IKHLAS MELEPASMU

IKHLAS MELEPASMU
155. Keinginan Evan


__ADS_3

Evan masih berpikir bagaimana dia bisa menemui anaknya, Elana. Sandra mungkin bersama Elana, tapi bagaimana dia bisa bertemu dengan anaknya itu.


Apakah Sandra memberinya izin untuk bertemu dengan anaknya?


"Tapi Elana itu anakku, kenapa Sandra memghalangiku untuk bertemu dengan anakku?" gumam Evan.


Kini dia tepat di depan rumah Sandra, memperhatikan rumah besar itu dari dalam mobilnya. Dia belum berani ke rumah Sandra saat ini.


Dia melirik jam di tangannya, masih pukul delapan pagi. Biasanya Sandra berangkat ke butik itu jam sembilan. Jadi dia akan menunggu Sandra pergi dulu, lalu dia akan ke rumah Sandra. Pastinya ada pembantunya dan kemungkinan Elana ada di rumah itu.


Lama juga Evan menunggu, sampai dia pergi dulu untuk membeli makanan untuk sarapan.


Saat dia sedang memantau rumah Sandra, telepon berbunyi dari ponselnya.


Evan kaget, dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata ibunya.


Ya, ibunya meminta Evan membawa anaknya Elana. Ibunya Evan tidak tahu kalau Elana sakit jantung, makanya dia tidak mau memberitahu pada ibunya.


"Halo ma, ada apa?" tanya Evan.


"Kamu sudah bilang sama Mourin kalau Elana kamu bawa ke Sematera?" tanya ibunya Evan.


Evan diam, dia berpikir bagaimana jika nanti Sandra tidak memberinya izin.


"Van, apa Mourin memberimu izin?" tanya ibunya lagi.


"Emm, aku belun ketemu Mourin ma. Mama sabar aja, nanti kalau bisa si bawa Evan kabari mama ya." kata Evan berbohong.


Orang tua Evan tahu kalau anaknya dan Mourin bercerai dan menikah dengan orang Rusia. Tapi tidak tahu keadaan Mourin sekarang dan Elana bagaimana. Evan bercerita pada ibunya kalau Elana baik-baik saja dengan Mourin dulu.


Tapi kenyataannya sangat berbeda, Mourin di penjara dan anaknya harus operasi by pas jantung.


Dia merasa kasihan dan bersalah, apakah dia bisa bertemu anaknya nanti?


Satu mobil keluar dari dalam rumah, Evan masih memantau rumah Sandra. Dia yakin itu adalah Sandra yang keluar dari rumahnya.


Dengan menarik nafas panjang, Evan kini siap ke rumah Sandra dan bertemu dengan Elana. Sudah hampir tiga tahun dia tidak melihat Elana, rasanya bagaimana jika Elana melihat papanya ada di hadapannya untuk menemuinya.


Evan melangkah pasti menuju gerbang besar rumah Sandra. Dia tahu itu adalah rumah suaminya, rumahnya sendiri tidak sebesar itu.


Evan mendorong pintu pagar rumah besar itu dan masuk dengan percaya diri, namun dia di hampiri oleh satpam penjaga rumah Sandra.


Dia pikir tidak ada satpamnya, jadi dia hanya masuk saja tanpa permisi.


"Selamat siang pak, ada apa yang masuk rumah tanpa permisi lagi sama saya?" tanya satpam itu.


"Oh, kaaf pak satpam. Saya kira tidak ada penjaganya, jadi saya masuk saja. Saya ingin bertemu dengan ibu Sandra." kata Evan berpura-pura, padahal dia tahu Sandra baru saja keluar.


"Bapak siapa ya kalau boleh tahu, apa kepentingannya dengan ibu Sandra?" tanya satpam dengan penuh selidik.


"Oh, saya temannya. Kebetulan anak saya ada di rumah majikanmu. Saya ingin bertemu dengannya, bolehkan saya bertemu dengan anak saya?" tanya Evan lagi.


"Anak yang mana ya pak? Setahu saya bu Sandra baru hamil, dan di pastikan itu anaknya pak Jhosua." kata satpam.


Evan bingung, lalu di manakah Elana? Kenapa satpam ini tidak tahu di rumah Sandra ada Elana? pikir Evan.


"Emm, apa bapak tidak tahu di rumah bu Sandra ada anak kecil berumur delapan tahun?" tanya Evan memastikan.


"Saya belum pernah melihat anak kecil yang bapak sebutkan itu, jadi mungkin bapak salah alamat. Mungkin rumah di ujung sana memang ada anak kecilnya sesuai yang bapak sebutkan." jawab satpam lagi.


