanya Arga.


Perasaannnya tidak enak, tapi dia berusaha tenang dan menghela nafas panjang.


Anita diam, dia ragu mengatakan yang sebenarnya. Arga menunggu dengan sabar, tapi Anita masih belum mau bicara.


"Anita, aku juga mau..."


"Ga, kamu ingat waktu aku cerita tentang perempuan yang aku kenal di pantai dulu?" tanya Anita.


Arga mengerutkan dahinya, mengingat perempuan yang mana Anita ceritakan. Tapi dia belum menemukan perempuan yang mana yang di maksud Anita


"Perempuan yang ketemu di rumah makan, ketika kamu sedang di tolilet." kata Anita lagi.


Arga mencoba mengingat, namun dia anggukan saja agar Anita secepatnya bicara apa sama dia.


"Lalu, apa hubungannnya dengan bicara serius?" tanya Arga lagi.


Perempuan itu janda, Ga. Dia datang ke kampung ini mau menemui anaknya dan ingin meminta maaf pada mantan suaminya yang telah dia hianati dan dia tinggalkan."


Sejenak Anita diam, dia menunduk. Perih sebenarnya, tapi dia harus mengatakan pada Arga lebih dulu. Dan Arga masih diam, masih belum memahami maksud cerita Anita tentang perempuan yang dia maksud.


Baru sampai sini, Arga bisa meraba kemana pembicaraannya. Tapi dia masih diam mendengarkan kelanjutan cerita Anita.


"Dia, Marisa Ga."


Sampai di sini Arga diam terkatup, menunduk. Menerka apakah Anita tahu tentang Marisa? Apakah memang Marisa mantannya? Tapi bukankah ceritanya mirip dengan Marisa yang selama ini ingin di akui anaknya Celine?


Tiba-tiba hati Arga perih, dia tidak menyangka jika Marisa yang Anita maksud adalah mantannya.


"Anita..."


"Dia ingin bicara denganmu Ga, dia mantan kamu kan Ga?" tanya Anita sedikit tercekat tenggorokannya.


"Anita..."


"Bicaralah padanya Ga, dia menunggumu bicara dan ingin di akui Celine kalau dia adalah mamanya."


"Anita...."


Dia sakit Ga, dia sakit karena kamu tidak juga bicara dengannya. Aku..., janji padanya untuk membantunya mengatakan ini sama kamu. Selesaikan masalahmu dengan Marisa." Anita menghela nafas panjang.


Sejujurnya dia sangat berat dan cemburu, namun sebagai perempuan yang merindukan anaknya pasti akan sakit juga jika tidak ada kepastian kapan itu akan terjadi. Di akui anaknya, meski dia yang salah.


Anita menunduk, dia memegang ujung maganya yang terasa hangat.

__ADS_1


Arga memegang tangan Anita, dia bangun dari duduknya dan berjongkok di depan Anita sambil menatap Anita dengan perasaan campur aduk. Dia sedih dan menyesal kenapa tidak secepatnya dia mengatakan sebelumnya pada Anita tentang Marisa ketika Marisa bertemu dengannya di rumahnya.


"Anita, aku minta maaf sama kamu karena tidak secepatnya mengatakan sejujurnya masalah Marisa. Tapi sungguh, aku tidak ada maksud menyembunyikan dari kamu. Aku datang malam ini untuk jujur padamu, Anita." ucap Arga masih menatap Anita yang tiba-tiba menangis.


Arga mencium tangan Anita, berharap Anita mengerti dengan kegelisahannya selama ini.


"Marisa tahu kalau kamu dekat denganku Ga, makanya dia minta padaku untuk mengatakan ini padamu, Ga. Aku pikir memang sebaiknya kamu bicara pada Marisa dan juga Celine. Celine harus tahu kalau Marisa itu mamanya."


"Tapi dia yang salah, Anita. Dia yang meninggalkan aku dan Celine sejak masih butuh asi mamanya." kata Arga meyakinkan Anita kalau dia memang tidak berharap Marisa hadir di hidupnya lagi.


"Apa kamu menyesal di tinggal oleh Marisa?"


Pertanyaan Anita membuat Arga tercekat, Anita salah paham dengan ucapannya. Arga menggeleng, dia memegang tangan Anita erat.


"Tidak Anita, aku tidak pernah menyesal di tinggal olehnya. Aku menyesal ketika aku tidak bisa mengatakan cinta waktu itu Anita."


"Tapi kamu menikah dengannya dan mempunyai Celine, Ga."


"Itu karena aku putus asa kamu sudah menikah lebih dulu dengan Rendi. Aku..."


"Marisa masih berharap dia bisa kembali padanmu, Ga."


Arga menghela nafas panjang, tidak semestinya dia bertengkar dan membahas masa lalu. Dia akan bicara dengan Marisa dan memberitahukan kalau dia adalah mamanya Celine, demi Anita.


"Aku akan bicara dengan Marisa dan membawa Celine juga. Aku akan memberitahu Celien kalau dia adalah mamanya." kata Arga menegaskan diri bahwa dia mau melakukan itu demi Anita.


Demi Anita, dia tidak mau Anita sakit hati lagi. Dia akan lakukan apapun yang Anita mau.


Arga masih memengang tangan Anita, dia menatap Anita yang masih diam dan menunduk. Di angkatnya dagu Anita, agar dia bisa melihat wajah Anita. Dan dia perih melihat Anita menangis, Arga memghapus air mata Anita yang belum sempat menetes.


Cepat-cepat menyudahi kesedihannya, bukan seperti ini yang dia harapkan. Tapi mengatakan kejujuran itu sangat menyakitkan.


Anita berdiri, dia Arga pun mengikutinya berdiri. Dia menghela nafas panjang, dan menatap Arga lalu tersenyum padanya.


"Lakukanlah Ga, tidak baik menahan masalah yang tidak pasti kapan selesainya. Setidaknya kamu menyelesaikannya sekarang, bisa menringankan bebanmu juga Marisa." kata Anita memcoba tegar.


"Ya, minggu ini aku akan bawa Celine menemuinya. Aku akan lakukan apa yang kamu katakan." kata Arga.


"Jangan karena aku, Ga. Setidaknya Celine tahu mamanya masih ada dan mencarinya."


"Ya, aku tahu. Aku juga ingin secepatnya ini selesai."


Keduanya berpelukan, mencoba menenangkan hati masing-masing. Mencoba memahami pikiran masing-masing, dan berharap semuanta cepat selesai.


_


_


_


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2