Evan kembali diam, lalu waktu dia melihat Sandra menggandeng anak kecil ke lapas itu siapa? Dia yakin yang di bawa Sandra saat itu adalah Elana.

__ADS_1


Salahnya kemarin dia tidak langsung mengejar Sandra.


"Bagaimana pak? Apa masih yakin dengan pertanyaan bapak tentang anak kecil itu? Kalau masih penasaran, nanti saya tanyakan pada bu Sandranya. Kebetulan bu Sandra sedang keluar, tapi sebentar lagi pulang kok." ucap satpam itu lagi.


Evan ragu, masihkah dia mencari Elana di rumah Sandra? Atau kemana?


Waktunya sudah tidak mungkin, tiga hari lagi dia harus berangkat ke Rusia. Dia semakin bingung dengan permintaan ibunya untuk membawa Elana ke Sumatera.


"Ya sudah pak, lain kali saya datang lagi bertemu langsung dengan ibu Sandra. Hari ini saya ada keperluan mendadak." kata Evan beralasan.


"Iya pak, silakan."


Lalu Evan keluar dari rumah besar milik Sandra itu, sekali lagi dia menengok ke arah rumah itu. Terlalu sepi memang jika rumah itu ada anak kecil. Setidaknya ada suara tawa atau lari-larian Elana di teras atau di depan rumah.


Tapi rumah Sandra sepi sekali, kemudian Evan benar-benar keluar dari rumah Sandra dan dia masuk ke dalam mobilnya.


Tak lama, dia melajukannya dengan kecepatan sedang menuju hotel di mana dia menginap.


_


Evan sungguh bingung, bagaimana dia akan bertemu Elana. Kemana dia mencarinya? Waktunya semakin sempit, dua hari lagi dia harus ke Rusia. Dia sudah berjanji harus tepat waktu pulang ke negara istrinya.


Jalan satu-satunya yaitu bertemu Sandra, dia harus bertemu Sandra secepatnya.


Lalu dia pun kembali menaiki mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju butik Sandra. Dia tidak peduli jika Sandra akan memarahinya lagi bahkan menamparnya lagi.


Setidaknya dia hanya bertemu dengan anaknya saat ini.


setengah jam dari hotel dia menginap, Evan akhirnya sampai juga di butik Sandra. Dia memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil hitam milik Sandra.


Karena ini sudah siang, jadi kemungkinan besar Sandra ada di butiknya.


Dia masuk ke dalam butik yang kebetulan sedang ramai. Memang pegawai Sandra yang menangani, namun dia juga merasa tidak enak jika datang di saat butik sedang ramai.


"Mbak, apakah ibu Sandra ada di ruangannya?" tanya Evan.


"Ada, bapak mencari ibu Sandra?" tanya pelayan itu.


"Iya, saya ingin bertemu dengan ibu Sandra." jawab Evan.


"Tunggu sebentar ya pak, barangkali ibu Sandranya sedang banyak pekerjaan atau tidak. Kalau banyak pekerjaan sudah di pastikan anda tidak bisa bertemu ibu Sandra sekarang." kata pelayan itu lagi.


"Katakan saja saya Evan mau bertemu dengan ibu Sandra." kata Evan, dia berharap Sandra mau menemuinya jika namanya di sebut.


"Baik pak, tunggu sebentar."


Pelayan itu melangkah meninggalkan Evan yang tidak sabar ingin bertemu dengan Sandra.


Dan tak lama, pelayan itu datang lagi dengan membawa kabar bahwa dia sudah bisa bertemu dengan Sandra.


"Bapak silakan masuk ke dalam ruangan ibu Sandra. Beliau menunggu anda."


"Terima kasih."


Evan mengikuti langkah pelayan itu, dia berhenti ketika pelayan mengetuk pintu dan membukanya pelan.


"Sialakan pak Evan,bu Sandra sudah menunggu anda."


Evan mengangguk cepat, lalu dia masuk lebih dalam. Dan ternyata Sandra sedang duduk santai namun tatapannya pada Evan. Seah mengintimidasi kedatangan Evan.


"Silakan duduk." kata Sandra dengan sopan.

__ADS_1


"Terima kasih." jawab Evan.


Dia merasa aneh dengan sikapnya sekarang, berbeda dengan dulu waktu bertemu di Singapura. Sangat kasar dan penuh emosi. Sekilas Evan menatap Sandra yang sedang menatapnya datar.


Sandra tahu Evan mencari Elana. Dia tahu dari Mourin ketika dia menjenguk empat hari yang lalu. Dia juga di beri pesan oleh Mourin jika Evan ingin bertemu dengan anaknya, jangan di kasih tahu.


Dia ingin Evan tahu, betapa susahnya mengasuh dan merawat Elana. Tapi dia tiba-tiba datang dan ingin bertemu dengan Elana, tidak semudah itu bagi Sandra dan Mourin.


"Sandra, apa kabar?" tanya Evan berbasa basi.


"Gue baik, kamu sendiri bagaimana? Dan istrimu?" Sandra balik bertanya.


"Oh, gue baik-baik saja. Dan istriku juga." jawab Evan.


Entah kenapa dia merasa canggung untuk bertanya lebih jauh tentang Elana. Karena sikap Sandra yang datar saja.


"Lo mau apa ketemu sama gue?" tanya Sandra langsung pada intinya.


"Emm, gue pengen ketemu Elana San." jawab Evan lirih.


"Lalu, udah ketemu dengan Elana?" tanya Sandra.


"Belum, makanya gue pikir Elana sama lo. Jadi gue menemui lo kesini." jawab Evan.


"Oh ya, kemarin lo datang ke rumah gue. Kata satpam lo juga mencari gue dan anak kecil yang lo maksud Elana itu. Lo tahu kan jawaban dari satpam itu, bahwa di rumah gue ngga ada anak kecil. Lalu kenapa kamu yakin ada Elana sama gue?" tanya Sandra.


"Tapi waktu lo menjenguk Mourin ke lapas, gue lihat lo keluar sama anak kecil dan gue yakin itu Elana. Lo tidak hamil dan langsung punya anak sebesar usia Elana kan?" kata Evan.


"Itu keponakan mas Jhosua, lo pikir hanya Elana aja yang seusian delapan tahun yang gue bawa?".


"Tapi gue yakin lo bawa Elana waktu itu. Di mana Elana, Sandra?"


"Sekarang gue tanya, kenapa lo mau bertemu dengan Elana?" tanya Sandra.


"Elana itu anak gue, kenapa harus di tanyakan? Gue ingin ketemu Elana, Sandra."


Sandra mendengus kesal, sebenarnya dia ingin sekali mendamprat Evan lagi sepuasnya, namun suaminya memintanya harus sabar dan jangan marah-marah. Karena dia sedang hamil besar.


"Dengar ya Evan, gue tahu lo itu ayahnya Memang wajar ayahnya ingin bertemu dengan anaknya. Lo pikir lagi, setelah lo menikah lagi dengan orang Rusia itu Lo ingat ngga? Lo ingat Elana ngga saat kebahagiaan lo mendapatkan istri baru cantik, kaya raya dan perempua bule. Lo ingat Elana ngga? Dan setelah menikah selama dua tahun lo tinggal di Rusia, lo ingat dan memikirkan bagaimana nasib Elana? Bagaimana dia makan? Bagaimana dia menahan sakit selama bertahun-tahun jantungnya bengkak. Dan setelah lo tahu waktu itu dari Elana di operasi, ada niat lo mengirimi uang untuk pengobatan Elana? Gue tahu lo kepikiran tentang Elana saat itu, tapi lo tidak pernah berpikir untuk mengiriminya uang untuk berobat. Lo tahu berapa operasi dan beobat Elana selama ini?" kata Sandra panjang lebar, agar Evan tahu kesalahannya bukan hanya meninggalkan Mourin, tapi juga menelantarkan anaknya.


Dan Evan terdiam, dia menunduk dalam. Apa yang di katakan Sandra itu benar adanya.


Dia hanya memikirkan dirinya saja, tanpa ingat Elana. Dia juga tidak tahu kalau Elana sakit jantung.


"Gue baru tahu jika Elana itu sakit jantung dan harus di operasi." ucap Evan lirih.


"Dari gue ngomong sama lo itu enam bulan yang lalu, tapi baru kali ini lo mencari Elana. Bahkan lo juga tidak mencari tahu dari mana uang untuk operasi Elana dan pengobatannya. Dan lo bilang lo ayahnya? Ayah macam apa lo itu?" kata Sandra sinis.


Evan diam lagi, sejujurnya dia ingin tahu waktu itu, namun dia terlalu malu untuk bertanya pada Sandra.


"Gur hanya ingin melihat Elana saja. Lusa gue harus kembali ke Rusia, gue mohon lo pertemukan gue dengan Elana." kata Evan, dia mencoba membujuk Sandra.


Dan Sandra hanya diam saja, tanpa menyetujui atau pun melarangnya. Dia masih kesal pada Evan.


Lalu Evan bangkit dari duduknya, dia menatap Sandra yang sedang sibuk mencoret-coret gambar rancangannya.


Tanpa permisi, Evan pergi dari ruangan Sandra. Memang benar apa yang di katakan suaminya, bahwa bicara dengan pelan dan tanpa emosi, Evan akan semakin sadar dengan kesalahannya.


_


_

__ADS_1


_


❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2